Hukum Memakai Sutra

PERTANYAAN :
Assalamualaikum ustadz
Mohon dibahas mengenai haramnya sutra bagi laki-laki. Ada yang menyatakan bahwa hukum larangan menggunakan sutra itu makruh bukan haram dengan alasan :
1. Hadits mengenai haramnya sutra ma’lul (padanya ada cacat yang melemahkannya).
2. Bahwa Nabi -sholallahu alaihi wassalam- pernah melihat sahabat yang menggunakan sutra tetapi tidak melarang.
3. Ada sahabat yang menggunakan imamah berwarna hitam dari sutra tapi tidak dilarang oleh Nabi -shalallahu alaihi wassalam-Jazakallahu khair.  (Iman)
 JAWABAN:
Waalaikum salam warohmatulloh…
Bismillaah, Walhamdulillaah, Was sholaatu was salaamu alaa Rosuulillaah wa alaa aalihii wa shohbihii wa maw waalaah.
Berikut poin-poin uraian tentang masalah “Kain Sutra”, yang sekaligus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
PERTAMA:
SUTRA yang dimaksud dalam hadits-hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam- adalah sutra yang dibuat dari kepompong yang dihasilkan oleh ulat sutra.
Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- berkata:
والمُرَادُ بالحَرِيْرِ هنا الحريرُ الطبيعي دون الصناعي، والحرير الطبيعي يخرج من دودة تُسمَّى «دودة القَزِّ» وهو غالٍ وناعم.
Yang dimaksud dengan “sutra” di sini adalah sutra yang alami, bukan sutra buatan. Sutra yang alami itu dihasilkan oleh ulat yang disebut ulat sutra, sutra jenis ini mahal dan halus.
Begitu pula Syeikh Albani -rohimahulloh-, beliau berkata:
واعلم أن الحرير المحرم إنما هو الحرير الحيواني المعروف في بلاد الشامبالحرير البلدي وأما الحرير النباتي المصنوع من ألياف بعض النباتات، فليسمن التحريم في شيء
Ketahuilah, bahwa sutra yang diharamkan hanyalah sutra yang dihasilkan oleh hewan (ulat sutra), yang dikenal di Negeri Syam dg sebutan harir baladi. Adapun sutra sintesis yang terbuat dari serat sebagian tumbuhan, maka sama sekali tidak diharamkan. (Silsilah Shohihah, 1/738)
Hal ini sesuai dengan keterangan ahli bahasa arab:
قال الليث: الْحَرِير ثِيَاب من إبريسم (تهذيب اللغة 3/276).
 وقال الأزهري: القَزُّ هُوَ الَّذِي يُسوّى مِنْهُ الإبريسم (تهذيب اللغة 8/214).
Al-Laits berkata:  Kain Sutra adalah pakaian yang terbuat dari Ibrisam (sutra asli). (Tahdzibul Lughoh 3/276)… Al-Azhari mengatakan: Ulat sutra adalah ulat yang digunakan untuk membuat Ibrisam. (Tahdzibul Lughoh 8/214)
قال في المعجم الوسيط: (الْحَرِير) الْخَيط الدَّقِيق تفرزه دودة القز، و(الْحَرِير الصناعي) ألياف تتَّخذ منعجينة الْخشب أَو نسالة الْقطن
Penyusun kamus Al-Mu’jamul Wasith berkata: “Sutra” adalah benang halus yang dikeluarkan oleh ulat sutra, sedangkan “sutra buatan” adalah serat-serat kain yang terbuat dari bubuk kayu atau dari bulu kapas.
KEDUA:
Beberapa orang Ulama telah menukil IJMA’ tentang haramnya kain sutra bagi laki-laki:
قال ابن عبد البر: وأجمع السَّلَفُ وَالْخَلَفُ مِنَ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ الثَّوْبُ حَرِيرًا كُلُّهُ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلرِّجَالِ لِبَاسُهُ
Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh- (w 463 H) berkata: Ulama Salaf dan Kholaf telah IJMA’ (sepakat): bahwa jika pakaian seluruhnya terbuat dari sutra, maka kaum laki-laki tidak boleh mengenakannya. (Alistidzkar, 8/323)
قال ابن قدامة: وَلَا نَعْلَمُ فِي تَحْرِيمِ لُبْسِ ذَلِكَ عَلَى الرِّجَالِ اخْتِلَافًا، إلَّا لِعَارِضٍ، أَوْ عُذْرٍ.
Ibnu Qudamah -rohimahulloh- (w 620 H) berkata: Kami tidak mengetahui adanya khilaf dalam masalah haramnya memakai sutra bagi kaum laki-laki, kecuali karena suatu keadaan (yang membolehkannya) atau karena ada udzur.
قال النووي: انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى إِبَاحَتِهِ لِلنِّسَاءِ وَتَحْرِيمِهِ عَلَى الرِّجَالِ.
Imam Nawawi -rohimahulloh- (w 676 H) berkata: Para ulama  telah sepakat (IJMA') tentang bolehnya (sutra) bagi kaum wanita, dan haramnya (sutra) bagi kaum laki-laki. (Syarah Shohih Muslim, 14/33)
وقال ابن تيمية: ولبس الحرير حرام على الرجال بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وإجماع العلماء
Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- (w 728 H) berkata: Memakai sutra itu haram bagi kaum laki-laki berdasarkan haditsnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan Ijma’nya para ulama. (Majmu’ul Fatawa, 22/143)

Dalil dari hadits yang mendukung IJMA’ tentang haramnya sutra bagi laki-laki sangatlah banyak, berikut saya sebutkan sebagiannya, beserta sisi pendalilannya:
Hadist Pertama :
عن عبد الله بن عمر عن أبيه: قال رسول الله ع: «إنما يلبس الحرير من لا خلاق له» . متفق عليه. (صحيح البخاري: 6081, وصحيح مسلم: 2069) وفي رواية: مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا فَلَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ (سنن النسائي: 5306, وصححه الألباني).
Dari Abdulloh bin Umar, dari ayahnya: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Orang yang memakai sutra adalah orang yang tidak memiliki bagian (pahala di akhirat)”. (HR. Bukhori: 6081, Muslim: 2069).
Dalam riwayat lain dengan redaksi: “Barangsiapa memakai sutra di dunia, maka ia tidak memiliki bagian (pahala) di akhirat”. (HR. Nasa’i: 5306, dan dishohihkan oleh Syeikh Albani).
Sisi pendalilannya: Dalam hadits ini terdapat ancaman bagi mereka yang memakai sutra, dan syariat tidak mengancam melainkan pada sesuatu yang dilarang, sedangkan larangan pada dasarnya menunjukkan keharaman.
Hadist Kedua :
عن أنس بن مالك وابن الزبير وعمر بن الخطاب وأبي أمامة وأبي هريرة رضي الله عنهم: قال رسول الله ع: «من لبس الحرير في الدنيا لم يلبسه في الآخرة» . متفق عليه. (صحيح البخاري: 5832, 5833, 5834. وصحيح مسلم: 2073, 2074, ومستدرك الحاكم: 7216).
Dari Anas bin Malik, Ibnuz Zubair, Umar bin Khottob, dan Abu Umamah: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Barangsiapa memakai sutra di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat. (HR. Bukhori: 5832, 5833, 5834. Muslim: 2073, 2074. Al-Hakim: 7216).
Sisi pendalilannya: Sama dengan hadits sebelumnya.
Hadist Ketiga :
عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه: قال رسول الله ع: لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلَا الدِّيبَاجَ وَلَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الْآخِرَةِ. متفق عليه. (رواه البخاري: 5426, ومسلم: 2067)
Dari Hudzaifah bin Yaman: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: janganlah kalian memakai sutra dan dibaj (pakaian yang terbuat dari sutra murni), jangan pula kalian minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kalian makan dari tempat yang terbuat dari perak, karena itu semua untuk mereka (yang kafir) di dunia, dan untuk kita di akhirat. (HR. Bukhori: 5426, HR. Muslim: 2067).
Sisi pendalilannya: Dalam hadits ini terdapat larangan memakai sutra, dan pada dasarnya larangan itu menunjukkan keharaman, hal ini dikuatkan dengan disebutkannya ancaman di akhir hadits atas mereka yang memakainya.
Hadist Keempat :
عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ع: لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ، فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ. (رواه مسلم: 2069)
Dari Umar bin Khottob: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Janganlah kalian memakai sutra, karena barangsiapa memakainya di dunia, niscaya ia tidak akan memakainya di akhirat. (HR. Muslim: 2069)
Sisi pendalilannya: Sama dengan hadits sebelumnya.
Hadist Keempat :
عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: نهانا النبي ع أن نشرب في آنية الذهب والفضة، وأن نأكل فيها، وعن لبس الحرير والديباج، وأن نجلس عليه. (رواه البخاري: 5837)
Hudzaifah bin Yaman mengatakan: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah melarang kami untuk makan dan minum dari tempat yang terbuat dari emas dan perak, beliau juga melarang kami memakai sutra dan dibaj serta duduk di atasnya. (HR. Bukhori: 5837).
Sisi pendalilannya: Dalam hadits ini terdapat larangan memakai sutra, dan pada dasarnya larangan itu menunjukkan keharaman.
Hadist Kelima :
عن البراء بن عازب: نهانا عن آنية الفضة وخاتم الذهب والحرير والديباج والقَسِّي والإستبرق (رواه البخاري: 1163).
Dari Baro’ bin Azib: “Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melarang kami menggunakan tempat makan-minum yang terbuat dari perak, mengenakan cincin emas, kain sutra, dibaj, qossiy (pakaian yang terbuat dari kain campuran sutra dan katun), dan istabroq (pakaian dengan sutra yang tebal). (HR. Bukhori: 1163)
Sisi pendalilannya: sama dengan hadits sebelumnya.
Hadist keenam :
عن أبي عامر, أو أبي مالك الأشعري رضي الله عنهما: قال رسول الله ع سيأتي على أمتي زمان يستحلون فيه الحر والحرير والخمر والمعازف (رواه البخاري 5590).
Dari Abu Amir, atau Abu Malik Al-Asy’ari: Rosululloh -shollallohu alahi wasallam- bersabda: Umatku akan sampai pada suatu zaman, dimana ada banyak orang yang mengahalalkan perzinaan, sutra, khomr (sesuatu yang memabukkan), dan alat musik. (HR. Bukhori: 5590).
Sisi pendalilannya:
(1) Alur hadits ini menunjukkan celaan bagi mereka yang “menghalalkan sutra”, dan celaan tidaklah ada kecuali pada sesuatu yang terlarang.
(2) Ketika syariat mencela suatu perbuatan, itu berarti perintah untuk melakukan yang sebaliknya, dan lawan perbuatan “menghalalkan” adalah perbuatan “mengharamkan”, itu artinya kita diperintahkan untuk mengharamkan sutra.
(3) Kata-kata “menghalalkan” menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah haram, kemudian mereka menghalalkannya.
Hadist ketujuh :
(1)عن علي رضي الله عنه قال: رأيت رسول الله أخذ حريرا، فجعله في يمينه، وذهبا فجعله في شماله، ثم قال: «إن هذين حرام على ذكور أمتي» . رواه أبو داود: 4057 والنسائي: 5144, وابن ماجه: 3595, وصححه الألباني في غاية المرام (ص 64)
Ali bin Abi Tholib berkata: Aku pernah melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- meletakkan sutra di tangan kanannya, dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya dua benda ini diharamkan atas umatku yang laki-laki” (HR. Abu Dawud: 4057, Annasa’i: 5144, Ibnu Majah: 3595. Hadits ini dishohihkan oleh Syeikh Albani dalam kitabnya Ghoyatul Marom, hal: 64).
Sisi pendalilannya: Dalam hadits ini ditegaskan bahwa sutra diharamkan atas kaum laki-laki dari umat Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-… Dan penyebutan “kaum laki-laki” dalam hadits ini, menunjukkan bahwa hukum haramnya sutra khusus bagi kaum laki-laki, sehingga ia dibolehkan bagi kaum perempuan.
Hadist Kedelapan :
 عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الحَرِيرِ، لِحِكَّةٍ بِهِمَا»
Anas mengatakan: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah memberikan keringanan kepada Abdurrohman bin Auf dan Az-Zubair untuk memakai baju dari sutra karena sakit kudis yang diderita keduanya. (HR. Bukhori: 5839, Muslim: 2076).
Sisi pendalilannya : Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memberikan keringanan memakai sutra kepada sebagian sahabatnya karena adanya udzur (sakit kudis)… Dan keringanan untuk melakukan sesuatu tidak akan diberikan kecuali pada sesuatu yang asalnya tidak dibolehkan.
Hadist Kesembilan :
(2)عن عمر: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لَبُوسِ الْحَرِيرِ، قَالَ: إِلَّا هَكَذَا، وَرَفَعَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِصْبَعَيْهِ الْوُسْطَى وَالسَّبَّابَةَ وَضَمَّهُمَا. (متفق عليه)...وفي رواية: نهى نبي الله صلى الله عليه وسلم عن لبس الحرير إلا موضع إصبعين، أو ثلاث، أو أربع. (رواه مسلم)
Dari Umar: sesungguhnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah melarang mengenakan pakaian sutra, kecuali yang (kadarnya) seperti ini, dan Rosululloh  -shollallohu alaihi wasallam- pun memperlihatkan kepada kami kedua jarinya; jari tengah dan jari telunjuk, dan beliau merapatkannya. (HR. Muslim: 2069, Bukhori: 5828)… Dalam Riwayat lain redaksinya: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah melarang memakai sutra, kecuali sebatas dua jari, atau tiga jari, atau empat jari. (HR. Muslim: 2069)
Sisi pendalilannya: Dalam hadits ini ada larangan memakai sutra, dan pada dasarnya larangan itu menunjukkan keharaman. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kaum laki-laki boleh memanfaatkan sutra sebagai penghias pakaian selama masih dalam batasan lebarnya empat jari.

JAWABAN KEEMPAT:
Sahabat yang meriwayatkan hadits mengenai haramnya sutra bagi laki-laki sangatlah banyak, ini menunjukkan betapa besarnya perhatian mereka terhadap masalah ini. Simaklah nukilan berikut:
قال الترمذي: وَفِي البَاب عَنْ عُمَرَ، وَعَلِيٍّ، وَعُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَأَنَسٍ، وَحُذَيْفَةَ، وَأُمِّ هَانِئٍ، وَعَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، وَعَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، وَجَابِرٍ، وَأَبِي رَيْحَانَةَ، وَابْنِ عُمَرَ، وَالبَرَاءِ, وواثلة بن الأسقع. (سنن الترمذي: 1720).
Imam Tirmidzi mengatakan: Dalam bab (haramnya sutra bagi laki-laki) ini, terdapat riwayat dari: (1) Umar, (2) Ali, (3) Uqbah bin Amir, (4) Anas, (5) Hudzaifah, (6) Ummu Hani’, (7) Abdulloh bin Amr, (8) Imron bin Hushoin, (9) Abdulloh bin Zubair, (10) Jabir, (11) Abu Roihanah, (12) Ibnu Umar, (13) Al-Baro, dan (14) Watsilah bin Asqo’. (Kitab Sunan Tirmidzi, hal: 401, hadits no: 1720)
Saking banyaknya hadits yang menunjukkan haramnya sutra bagi laki-laki, sehingga beberapa ulama memasukkannya dalam kategori hadits MUTAWATIR, berikut nukilan-nukilan dari para ulama tentang hal ini:
قال الطحاوي: فَفِي هَذِهِ الْآثَارِ الْمُتَوَاتِرَةِ, النَّهْيُ عَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ.
Ath-Thohawi berkata: “Dalam hadits-hadits yang mutawatir ini, terdapat larangan memakai sutra”. (Syarh Ma’anil Atsar, 4/247)
قال علي القاري: في المحيط من أنكر الأخبار المتواترة في الشريعة كفر مثل حرمة لبس الحرير على الرجال
Ali Alqori berkata: “Dalam kitab Al-Muhith disebutkan: Barangsiapa mengingkari hadits-hadits mutawatir dalam syari’at, maka ia kafir, misalnya: (hadits yang menerangkan) haramnya memakai sutra bagi laki-laki”. (Syarhusy Syifa, 2/426)
قال صاحب عون المعبود: وإنما جاءت الأخبار المتواترة في تحريم الذهب والحرير على الرجال
Pengarang kitab Aunul Ma’bud: “Sesungguhnya telah datang hadits yang mutawatir tentang haramnya emas dan sutra bagi laki-laki”. (Aunul Ma’bud 11/190)
قال الألباني: واعلم أن الأحاديث في تحريم لبس الحرير، وشرب الخمر، والشرب في أواني الذهب والفضة، هي أكثر من أن تحصر
Syeikh Albani berkata: “Ketahuilah, bahwa hadits-hadits mengenai haramnya memakai sutra, meminum khomr, dan minum dari tempat yang terbuat dari emas dan perak, itu tak terhitung banyaknya”. (silsilah shohihah, 1/737)
JAWABAN KELIMA:
Perlu diketahui juga bahwasutra di awal Islam dihalalkan, kemudian setelah itu diharamkan, oleh karenanya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah memakainya, sebagaimana ditunjukkan hadits-hadits berikut ini:
عن جَابِر بْنَ عَبْدِ اللَّهِ: لَبِسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا قَبَاءً مِنْ دِيبَاجٍ أُهْدِيَ لَهُ، ثُمَّ أَوْشَكَ أَنْ نَزَعَهُ، فَأَرْسَلَ بِهِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقِيلَ لَهُ: قَدْ أَوْشَكَ مَا نَزَعْتَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: نَهَانِي عَنْهُ جِبْرِيلُ. (رواه مسلم: 2070)
Dari Jabir bin Abdillah: Suatu hari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah memakai qoba’ (jenis pakaian luar) dari sutra murni yang dihadiahkan kepadanya, tapi tidak lama setelah itu beliau menanggalkannya, kemudian beliau berikan kepada Umar bin Khottob. Beliau ditanya: Rosululloh, Mengapa engkau segera menanggalkannya? Beliau menjawab: “Jibril telah melarangku memakainya”. (HR. Muslim: 2070)
عن عقبة بن عامر قال: أهدي لرسول الله صلى الله عليه وسلم فرُّوج حرير فلبسه، ثم صلى فيه، ثم انصرف فنزعه نزعًا شديدًا كالكاره له ثم قال: لا ينبغي هذا للمتقين
Uqbah bin Amir berkata: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah dihadiahi farruj (qoba’ atau pakaian luar yang ada belahan di bagian belakangnya) dari sutra, lalu beliau memakainya, dan sholat dengannya, kemudian setelah selesai (dari sholatnya) beliau menanggalkannya dengan keras, seakan beliau membencinya, lalu beliau berkata: tidak selayaknya ini (dipakai) oleh orang-orang yang bertaqwa.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه: «أن أكيدر دومة أهدى إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم جبة سندس أو ديباج شك فيه سعيد قبل أن ينهى عن الحرير، فلبسها، فتعجب الناس منها فقال: والذي نفس محمد بيده لمناديل سعد بن معاذ في الجنة أحسن منها»
Dari Anas bin Malik: Bahwa Ukaidir Dumah pernah menghadiahkan kepada Rosululoh -shollallohu alaihi wasallam- jubah sundus (sutra yang tipis) atau jubah dibaj (sutra yang tebal), sebelum ada larangan memakai sutra, Lalu beliau memakainya, dan orang-orang pun merasa kagum, maka beliau bersabda: “Demi Dzat yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangannya Sa’ad bin Mu’adz di surga lebih bagus darinya”

Setelah mengetahui uraian ini, mari kita menjawab 3 pertanyaan di atas:
1. Apakah hadits mengenai haramnya sutra ma’lul (memiliki cacat)?
Tidak benar, sebaliknya hadits mengenai haramnya sutra bagi laki-laki adalah hadits yang tidak diragukan lagi keshohihannya, bahkan ia termasuk dalam kategori hadits mutawatir sebagaimana ditegaskan oleh para ulama.
Bagaimana mungkin hadits mengenai haramnya sutra itu ma’lul, padahal banyak dari hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim (muttafaqun alaih)?! Bagaimana mungkin hadits-hadits tersebut dinyatakan ma’lul padahal ia telah mencapai derajat mutawatir?!
Mungkin orang yang mengatakan bahwa hadits mengenai haramnya sutra bagi laki-laki ma’lul berdalil dengan nukilan berikut ini:
قال أبو حاتم: خبر سعيد بن أبي هند عن أبي موسى في هذا الباب معلول لا يصح. (صحيح ابن حبان بترتيب ابن بلبان 12/250).
Abu Hatim berkata: Hadits riwayat Sa’id bin Abu Hind dari Abu Musa dalam bab ini ma’lul dan tidak shohih
Akan tetapi yang perlu digaris-bawahi di sini: bahwa perkataan Abu Hatim tersebut hanyalah pada hadits Abu Musa saja, bukan pada semua hadits mengenai haramnya sutra bagi laki-laki… inilah hadits yang dimaksud tersebut:
عن سعيد بن أبي هند, عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه: أن رسول الله  ع قال: «حرم لباس الحرير والذهب على ذكور أمتي، وأحل لإناثهم» . رواه الترمذي:1720، وقال: حديث حسن صحيح. وصححه الألباني في إرواء الغليل (1/305).
Dari Said bin Abu Hind, dari Abu Musa Al-Asy’ari: Sesungguhnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: Pakaian sutra diharamkan atas umatku yang laki-laki, dan dihalalkan untuk umatku yang permpuan. (HR. Tirmidzi: 1720, dan beliau mengatakan: hadits ini hasan shohih)
Dan illat yang dimaksud adalah terputusnya sanad tersebut, syeikh Albani mengatakan:
رجاله ثقات رجال الشيخين غير أنه منقطع, لأن ابن أبى هند لم يسمع من أبى موسى شيئا, كما قال الدارقطنى, وتبعه الحافظ فى "الدراية" وغيره.
Perowi-perowi hadits itu tsiqot (tepercaya), mereka adalah perowi-perowinya Syaikhoin (Bukhori dan Muslim), hanya saja sanadnya terputus, karena Ibnu Abi Hind tidak pernah mendengar satu hadits pun dari Abu Musa, sebagaimana dikemukakan oleh Addaruqutni, Alhafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya ‘Addiroyah’, dan yang lainnya. (Kitab Irwa’ul Gholil, 1/305).
Meskipun hadits ini dari segi sanad lemah, akan tetapi dari segi makna tetap shohih, karena adanya hadits lain yang semakna dengan hadits ini, seperti hadits Ali -rodliallohu anhu- yang artinya: “Sesungguhnya dua benda ini (emas dan sutra), diharamkan atas umatku yang laki-laki”. (Lihat hadits no: 8, dan lihat pula bagaimana Syeikh Albani tetap menshohihkan hadits Abu Musa ini dalam kitab beliau Irwa’ul Gholil, 1/305).
Intinya: Kalaupun kita katakan hadits Abu Musa ini ma’lul karena sanadnya terputus, itu tidak mempengaruhi keshohihan hadits-hadits lainnya -yang jumlahnya sangat banyak- mengenai haramnya sutra bagi laki-laki, wallohu a’lam.
2. Nabi -sholallahu alaihi wassalam- pernah melihat sahabat yang menggunakan sutra tetapi tidak melarang.
Jika yang dimaksud dengan Sahabat tersebut adalah Abdurrohman bin Auf dan Az-Zubair (lihat hadits no: 9), maka jawabannya: mereka berdua diijinkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- karena adanya udzur (sakit kudis)… Sekiranya tidak ada udzur tersebut, tentunya hukum haramnya sutra tetap berlaku bagi keduanya.
Lihatlah bagaimana Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengingkari Ali dan Usamah yang memakai baju sutra, karena tidak adanya udzur pada keduanya:
عن علي قال: أهديَتْ لرسول الله صلى الله عليه وسلم حلة سيراء، فبعث بها إليَّ، فلبستها فعرفت الغضب في وجهه، فقال: إني لم أبعث بها إليك لتلبسها، إنما بعثتُ بها إليك لتشققها خُمُراً بين النساء.
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah mendapatkan hadiah hullah siyaro(1 stel baju dari sutra), lalu beliau memberikannya kepadaku, lalu aku memakainya, maka ku lihat kemarahan pada wajah beliau, beliau mengatakan: “Sesungguhnya aku memberikannya kepadamu agar kamu bagi-bagi menjadi banyak jilbab kepada para wanita”. (HR. Muslim: 2071. Lihat hadits ini dengan redaksi lain di Shohih Bukhori: 5840, dan Shohih Muslim: 2071)).
عن ابن عمر: أُتِيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحُلَلٍ سِيَرَاءَ، فَبَعَثَ إِلَى عُمَرَ بِحُلَّةٍ، وَبَعَثَ إِلَى أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ بِحُلَّةٍ، وَأَعْطَى عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ حُلَّةً، وَقَالَ: «شَقِّقْهَا خُمُرًا بَيْنَ نِسَائِكَ»... وَأَمَّا أُسَامَةُ فَرَاحَ فِي حُلَّتِهِ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظَرًا عَرَفَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَنْكَرَ مَا صَنَعَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا تَنْظُرُ إِلَيَّ، فَأَنْتَ بَعَثْتَ إِلَيَّ بِهَا، فَقَالَ: «إِنِّي لَمْ أَبْعَثْ إِلَيْكَ لِتَلْبَسَهَا، وَلَكِنِّي بَعَثْتُ بِهَا إِلَيْكَ لِتُشَقِّقَهَا خُمُرًا بَيْنَ نِسَائِكَ»
Dari Ibnu Umar: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah dihadiahi banyak hullah siyaro’, lalu beliau memberikan kepada Umar satu hullah, memberikan kepada Usamah bin Zaid satu hullah, dan memberikan kepada Ali bin Abi Tholib satu hullah seraya berkata: “Bagikanlah kepada wanita-wanitamu!”. Adapun Usamah, maka ia pun pergi  memakai hullah tersebut, maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- memandangnya dengan pandangan yang ia tahu bahwa beliau telah mengingkari tindakannya, ia pun bertanya: “Wahai Rosululloh, mengapa engkau memandangku (seperti itu), bukankah engkau yang memberikan hullah ini kepadaku?!”. Maka beliau pun menjawab: “Aku memberikannya kepadamu bukan untuk kamu pakai, akan tetapi aku memberikannya kepadamu agar kamu membagi-baginya menjadi banyak jilbab kepada para wanitamu” (HR. Muslim: 2068)
Intinya: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- membolehkan sebagian sahabat memakai sutra, karena adanya udzur… Sekiranya tidak ada udzur tentunya akan beliau ingkari, sebagaimana beliau terapkan kepada Ali dan Usamah -rodliallohu anhuma-.
3. Ada sahabat yang menggunakan imamah berwarna hitam dari sutra tapi tidak dilarang oleh Nabi -shalallahu alaihi wassalam-.
Jika yang dimaksud adalah hadits berikut ini:
عن عَبْد اللَّهِ بْن سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ سَعْدٍ، قَالَ: رَأَيْتُ رَجُلًا بِبُخَارَى عَلَى بَغْلَةٍ بَيْضَاءَ، عَلَيْهِ عِمَامَةُ خَزٍّ سَوْدَاءُ، فَقَالَ: كَسَانِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dari Abdulloh bin Sa’ad, dari Sa’ad -ayahnya-, ia mengatakan: Aku pernah melihat seorang laki-laki di Kota Bukhoro sedang berada di atas bagal betina (turunan kuda jantan dengan keledai betina), ia memakai imamah hitam dari sutra campuran, ia mengatakan:  “Yang memberiku pakaian ini adalah Rosululloh -shollallohu alahi wasallam-. (HR. Abu Dawud: 4038)
Maka jawabannya:
(1) Hadits tersebut lemah dari sisi sanadnya, berikut nukilan para ulama’ yang melemahkannya:
قال ابن القطان: عبد الله بن سعد وأبوه لا تعرف حالهما. (بيان الوهم والإيهام 2/607)... وقال الذهبي: سعد بن عثمان الرازي الدَّشْتَكي عن صحابي رآه ببخارى، لا يُدرَى من هما، تفرَّد عن سعدٍ ولدُه عبد الله. (ميزان الاعتدال 2/124)... وقال الشيخ الألباني: ضعيف الإسناد. (ضعيف سنن أبي داود 1/328)... وقال الشيخ عبد المحسن العباد: الحديث ضعيف؛ لأن في إسناده من هو متكلَّم فيه. (شرح سنن أبي داود 3/453).
Ibnul Qotton berkata : “Abdulloh bin Sa’ad dan ayahnya, tidak diketahui keadaannya”. (Bayanul Wahmi Wal Iham, 2/607)
Adz-Dzahabiberkata : “Sa’ad bin Utsman Arrozi Addasytaki, dari seorang sahabat yang dilihatnya di Kota Bukhoro, tidak diketahui siapakah mereka berdua. Tidak ada yang meriwayatkan dari Sa’ad kecuali anaknya yang bernama Abdulloh”. (Mizanul I’tidal, 2/124).
Syeikh Albani berkata: “(Hadits ini) sanadnya lemah”. (Dlo’if Sunan Abi Dawud 1/328)
Syeikh Abdul Muhsin Al-Abbad berkata: “Hadits ini lemah, karena di sanadnya ada perowi yang mendapatkan kritikan”. (Syarah Sunan Abi Dawud 3/453).
(2) Jika dikatakan riwayat tersebut sanadnya jayyid, maka sanggahannya: bahwa redaksi “memberikan pakaian” bukan berarti “membolehkan untuk dipakai”… Sebagaimana beliau “memberikan pakaian” hullah siyaro’ (1 stel baju dari sutra), kepada: Umar, Ali, dan Usamah -rodliallohu anhum-, akan tetapi beliau tetap tidak membolehkan mereka memakainya, beliau memerintahkan ketiganya untuk membagikannya kepada para wanita mereka. (Lihat jawaban ini dalam kitab Nailul Author, 2/100).
JAWABAN KETUJUH:
Kesimpulan dari uraian diatas:
(1) Sutra yang diharamkan bagi laki-laki adalah sutra yang terbuat dari kepompong ulat sutra, adapun sutra sintesis, maka tidak diharamkan walaupun sebaiknya dijauhi.
(2) Ada banyak ulama’ yang telah menukil Ijma’ haramnya sutra bagi laki-laki.
(3) Hadits yang menerangkan haramnya sutra bagi laki termasuk hadits mutawatir, tidak diragukan lagi keshohihannya.
(4) Sutra dibolehkan bagi laki-laki, dalam dua keadaan: Pertama: ada udzur (seperti sakit kudis). Kedua: dalam batasan maksimal empat jari.
(5) Sutra pernah dihalalkan di zaman awal Islam, sebelum akhirnya diharamkan bagi laki-laki.
(6) Jika ada yang mengatakan bahwa ada sebagian sahabat yang memakai sutra, maka kita katakan bahwa ada juga sahabat yang melarang memakainya… Dan perbuatan seorang sahabat tidak bisa dijadikan hujjah/dalil selama masih ada pertentangan diantara mereka.
Sekian jawaban pertanyaan ini, wallohu a’lam… Semoga bermanfaat bagi kita semuanya, amin…
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين,
والحمد لله رب العالمين.
Oleh: Musyaffa’, di Madinah, 12 04 1433 / 05 03 2012 M
 [Sumber:http://www.stdiis.ac.id/index.php/konsultasi/215-sutera]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar