HUKUM PESIJUK (TEPUNG TAWAR)

Pesijuk (Tepung Tawar) ini sering dituding oleh DAJJAL yang
berkedok Ulama  sunnah) sebagai perbuatan syrik (penegak dan
bid’ah. Kenapa kami katakan demikian, sebab akal mereka tidak
digunakannya untuk menimbang perbuatan tersebut kepada
hukum Allah yang lima. Mereka langsung mengatakan bid’ah,
khurafat, syirik dan lafadz-lafadz kufur lainnya. Setelah kami
kumpulkan tudingan mereka terhadap pelaksanaan tepung tawar
ini, akhirnya kami simpulkan menjadi 5 macam.
1. Mereka mengatakan Kafir. Alasannya adalah, “setiap yang
menyerupai kaum yang lain dikatakan sama”. Menurut mereka
acara ini adalah budaya Hindu. Maka tentu pelakunya termasuk
Hindu.
2. Mereka mengatakan Syirik. Alasannya adalah, “oleh karena
pelakunya berkeyakinan Islam dan ketika telah menyerupai
Hindu, tentu mereka menjadi syirik.
3. Mereka mengatakan Bid’ah. Alasannya adalah, hal ini tidak
dicontohkan nabi. Menurut mereka setiap yang tidak dibuat
nabi itu adalah bid’ah dan sesat.
4. Mereka mengatakan Haram. Alasannya adalah, sesuatu yang
telah menjadi bid’ah, hukum melakukannya adalah dosa
(haram).
5. Mereka mengatakan Mubazir. Alasannya adalah, pemborosan.
benda itu akan terbuang begitu saja, sia-sia, dan tidak ada
manfaatnya.
Kalaulah mereka bukan DAJJAL, tetapi manusia yang berakal
sehat, tentu tidaklah mengatakan demikian.
Padahal dalam kitab sirah Ibnu Hisyam, hadits riwayat Imam
Bukhari, bahwa Rasulullah ` pernah memercerikkan air kepada
Ali dan Fatimah, ketika pernikahannya.
Sebagian mereka mengatakan hanya “mubazir saja”. Kalau
orang berkata pesijuk itu perbuatan yang Mubazir, itu salah
besar, sebab Rasulullah ` melakukannya. Kalau demikian juga,
berarti mereka terlebih lebih lagi sudah tidak waras (akalnya)
sebab telah menuduh Rasulullah ` melakukan sesuatu yang
berkaitan dengan pekerjaan Syaithan. Naudzubillah…!
Pernah saya dialog dengan salah seorang pengikut aliran
Muhammadiah yang sering ngaji pada kelompok Salafy.
Katakanlah namanya si A-A.
Awalnya dia berkata begini, “Pak Ustadz! Menurut anda apakah
pesijuk itu dibolehkan dalam agama?” Saya berkata “Ya. Boleh”
Lalu disambungnya begini,” Agama siapa, Kita atau Hindu?”
Saya jawab, Agama Islam. Dia bertanya lagi: Apakah ada
dalilnya?
Akhirnya kami pun berbicara masalah itu panjang lebar. Maka
disini saya buat seperti tanya jawab agar para pembaca mudah
memahaminya. Sebelumnya saya bertanya kepada A-A.
Saya : Menurut anda, apakah tepung tawar ini budaya Hindu?
A-A : Ya. Makanya kami sangat melarang hal tersebut karena
sangat menyerupai amalan mereka. Bukan itu saja, amalan
tersebut juga dilakukan dukun.
Saya: Apakah boleh meruqiyah dengan menggunakan air?
A-A: Ya, boleh (katanya).
Saya: Bukankah air juga digunakan Hindu dan dukun,, mengapa
kalian membolehkannya?
Perhatikan ini!!
HINDU DAN DUKUN MUSLIM
Menggunakan: Menggunakan:
* Air ~ Air
* Minyak wangi ~ Minyak wangi
* Bunga ~ Bunga
* Menyan ~ Menyan
Ternyata, dukun dan Hindu menggunakan air, kita juga sama.
Hindu dan dukun menggunakan minyak wangi, kita juga sama.
Mengapa ketika anda mengunakan air dan minyak wangi, anda
tidak samakan diri anda dengan Hindu dan dukun, Padahal
anda dan dukun ada persamaannya?
Kenapa bunga dan menyan saja yang anda kritik? Apa yang
membuat anda sangat benci dengan dua ciptaan Allah ini?
Apakah anda lupa membaca ayat ini!!

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk
kamu
Dalam ayat ini, semua ciptaan allah itu halal. Tidak ada yang
milik dukun, mengapa anda membencinya??
Perhatikan lagi!!
Saya : Rasulullah ` melakukan hal tersebut ketika pernikahan
putrinya Siti Fatimah s dengan Ali bin Abi Thalib a.
A-A : Apa yang dilakukan Rasululullah itu?
Saya : Beliau meminta Fatimah agar membawakan segelas air,
lalu beliau meludahkan air itu dan beliau memercikkannya ke
Fatimah dsb. Bukan hanya kepada putrinya tetapi juga kepada
Ali menantunya itu.
A-A : Dalam riwayat itu Rasulullah ` memercikan air dengan
tangannya, Nah mengapa orang sekarang dengan rerumputan?
Saya : Kalau dengan kuas, nanti membuat anda jadi
kebingungan. Tolong dipahami, walaupun dengan tumbuh-
tumbuhan, namun tetap dengan tangan juga bukan dengan
kaki. Dimana salahnya, tolong tunjukkan?
A-A : Tidak mencontoh Rasul.
Saya: Sunnahnya ada apa tidak?
AA : Ada tapi bercampur dengan bid’ah.
Saya: Okey, Rasulullah shalat memakai jubah dan Syorban,
orang sekarang shalat memakan baju puntung dan tidak
berpeci. Apakah shalat yang seperti itu dibolehkan agama?
A_A : Ya.
Saya: Pernahkah Rasulullah shalat memakai baju puntung
seperti orang sekarang itu?
A_A: Tidak.
Saya: Apakah orang yang shalat dengan memakai baju puntung
itu dikatakan bid’ah?
A_A: Tidak.
Saya: Kenapa tidak? Bukankan telah bercampur antara Sunnah
dengan bid’ah. Anda tidak setuju dengan tepung tawar karena
telah bercampur dengan bid’ah yaitu: air dan dedaunan.
Mengapa disini anda katakan tidak?
A-A: Menurut hukum fiqih tidak demikian.
Saya: Bukankah kita telah sepakat agar berbicara berdasarkan
Quran dan Sunnah, mengapa anda berkata hukum fiqih. Kalau
memakai hukum fiqih kita tidak berhujjah begini. Kan anda
yang selalu menantang kami dengan menanyakan dalil dan
sebagainya, mengapa anda mentok juga? Ketika kami
menunjukan kitab anda bertanya hadits, ketika berhujjah
begini anda berkata hukum fiqih, anda ini orang apa setan
sih? !!!! . . . Baiklah . . .
Apakah dalam kelompok kalian ketika memestakan seseorang
telah mengikuti Rasul?
Disini dia terdiam. Terlebih lebih ketika saya berkata: Kalau
memang kalian sebagai ummat yang selalu mengikuti Sunnah
Nabi, mengapa kalian tidak membuat seperti apa yang dilakukan
Nabi ketika menikahkan putrinya itu? Dia tidak menjawab.
Akhirnya dia mengalihkan pembicaraan, pertama dia berkata
begini:
A-A : Kalau begitu berarti Islam dipermudah?
Saya : Anda kalau ingin bicara tolong pikirkan dahulu, Jangan
asal bicara. Dalam surat Surat Al-Hajj ayat 78 berbunyi:
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam Agama suatu
kesempitan.
Dalam al-Baqarah ayat: 185
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu.
Itulah sebabnya hadits dari jabir, bahwa Rasulullah ` bersabda:
ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺑُﻌِﺜْﺖُ ﺑِﺎﻟْﺤَﻨِﻔِﻴَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻤْﺤَﺔِ ﻭَﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻒَ ﺳُﻨَّﺘِﻰ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻰ
Hanya sanya aku diutus dengan agama yang lurus lagi penuh
toleran. Dan barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka
bukanlah dari umatku.
Perhatikan!! Dari tadi saya bicara menggunakan dalil. Tapi
sepertinya anda tidak menghiraukannya. Jawaban saya ini
sunnah apa bukan? Kalau sunnah, kenapa tidak diakui. Dan
kalau bukan, tunjukkan mana sunnahnya? Sekarang yang
mengada-ada itu siapa, saya atau anda? Kalau anda tidak
mengada-ada tunjukkan mana dalilnya? Kalau tidak ada
dalilnya apakah bukan mengada-ada namanya?!!
Kalian telah mendahului Allah dalam menetapkan hukum. Sebab
kalian telah mengharamkan tepung tawar itu. Apakah kalian
lupa dengan ayat ini!!
• •
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului
Allah dan Rasulnya[1407] dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
(Al-Hujurat ayat 1)
[1407] Maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan
sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.
A-A : Orang sekarang menabur bunga padahal Nabi memercikan
air. Tentu tidak sama, dimana pembenarannya?
Saya : Baiklah. Sepertinya anda tuli terhadap apa yang saya
jelaskan ini. Dengarkan baik-baik!! Disinilah perlunya pikir.
Mungkin anda bertanya begini, orang-orang sekarang ketika
membuat acara pesijuk atau tepung tawar, mereka memakai
bunga, air dan dedaunan lalu dipercikkan kepada orang yang
ditawari, nah itu kan Mubazir!
Saya jawab begini, yang kita masalahkan ini apanya,
Mubazirnyakah atau Syiriknya? Kalau mubazirnya, 0ke, kita
bahas masalah Mubazir, dan jangan masalah Syiriknya.
Anda memahamkan Mubazir itu apa?
A-A : Pemborosan.
Saya : Kalau boros, tolong sebutkan dimana borosnya? Lalu
bandingkan dengan surat undangan yang begitu mahal
harganya serta dikalikan sekian banyak jumlahnya, lalu berapa
jadinya? Mana yang lebih boros antara surat undangan atau
biaya tepung tawar itu?
Kalau tepung tawar dikatakan Mubazir tentu surat undanganpun
Mubazir juga. Kalau tepung tawar dikatakan haram, tentu surat
undanganpun dikatakan haram juga. Lalu mengapa orang kalian
hanya mengharamkan tepung tawar saja, namun mendiamkan
yang lainnya. Kalau kita bicarakan masalah ini bukan hanya
mengenai itu saja, dan saya menganggap anda orang yang
berakal, maka tidaklah perlu saya perpanjang lagi
permasalahannya.
Kemudian saya lanjutkan beberapa pertanyaan yang masih
berkaitan dengan itu;
Saya : A-A, menurut anda boleh apa tidak kita membuang
buang air?
A-A : Tidak.
Saya : Ketika Rasulullah ` meludahi air dan memercikkannya
kepada kedua mempelai, yaitu kepada Sayyidah Fathimahsdan
Sayyidina Ali a menantunya. Apakah menurut anda itu Mubazir?
A-A : Tidak.
Saya : Bukankah Rasul telah membuang atau menyianyiakan air
tersebut?
A-A : Tidaklah demikian.
Saya : Kenapa anda katakan tidak demikian?
A-A : Tentu ada manfaat yang kita tidak tahu.
Saya : Kalau demikian disini saya kasih tahu. Allah berfirman
begini:

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk
kamu (Al-Baqarah : 29)
Saya : Dalam ayat ini ada kata-kata “untuk kamu”, tahukah
anda artinya itu apa?
A-A : Itu sebuah penyerahan.
Saya : Andaikan seseorang berkata, “ini pisang saya untuk
kamu” apakah pisang tersebut boleh anda ambil?
A-A : Ya. Karena sudah menjadi hak saya.
Saya : Kapan anda memilikinya?
A-A : Setelah diserahkan dengan kata-kata “untuk kamu” tadi.
Saya : Baiklah. “Bunga bungaan” itu apakah Allah ciptakan
untuk kita, dan sesuai dengan apa yang dikatakan dalam ayat
ini?
A-A : Ya, tentu saja.
Saya : Apakah ada dalil yang melarang kita menggunakan
bunga?
A-A : Tidak.
Saya : Apakah ada keterangan tentang penggunaan bunga
hanya untuk satu hal saja, misalnya hanya ditanam di halaman
saja, dan kalau kita gunakan untuk tepung tawar maka haram?
A-A : Tidak ada.
Saya : Lalu mengapa kalian melarangnya? Untuk apa bunga
kalau tidak boleh digunakan seperti yang kami buat itu? Coba
perhatikan lagi sejarah tadi, Rasulullah memercikan air ke
Fatimah dan Ali. Bukankah air itu lebih baik diminum saja? Ini
menunjukkan bolehnya kita menggunakan bunga tersebut.
Misalkan anda yang kami buat begitu, apakah anda mau
menerima bunga tersebut?
A-A : Hmm…Belum tahu?!
Saya : Kalau demikian bacalah hadits yang diriwayatkan dari
Usman An-Nahdiy, berkata ia: telah bersabda Rasulullah ` :
ﺍِﺫَﺍ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﻳْﺤَﺎﻥَ ﻓَﻼَ ﻳَﺮُﺩَّﻩُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ .
Artinya: Apabila diberikan salah seorang kamu akan bunga yang
harum, maka janganlah ditolaknya, karena dia itu keluar dari
surga. (HR. At-Tirmidzi).
Perhatikan hadits dibawah ini:
ﻋَﻦْ ﺍَﺑِﻰ ﺛَـﻌْﻠَﺒَﺔَ ﺍﻟْﺨُـﺸَﻨِﻲٍّ ﺟُـﺮْﺛُـﻮْﻡِ ﺑْﻦِ ﻧَـﺎﺷِﺮٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ: ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ
ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓَﺮَﺽَ ﻓَـﺮَﺍﺋِﺾ ﻓَـﻼَ ﺗُﻀَـﻴِّﻌُﻮْﻫَﺎ ﻭَﺣَﺪَّ ﺣُـﺪُﻭْﺩًﺍ ﻓَـﻼَ ﺗَﻌْﺘَـﺪُﻭْﻫﺎَ ﻭَﺣَـﺮَّﻡَ ﺍَﺷْـﻴَﺎﺀَ ﻓَـﻼَ
ﺗَﻨْـﺘَﻬِﻜُﻮْﻫﺎَ ﻭَﺳَـﻜَﺖَ ﻋَﻦْ ﺍَﺷْـﻴﺎَﺀَ ﺭَﺣْـﻤَﺔً ﻟَّـﻜُﻢْ ﻏَـﻴْﺮِﻧِﺴْـﻴَﺎﻥٍ ﻓَﻼَ ﺗَـﺒْﺤَـﺜُﻮْﺍﻉَـﻨْﻬَﺎ ).ﺭﻭﺍﻩ ﻃﺒﺮﻧﻰ
ﻭﻏﻴﺮﻩ )
Artinya: dari Abu Tsa’labah Al Khusyaniy Jurtsum bi Nasir
aberkata ia, berkata Rasulullah ` , “Sesungguhnya Allah telah
memfardhukan segala yang fardhu, maka jangan kalian sia-
siakan, dan membatasi segala batasan maka jangan kalian
lewati, dan mengharamkan segala sesuatu maka jangan kalian
lakukan, dan yang didiamkannya segala sesuatu itu Rahmat
untuk kalian, bukanlah Allah lupa, maka janganlah kalian
bahas-bahas lagi.
Saya : Bunga adalah sesuatu yang diciptakan untuk kita, baik
digunakan untuk wangian maupun untuk yang lainnya. Kalau
penggunaan tersebut dilarang lalu bagaimana dengan Ayat
tadi?
A-A : Ada hadits yang mengatakan: “Siapa yang menyerupai
suatu kaum maka dia bagiannya?”
Saya : Maksud hadits tersebut tidak tepat dengan apa yang
kita bahas. Kalau setiap yang menyerupai satu kaum lalu
dikatakan sama, itu gawat. Sangat gawat.
A-A : Dimana gawatnya?
Saya : Ketika guru anda memakai baju Jas, tentu sangat mirip
dengan seorang pendeta. Lalu apakah anda menyamakannya??
A-A : Guru kami memakai Gamis.
Saya : Di Medan, pakaian gamis didominasi dipakai oleh Jamaah
Tabligh, tapi guru anda yang Salafy itu, tidak mau juga
disamakan dengan jamaah tersebut. Di Roma Italy, Paulus selalu
memakai gamis (jubah), jika kami menyamakan guru anda
dengannya tentu anda tidak terima bukan?
Ketika seorang Yahudi memakai jubah dan makan seperti cara
Sunnah Nabi, apakah anda me-Muslimkannya?
Ketika anda melihat seorang Muslim makan berdiri, apakah anda
mengkafirkannya?
A-A : Ya tentu Tidak.
Saya : Kenapa anda tidak berani, padahal anda membaca
haditsnya? Kalau anda belum faham jangan terlalu maju
mengkritik orang lain. Anda harus paham dahulu. Dan anda
jangan mau didokrin begitu saja.
Sebenarnya kami berbicara bukan hanya ini saja. Tapi hanya
inilah yang dapat saya cantumkan dalam buku ini. Dan untuk
masalah hadits “siapa yang menyerupai suatu kaum” itu lihatlah
pada masalah SETIAP YANG SERUPA PASTI SAMA.
Adapun hadits mengenai pesijuk (tepung tawar) tersebut selain
yang sudah kami sebutkan diatas, dapat juga dilihat dalam HR
Imam Tabrani No 18454. Hadits yang begitu panjang. Dan
dalam Majma’z Az Dzawa-id juz 9 halaman 205. Juga di jamiul
hadits Syekh Jalaluddin Suyuthi, Mu’jam kabir Thabrani,
Sawaqul Muhriqat halaman 231, cet hakikat kita bevi, karya
Muhaadits Ibnu hajar Al Hitami, sedangkan tafaul tambahan
dari pesijuk, yaitu memakai sedingin, jeruk purut, pulut, beras,
padi dll yang ada manfaatnya, itu disebutkan dalam Tuhfatul
Muhtaj, jil 6 Halaman 373 Hasyiah Qulyubi jilid 4 halaman 113.
Ini juga sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Abi Daud,
Imam Nasai dan Abi Ya’ala yang tercantum dalam kitab Hisnul
Husain karangan ‘Allamah Syamsyuddin Muhammad Jazuri
halaman 78 terletak di cacatan pinggir kitab khazinatul Asrar
yang arti hadits tersebut adalah:
Tatkala Nabi ` menikahkan Sayyidina Ali a dan Sayyidah
Fatimah s, Rasulullah ` memasuki rumah, lalu beliau ` berkata
pada Sayyidah Fatimah “Bawakan air untuk saya”, Sayyidah
Fatimah beranjak mengambil mangkok yang terisi air, lalu
Rasulullah ` memegang mangkok tersebut dan meludah
kedalamnya kemudian beliau berujar “Menghadaplah!” Sayyidah
Fatimah pun menghadap, lalu Rasululah ` memercikan air ke
dada Sayyidah Fatimah dan kepalanya sembari berdo’a:
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ ﺃُﻋِﻴْﺬُﻫَﺎ ﺑِﻚَ ﻭَﺫُﺭِّ ﻳَّــــﺘَﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴْﻢِ
“Ya Allah saya meminta perlindungan-Mu untuknya dan
keturunannya dari Syetan yang terkutuk”
kemudian Rasulullah ` berkata “Membelakanglah!” Sayyidah
Fatimahpun membelakang, Rasulullah ` juga memercikkan air ke
bahu Sayyidah Fatimah sambil berdoa “Ya Allah saya meminta
perlindungan-Mu dengannya dan keturunannya dari Syetan
yang terkutuk” dan isi hadits selanjutnya Rasulullah ` juga
melakukan hal yang sama kapada Sayyidina Ali a ketika
pernikahan mereka.
Doa yang dibacakan Nabi ini, sama dengan do’a Ibunya Siti
Maryam ketika Maryam baru dilahirkan. Allah jelaskan pada
surat Ali –Imran ayat 36:
Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon
perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada
(pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."
Apakah makna percikan itu? Kalau tepung tawar dikatakan sia-
sia, apakah percikan itu tidak?
Perlu dipahami adalah tudingan penyamaan yang seperti itu
adalah fitnah kepada kaum Muslimin lainnya. Karena
pengambilan makna hadits tersebut tidak tepat pada
sasarannya.
Sebab Hindu dan Islam adalah 2 kelompok yang berbeda dalam
keyakinan. Kecuali bila seorang Muslim datang ke acara orang
Hindu yang sedang menabur bunga, lalu dia duduk bersama
mereka, maka dikatakan ia telah “bertasyabbih” (sama)
dengannya.
Kalaulah dikatakan orang yang melaksanakan tepung tawar
sama dengan orang Hindu hanya karena kesalahan memahami
sebuah hadits. Maka akan timbul 1000 Hindu lainnya,
pemahaman salah ini perlu diluruskan, perhatikan keterangan
dibawah ini:
Disebutkan dalam kitab Muslim juz 1 hal 459 dan Bukhari juz 1
hal 241. adalah:
Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, bahwasanya Rasulullah ` ketika
tiba di Madinah beliau dapati disana orang Yahudi puasa pada
hari ‘Asyura. Maka Nabi ` bertanya kepada mereka:” Hai
apakah yang kamu puasakan ini?” Jawab mereka:
”Ini hari besar, dimana Allah telah membebaskan Musa dan
kaumnya dan telah mengkaramkan fir’aun dan kaumnya, maka
Musa berpuasa pada hari semacam ini karena bersyukur kepada
Allah dan kamipun mempuasakannya pula.”
Lalu Rasulullah ` berkata:”Kami lebih berhak dan lebih patut
menghormati Musa dibanding kamu.”
Maka Nabi berpuasa pada hari ‘Asyura dan beliau menyuruh
umat berpuasa pada hari itu. (HR. Bukhari Muslim).
Memang, puasa syura itu kata Nabi ` harus dibedakan dengan
puasa yahudi dengan cara berpuasa dua hari, yaitu pada 9 dan
10 Muharram. Namun jangan salah, 10 muharram itu puasa
yang Yahudi, pembedanya adalah 9 nya. Hal ini sama saja,
seperti kita dengan Hindu. Tepung tawar dipakai Hindu, nah
kita juga pakai itu, apa perbedaan kita dengan dia? Bedanya
ada tiga yaitu:
• Pada niat.
• Pada pelaksanaannya.
• Dan pada bacaannya.
Hindu baca apa, kita baca apa, itulah bedanya. Jadi, memang
ada penyerupaan tapi niat dan bacaan itulah membedakannya.
Sama dengan puasa Asyura tadi, memang ada penyerupaan
dengan yahudi, tapi 9 itulah yang membedakannya. Kalau tidak
demikian maka terjadilah ribuan persamaan jadinya.
Perhatikan keterangan ini, Nabi bersama sahabat berpuasa
sebagaimana puasanya orang yahudi. Kalaulah memahami
hadits ini hanya melihat dari gambaran nyata saja, yaitu:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَــﺒَّﻪَ ﺑِﻘَــــﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَﻣِﻨْـــﻪُﻡْ
Siapa yang menyerupai suatu Qaum
maka dia termasuk bagiannya.
Apakah tidak mungkin nantinya, akan menyamakan Sahabat
Nabi dengan yahudi tersebut? Masya Allah!
Yahudi yang dimaksud bukan Muslim, dan Muslim bukan yahudi.
Yahudi kitabnya Taurat sedangkan Muslim kitabnya adalah Al-
Quran.
Kalau karena ada persamaan lalu dikatakan sama, itu salah
besar saudaraku, sebab Hindu dengan Muslim tidaklah sama.
Coba perhatikan perbandingan berikut :
Muslim Landasannya lima Rukun islam.
Hindu Tidak.
Muslim Ada Shalat 5 waktu.
Hindu Tidak.
Muslim Qiblatnya ke Ka’bah.
Hindu Tidak.
Muslim Tuhannya Allah.
Hindu Tidak.
Disini sangat jelas sekali, perbedaan antara Muslim dengan
Hindu.
• Maka samakah orang yang bertuhan dengan yang tidak
bertuhan?
• Samakah orang Islam dengan yang tidak islam?
Kalau sama, untuk apa Rukun Islam itu? Kalau demikian
bagaimanakah maksud hadits tersebut?
Maka pemahaman yang tepat adalah: Kalaulah ada orang yang
berfaham tidak bolehnya tepung tawar untuk jamaah haji,
tetapi dia juga berada ditempat itu, maka ia dikatakan telah
sama dengan kelompok itu.
Kalau hukumnya haram, maka yang duduk itupun haram juga,
walaupun tidak ikut menepung tawari. Kalau hukumnya boleh
berarti yang duduk itupun boleh juga, artinya Nabi ` hanya
menjelaskan hukum seseorang yang bergabung ditempat itu,
bukan lainnya.
Jika seseorang berada ditempat maksiat berarti ia telah sama
dengannya.
Begitulah maksud hadits tersebut. Perhatikanlah lafadh hadits
tersebut kembali. Tentulah hal ini sangat sesuai dengan apa
yang dikatakan Allah l dalam surat An-Nisa’ ayat 140:
Apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan
diperolok-olokkan, Maka janganlah kamu duduk beserta mereka,
sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena
Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu
serupa dengan mereka.
Dalam ayat ini Allah menyamakan seseorang jika seseorang itu,
ikut duduk bersama mereka.
Perhatikan: kalau kamu berbuat demikian (duduk bersama
mereka) tentulah kamu sama dengan mereka.
Pengertiannya adalah:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَـــﺒَّﻪَ ﺑِﻘَــــﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَﻣِﻨْــــﻪْﻡُ
Siapa yang menyerupai suatu Qaum
maka dia termasuk bagiannya.
Kalau setiap yang ada persamaannya dikatakan sama, maka
setiap orang yang menggunakan kalender masehi harus di CAP
sebagai pengikut yahudi doong!
Wallaa-Hu A’laam

(Sumber : https://m.facebook.com/groups/164811163702179?view=permalink&id=187435011439794&refid=18&_ft_)

1 komentar: