Tgk Fadli Tanjungan Samalanga, si Guru Kitab Kuning

Tgk Fadli Tanjungan Samalanga
LIMA BELAS TAHUN tahun bukanlah waktu yang singkat untuk belajar mempelajari kitab gundul kuning. Tapi, hal itu sudah dilakoni oleh Tgk Fadli (33), seorang guru fiqih dan ushul fiqih di Dayah Jeumala Amal (DJA) Lueng Putu, Pidie Jaya.

Fadli adalah satu dari enam guru kitab gundul kuning di dayah tersbut. Ayah satu anak ini  mengaku sebelumnya ia adalah santri dari Dayah Raudatunmuarif Cot Trueng, Krueng Mane, Aceh Utara. Ia belajar di sana sejak usia 8 tahun.

Sejak bulan Januari 2008 dia mulai bergabung dengan DJA, berbekal ilmu  nyantri dari dayah tempat ia menimba ilmu sebelumnya. “Saya bercita-cita ingin menjadi guru kitab kuning karena memang sangat menarik,” ujar suami dari Nailin Muna ini.

Diakui, sulit merangkul anak-anak menggemari kitab gundul kuning. “Kitab Arab tanpa baris ini menjadi suatu pelajaran paling tidak diminati remaja. Kalau dihitung cuma 70 persen yang mau serius dan bisa,” katanya.

Keseriusan santri sangat tergantung keberhasilan mempelari ilmu tersebut, karena ini adalah salah satu nilai rapor yang tidak boleh merah. Sehingga wajar saja jika sulit, namun semua santri terus dilatih setiap hari selama enam tahun mondok di DJA.

Mempelajari kitab kuning merupakan salah satu pelajaran rutin bagi santri putra dan putri. “Jadwal belajar kitab kuning ini biasanya selesai Shalat Isya dan Subuh, diatur menurut kelas masing-masing,” katanya. Bagi Tgk Fadli, setiap guru harus punya trik sendiri bagaimana caranya agar bisa mengajak santri supaya untuk cepat paham dan mampu mengartikan baris demi baris urutan tulisan Arab tersebut. Konon lagi di zaman serba internet sekarang ini, tentunya kondisi itu menjadi tantangan tersendiri.

“Saya beri gambaran apa untung dan ruginya anak-anak belajar kitab kuning, karena ini adalah bekal untuk akhirat dan hari tua. Sangat disayangkan jika generasi sekarang lebih pinter internet ketimbang baca baca kitab,” tuturnya.

Oleh sebab itu, teungku yang senantiasa berpeci ini berpesan supaya generasi muda tidaklah malas belajar kitab kuning. “Ini sebagai bekal di akhirat dan hari tua. Tiada yang lebih indah selain kenangan di akhirat nanti,” sebutnya. (nur nihayati)

biodata:  

Nama : Tgk Fadli
Istri: Nailin Muna
Asal : santri Dayah Raudatunmuarif  Cot Trueng, Krueng Mane, Aceh Utara
Sejak 2008: mengajar di Dayah Jeumala Amal

2 komentar: