MEMBACA AL-QURAN DI QUBURAN

Membaca Al-Quran di pemakaman telah menjadi kebiasaan umat
islam sejak dari zaman shahabat g sampai saat ini. Membaca
Al-Quran tergolong amalan baik, hal ini ditinjau dari sudut
kacamata agama. Namun kadang-kadang ada sebagian
kelompok sengaja menyudutkan pemahaman ini dengan cara
menulis hal-hal tersebut dengan menggunakan kelicikan mereka.
Mereka menuliskan hadits wasiat ibnu Umar a tentang membaca
Quran di pemakaman itu adalah tidak sahih. Nah benarkah
status hadits tentang “Wasiat Ibnu Umar” bila ia mati agar
dibacakan suratul Ikhlas dan ayat-ayat terakhir dari surat Al-
Baqarah itu seperti yang mereka tulis di internet itu?
Jawab:
Dalam hal ini Wahabi menggunakan kata-kata licik. Mereka
mengatakan hadits ini tidak shahih. Agar orang-orang tidak
memperdulikannya. Memang kami juga mengatakan hadits ini
tidak shahih. Tapi bukanlah berarti hadits ini dha’if, apa lagi
hadits palsu. Untuk lebih jelasnya lihatlah kitab al-Azkar hlm
206: Imam an-Nawawi v mengatakan:
ﻭَﺭَﻭَﻳْﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺳُﻨَﻦِ ﺍﻟْﺒَﻴْﻬَﻘِّﻰِّ ﺑِﺈِﺳْﻨَﺎﺩٍ ﺣَﺴَﻦٍ ﺃَﻥَّ ﻋُﻤَﺮَ ﺇِﺳْﺘَﺤَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟـــﺪَّﻓْﻦِ
ﺃَﻭَّﻝَ ﺳُﻮْﺭَﺓِ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻭَﺧَﺎﺗِـــﻤَﻬَﺎ
Telah kami riwayatkan dalam sunan Al-Baihaqqi dengan sanat
Hasan (ini hadits hasan) bahwa Ibnu Umar mensunahkan
membaca awal dan akhir dari surat Baqarah di atas qubur
setelah mayyit dikebumikan.
Dan ternyata Al-Khalal dari As-Sya’bi berkata, tertulis dalam
kitab “Ar-Ruh” hlm 11 juga diterangkan demikian.
ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﺎَﻧْﺼَﺎﺭُ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﻟَﻬُﻢْ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖُ ﺇِﺧْﺘَﻠَﻔُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭْﻥَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺃَﻥِ
Jika ada sahabat dikalangan Anshar meninggal dunia, mereka
berkumpul secara bergantian di depan kuburnya sambil
membaca al-Quran.
Bagi anda yang wahabi, tentu tahu siapa penulis kitab “Ar-
Ruh” ini. Jadi apakah anda masih mengingkarinya?
Pertanyaan:
Apakah ada suatu “Nas” dari nabi tentang bolehnya
mensedekahkan pahala bacaan? Sebab di masyarakat kita,
orang orang membaca bukan hanya al-Quran saja tetapi ada
tasbihnya, ada tahmidnya, ada takbirnya dan ada juga
tahlilnya?
Jawab:
Sebenarnya semua itu sudah kita bahas pada masalah
sebelumnya. Namun disini kami perkuat lagi dalilnya. Dalam
Shahih Muslim (1674) disebutkan yang haditsnya berbunyi:
ﻋَﻦْ ﺍَﺑِﻰ ﺫَﺭٍّ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻥَّ ﻧَﺎﺳًﺎ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ
ﻟِﻠﻨَّﺒِﻰِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺫَﻫَﺐَ ﺍَﻫْﻞُ ﺍﻟﺪُّﺛُﻮْﺭِ ﺑِﺎﻟْﺎُﺟُﻮْﺭِ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻧُﺼَﻠِّﻰ
ﻭَﻳَﺼُﻮْﻣُﻮْﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻧَﺼُﻮْﻡُ ﻭَﻳَﺘَﺼَﺪَّﻗُﻮْﻥَ ﺑِﻔُﻀُﻮْﻝِ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﻗَﺎﻝَ :
Dari Abu Dzar a, Ada beberapa sahabat berkata kepada Nabi
` , “Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya bisa (beruntung)
mendapatkan banyak pahala. (padahal) mereka shalat seperti
kami shalat. Mereka berpuasa seperti kami berpuasa. Mereka
bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Nabi ` , menjawab:
ﺃَﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺗَﺼَﺪَّﻗُﻮْﻥَ؟ ﺇِﻥَّ ﺑِﻜُﻞِّ ﺗَﺴْﺒِﻴْﺤَﺔٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﻜْﺒِﻴْﺮَﺓٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ
ﺗَﺤْﻤِﻴْﺪَﺓٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﻬْﻠِﻴْﻠَﺔٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً
Bukankah Allah l telah menyediakan untukmu sesuatu yang
dapat kamu sedekahkan? Sesungguhnya setiap satu tasbih
(yang kamu baca) adalah sedekah, setiap takbir adalah
sedekah, setiap tahmid adalah sedekah dan setiap tahlil adalah
sedekah.
Dalil ini menunjukan bahwa, bolehnya menyedekahkan bacaan
selain Al-Quran. Maka lengkaplah kita lihat didalam perwiritan.
Disana ada seperti yang disebutkan dalam hadits ini bahkan
termasuk menyedekahkan makanan. Karena makanan mewakili
kata-kata “harta” dalam hadits diatas. Wallahu A’lam.
Bahkan dalam Musnad Imam Ahmad bin Hambal (19415)
disebutkan sebuah hadits :
ﻋَﻦْ ﻣَﻌْﻘِﻞْ ﺑِﻦْ ﻳَﺴَﺎﺭٍ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: ﻳــﺲ ﻗَﻠْﺐُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍَﻥِ ﻻَﻳَﻘْﺮَﺅُﻫَﺎ
ﺭَﺟُﻞٌ ﻳُﺮْﻳْﺪُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﺍﻟﺪَّﺍﺭَ ﺍﻟْﺎَﺧِﺮَﺓَ ﺍِﻻَّ ﻏُﻔِﺮَ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﻗْﺮَﺅُﻫَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ
Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar a , Bahwa Rasulullah `,
bersabda: Surat Yasiin adalah intisari Al-Quran, tidakkah
seseorang yang membacanya dengan mengharap Rahmat Allah
l, kecuali Allah l akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah
surat Yasiin atas orang-orang yang telah mati diantara kamu
sekalian. Wallahu A’lam
Pertanyaan:
Bolehkan membaca Al-Quran di pemakaman dengan menerima
Upah?
Jawab:
Upah mengupah dengan ‘aqad untuk pembacaan Al-Quran itu
hukumnya Mubah, perbuatan yang mubah tentunya shah
dilakukan sedangkan hasilnyapun adalah halal. Adapun
pendapat yang mengatakan terlarangnya perbuatan tersebut
tentunya sangat tidak berdasar. Sekali lagi kami katakan tidak
berdasar, sebab tidak ada Nas yang melarangnya. Andaikan itu
suatu kesalahan tentulah Nabi yang terlebih dahulu
melarangnya, dan inilah maksud Surat Hasyar Ayat 7:
dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah
Dalam kitab I’anatuth-Thalibin Juz 3 Hlm 112 disebutkan begini:
ﻗَﺎﻝَ ﺷَﻴْﺨُﻨﺎَ ﻓِﻰ ﺷَﺮْﺡِ ﺍﻟْﻤِﻨْﻬَﺎﺝِ: ﻳَﺼِﺢُّ ﺍْﻻِﺳْﺘِﺌْﺠﺎَﺭُ ﻟِﻘِﺮَﺃَﺓِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍَﻥِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ .
Artnya: berkata guru kami di dalam Syarhil Minhaaj: Shah upah
mengupah untuk pembacaan Al-Quran di perkuburan.
Sedangkan hadits yang berkenaan dengan ini, adalah hadits
yang ditarjihkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas a bahwa pernah
Rasulullah ` bersabda:
ﺍِﻥَّ ﺍَﺣَﻖَّ ﻣَﺎﺍَﺧَﺬْﺗُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﺟْﺮًﺍ ﻛِـﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ .
Artinya: Sesungguhnya yang paling berhak kamu ambil upah
darinya adalah Kitabullah.
Mungkin terpikir oleh kita, bahwa yang dimaksud dengan kata-
kata “ajran” dalam hadits di atas bukan upah tetapi pahala,
namun asbabul wurud sabda Nabi ini tidak memungkinkan untuk
memberi makna “ajran” disini dengan pahala, tetapi yakinlah
artinya adalah upah atau bayaran.
Perhatikan baik-baik!
ﻋَﻦْ ﺍِﺑْﻦُ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺍَﻥَّ ﻧَﻔَﺮًﺍﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﺮُّﻭْﺍ ﺑِﻤَﺎﺀٍ ﻓِﻴْﻬِﻢْ ﻟَﺪِﻳْﻎٌ
ﺍَﻭْﺳَﻠِﻴْﻢٌ ﻓَﻌَﺮَﺽَ ﻟَﻬُﻢْ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺍَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻫَﻞْ ﻓِﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺭَﺍﻕٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﺭَﺟُﻼً ﻟَﺪِﻳْﻐًﺎ
ﺍَﻭْﺳَﻠِﻴْﻤًﺎ ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَﻖَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻓَﻘَﺮَﺃَ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﺎﺀٍ ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺑِﺎﻟﺸَّﺎﺀِ ﺍِﻟَﻰ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﻓَﻜَﺮِﻫُﻮْﺍ
ﺫَﺍﻟِﻚَ ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺍَﺧَﺬْﺕَ ﻋَﻠَﻰ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍَﺟْﺮَﺍ؟ ﺣَﺘَّﻰ ﻗَﺎﺩِﻣُﻮْﺍﺍﻟْﻢَﺩِﻳْﻨَﺔَ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻳَﺎﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍَﺧَﺬَ ﻋَﻠَﻰ
ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍَﺟْﺮًﺍ : ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍِﻥَّ ﺍَﺣَﻖَّ ﻣَﺎﺍَﺧَﺬْﺗُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﺟْﺮًﺍ ﻛِﺘَﺎﺏُ
ﺍﻟﻠﻪِ .
Artinya: diriwayatkan dari Ibnu Abbas a bahwa serombongan
shahabat-sahabat Nabi ` melewati pada sebuah tempat yang
ada air. Dimana ada orang disitu yang kena sengat, maka
datanglah kepada mereka itu, seorang laki-laki dari ahli
kampung tempat air itu, seraya katanya: apakah ada orang
diantara kamu yang dapat bermantera, karena ditempat air ini
ada seorang laki-laki yang kena sengat. Maka datanglah laki-
laki dari mereka membacakan “fatihatul kitab” atas upah
sehimpunan kambing. Maka datanglah ia membawa kambing-
kambing itu kepada teman-temannya. Tetapi mereka itu tidak
menyukainya, dan mereka berkata: kamu mengambil upah untuk
membaca kitabullah? Sampai mereka itu datang ke Madinah,
berkatalah mereka: Ya Rasulullah. Dia mengambil upah atas
kitabullah.
Maka sabda Rasulullah ` :
ﺍِﻥَّ ﺍَﺣَﻖَّ ﻣَﺎﺍَﺧَﺬْﺗُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﺟْﺮًﺍ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ .
Artinya: yang paling berhak kamu mengambil upah dari
padanya adalah kitabullah. (HR. Bukhari)
Hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan juga oleh jamaah
kecuali An-Nasa’i. Wallahu A’lam.
Pertanyaan:
Apakah hal ini tidak dikatakan menjual ayat?
Jawab:
Jual adalah: “menyerahkan sesuatu dengan tukaran sesuatu
yang lain”. Seperti si Ahmad menjual pisang pada si Hasan.
Maka si Hasan mendapatkan pisang sedangkan Ahmad
mendapatkan uang. Sedangkan membaca Al-Quran di
pemakaman dengan memakai upah tidak ada sangkut pautnya
dengan kata-kata jual. Sebab ayat tidak ada yang membelinya
dan tidak ada juga yang menjualnya. Hanya jasa untuk
membacanya saja. Kalau masalah ini ingin di perpanjang, malah
yang sangat mirip dengan itu adalah “TOKO KITAB”. Sebab
mereka menjual buku dan kitab termasuk Al-Quran, dan kalau
hal ini dikatakan jual ayat tentu seluruh yang membelinyapun
termasuk dosa. Sebab telah bersepakat dalam kebatilan. Wahai
wahabi yang ada, apakah dirumah anda ada al-Quran? kalau
ada darimana anda dapatkan..? tentu dari toko itu bukan?
Apakah hukum menjualnya itu haram? Kalau iya, berarti anda
yang membelinyapun termasuk haram juga. Sebab tidak
mungkin ia menjual kalau tidak ada pembelinya. Begitukah cara
kalian memahami agama ini? Kalau begitu sangat sesatlah
kalian. Wallahu A’lam.

(Sumber : https://m.facebook.com/groups/164811163702179?view=permalink&id=189554454561183&refid=18&_ft_)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar