Abu Ibrahim Bardan Panton Labu

Abu Ibrahim Bardan Panton Labu
 Innalillahi waiinailaihi raaji’un, “Abu panton ka geu tinggai geu tanyou (Abu Panton telah meninggalkan kita- red),” itulah kata- kata yang masyhur dan tersiar pada sore senin (29/04), sore itu umat Islam dikejutkan dengan wafatnya kembali seorang ulama besar Aceh Abu Ibrahim Bardan Panton Labu, Abu meninggalkan dunia fana pukul 18:30 WIB dirumah sakit Herna, Medan setelah sebelumnya Abu Panton mendapat perawatan dirumah sakit Materna, Medan setelah Abu Panton dirawat di RS Loh Guan Lye, Penang, Malaysia, akhir 2012. Selama 4,5 bulan dirawat, selama disana Abu Panton empat kali menjalani pembedahan untuk mengambil cairan di bagian kepala. Seiring dengan kondisinya yang berangsur membaik, dokter yang menanganinya memberi izin supaya Abu Panton dapat dirawat di Banda Aceh atau di Medan. Maka keluarga merawat Abu Panton di RS Materna dan Herna, Sebelum diberangkatkan ke penang Abu sempat dirawat di RS Melati, Lhokseumawe. Abu mengalami stroke.
Abu Ibrahim Bardan yang lebih akrab disapa dengan panggilan Abu Panton adalah anak dari Teungku Bardan dan Ummi Culot, kelahiran 08 Juli 1945 di desa Matang Jeulikat, Aceh Utara. kemudian beliau menikahi Ummi Hj Zainabon dan beliau tidak dikarunia keturunan.
Abu Ibrahim Bardan Panton Labu masa kecilnya sebagaimana putera- puteri Aceh lainnya kala itu belajar di Sekolah Rakyat pada tahun 1953- 1956, kemudian Abu Panton melanjutkan pendidikannya disebuah dayah yang terletak di Kecamatan Syamtalira Aron tahun 1960- 1962 dan dayah Matang Geuto, Idi Cut tahun 1962- 1964, kemudian Abu Panton melanjutkan pendidikan agamanya kedayah Mudi Mesra Samalanga pada ulama besar Aceh kala itu Abon Abdul Azis Mesjid Raya Samalangan tahun 1965- 1975.
Setelah bertahun- tahun Abu Panton dalam perantauan mencari ilmu agama, kemudian Abu Panton memimpin dayah Malikussaleh, Rawang Itek, Panton Labu, Aceh Utara. Ribuan santri tamatan dayah tersebut dibawah asuhan Abu Panton kemudian menjadi ulama- ulama Aceh, pejabat pemerintah, pedagang, saudagar dan tokoh masyarakat. Abu Panton adalah sosok ulama tua dan sangat ‘alim di Aceh.
Almarhum Abu Ibrahim Bardan Panton Labu saat menjamu Mantan Gubernur Aceh dan Kapolda Aceh ketika acara kajian tinggi ‘aqidah ahlisuunah wal jama’ah didayah Malikussaleh, Panton Labu, Aceh Utara

Abu Panton adalah seorang ulama yang ditakuti dan disegani ulama, pejabat pemerintah dan masyarakat, Ia adalah seorang ulama yang ‘alim dibidang syari’at dan ‘aqidah. Dalam persoalan syari’at Abu Panton sangat sering memberikan solusi dan memecahkan masalah yang khilafiyah (berbeda pandangan) diantara ulama- ulama Aceh. Ketika ulama berbeda paham dalam sebuah masalah Abu Panton disini mampu menyatukan persepsi ulama dan memberikan jalan keluar sehingga kekompakan dan keharmonisan bisa terjaga. Tidak hanya itu Abu Panton juga sangat sering memberikan trobosan dan pemikiran cemerlang bagi pemerintah, kebijakan- kebijakan pemerintah yang dinilai bertentangan dengan agama disana Abu Panton hadir dan memberikan masukan dan solusi. Salah satu peran Abu Panton di Aceh antara lain adalah dalam hal menjaga dan menciptakan kedamaian di Aceh.
Selain itu Abu Panton juga mampu memberi semangat belajar dan mengajar terhadap Teungku dayah, surah- surah yang ganjil yang terbental dalam pikiran teungku dayah abu panton memberikan gambaran- gambaran cemerlang, disisi lain, tidak hanya Teungku dayah para mahasiswa dan aktivispun sangat senang berdialog dengan Abu panton karena pemikiran Abu panton yang dianggap mampu menjawab persoalan- persoalan yang mereka jalani. Kata demi kata yang diungkapkan Abu Ibrahim Bardan Panton Labu sesuai dan logis serta tidak bertele- tele dan mengena.
Dibidang ‘Aqidah (ushuluddin) Abu Panton adalah sosok ulama yang mati- matian mempertahankan ‘aqidah ahlisnnah wal jama’ah, Abu Panton secara terbuka menentang paham sesat seperti aliran sesat salek buta, millata Abraham dan lain- lain, Abu membuka halaman demi halaman kitab membacakannya untuk menolak paham sesat itu. Dalil demi dalilpun abu panton kemukakan untuk menghancurkan alasan mereka supaya aliran sesat tidak subur di Aceh.
Almarhum Abu Panton sedang memberikan tausyiah dihadapan Pemerintahan Zikir

Dalam dunia dayah Abu Panton meninggalkan banyak kenangan, salah satu trobosan besar beliau adalah terciptanya Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh (BPPD Aceh) berkat trobosan beliau melalui Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang beliau pimpin hingga wafat. Selain itu Abu Panton memberikan masukan dan ide- ide untuk pengembangan dayah secara meluas, beliau menciptakan sekolah- sekolah yang berbasis dayah. Moto yang selalu beliau sampaikan adalah “kita dayahkan sekolah, jangan sekolahkan dayah”, artinya materi yang disampaikan dayah diperluas hingga kesekolah- sekolah.
Dalam dunia pemerintah, Abu Panton adalah seorang ulama yang disegani dan ditakuti para pejabat pemerintah. Kebijakan busuk pemerintah dibantah Abu, masukan demi masukan abu panton sampaikan semasa hidupnya. Abu Panton aktif di Majelis Permusyawaratan Ulama hingga beliau wafat, ia menjabat sebagai Majelis Syuyukh MPU Aceh dan Ketua Umum Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA).
Kiprah perjalanan Abu Panton dalam hidupnya patut dijadikan contoh bagi generasi muda untuk menunjang masa depan Islam yang cemerlang. Harapan demi harapan muncul untuk menggantikannya dalam berbagai aspek dan menjawab tantangan hidup hari demi hari.
Prosesi Pemakaman Abu Panton
Prosesi Shalat Jenazah Almarhum Abu Ibrahim Bardan Panton Labu

Duka yang mendalam menyelimuti masyarakat Aceh pasca meninggalnya Abu Panton, antusias warga terlihat ketika terdengar kabar wafatnya Abu Panton, informasi wafat beliau secara cepat tersiar luas melalui handphone, facebook, twiter dan media- media masa. Tidak hanya itu masyarakat secara serta merta ikut langsung memadati dayah malikussaleh, Panton Labu yang dipimpin Abu Panton. Padahal malam itu (29/04) hujan deras mengguyur Panton Labu, Aceh Utara, namun hal ini tidak mengurangi keinginan masyarakat untuk meninggalkan dayah malikussaleh guna menunggu kedatangan jasad Abu Panton.
Jenazah Abu Panton dibawa pulang dari RS Herna Medan kedayah Malikussaleh, panton Labu, dari Medan sekitar beberapa mobil mengiringi kepulangan jasad Abu panton, sepanjang perjalanan dari perbatasan Aceh warga yang telah menunggu langsung bergabung mengiringi jasad Abu pantong hingga dayah Malikussaleh, Panton Labu, pantaun Majalah santri dayah terdapat sedikitnya ratusan mobil beriring- iringan menghantarkan jenazah Abu panton. Kemacetanpun tidak bisa dihindari karena banyaknya pelayat yang datang dari berbagai daerah kekediaman almarhum Abu Ibrahim Bardan rawang itek, Panton Labu, Aceh Utara.
Masyarakat memedati dayah Malikussaleh Panton Labu, Aceh Utara

Pukul 01: 32 WIB jasad Abu Panton tiba dikomplek dayah malikussaleh, Panton Labu, ribuan masyarakat telah menunggu dan jasad Abu Panton disambut dengan selawat badar, pantauan Majalah santri dayah rasa haru sangat menggema dimalam itu. Abu Mudi, serta ulama- ulama yang lain terlihat hadir dimalam itu ikut menunggu jasad almarhum Abu Panton.
Jasad Abu Ibrahim Bardan Panton Labu dimaqamkan dikomplek santri putera dayah malikussaleh panton labu, sekitar pukul 11;00 WIB, prosesi shalat jenazah terjadi hingga 30 kali sehubungan banyaknya pentakziah dihari itu, selasa (30/04), pantauan Majalah Santri dayah ribuan pentakziah hadir dalam pelaksaan tajhiz mayit hari itu, bertindak sebagai imam shalat janazah Abu Panton antara lain, Abu Usman Kuta Krueng, Abu Tumin Blang Bladeh, Abu Abdul Wahab Matang Perlak, Abu Mustafa Ahmad paloh Gadeng. Pelepasan jenazah disampaikan oleh Abu Abdul Manan Blang Jruen, Wakil Ketua Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh Utara mewakili pihak keluarga, mewakili ulama disampaikan Waled Nuruzzahri Samalanga Sedangkan sambutan mewakili pihak pemerintah disampaikan Asisten III Setda Aceh Utara Abdul Aziz.
pembacaan do’a untuk almarhum Abu Ibrahim Bardan Panton Labu, Aceh Utara

Dalam sambutannya Waled Nuruzzahri Samalangan yang kerap disapa Waled Nu mengatakan Semasa hidupnya, Abu Panton punya moto yang tak pernah dilupakan Waled Nu, “Jangan mencari perbedaan. Tapi carilah kebersamaan, karena melalui kebersamaan akan dapat dituntaskan berbagai masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.”
Saat menyampaikan sambutan, Waled Nu empat kali menangis. Ribuan pelayat pun terpancing ikut menangis. Di antara doa Waled Nu, dia harapkan Aceh tetap aman dan damai serta kepada masyarakat Aceh diberikan Allah ulama pengganti setara dengan keulamaan Abu Panton. [TF]

(Sumber : http://www.santridayah.com/2013/05/abu-ibrahim-bardan-panton-labu-telah-tiada)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar