Tak Semua yang Ku Mau Ku Miliki

"Kadang apa yang kita inginkan dan angankan, bisa tersedia secara prasmanan. Namun, tidak sedikit yang sangat kita inginkan tidak bisa terpenuhi."
Secarik kertas itu masih tersimpan rapi dalam dompet biruku, aku ulangi sekali lagi membacanya untuk memastikan bahwa aku masih seperti dulu ketika pertama kali ku dapatkan kertas itu dari kakak. Aku pikir memang benar adanya, aku punya segalanya dari barang elektronik termahal sampai yang baru pun aku punya. Walau aku masih 19 tahun aku sudah punya rumah sendiri, hadiah ayah di sweet seventeen ku. Jangan kira aku minta ya…
"Apa yang Zeefa inginkan akan ayah penuhi, namun tidak yang satu ini!" Tegas ayah ketika beberapa kali aku mengutarakan keinginanku yang sangat aku harapkan.
"Kenapa yah?" protesku.
"Sudahlah Zeef," tiba-tiba kakaku sudah berada disampingku merangkul pundakku. Tangisku tidak bisa terbendung lagi, tumpah sudah air bah yang selama ini kutahan.
"Kenapa? Salahkah Zeef meminta ini kepada ayah? Bukankah Zeef berhak kak?" Protesku yang kedua kali, kali ini kepada kakak.
"Memangnya Zeef benar-benar butuh?" tanyanya, namun aku hanya diam.
“Coba kau perhatikan tetangga kita, Haji Mukhtar. Beliau memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji dari zaman ketika beliau muda, dan baru tahun lalu beliau haji.”
"Apa hubungannya haji dengan permintaanku kak? Kakak semakin ngawur saja!" Aku tambah pusing dengan jawaban-jawaban kakak.
"Begini, ketika kita menginginkan sesuatu kemudian kita berdo'a, ada sebagian permintaan kita yang tidak langsung dikabulkan oleh Allah, mungkin permintaan kita belum sesuai dengan kita saat ini. Namun kita tidak tahu, mungkin Allah punya waktu yang lebih tepat untuk memberikannya kepada kita, atau malah Dia hendak memberikan yang lebih baik dari yang kita inginkan."
Akhirnya aku menganggukan kepalaku, berpura-pura faham dengan apa yang disampaikan oleh kakak, aku sudah malas berfikir! Namun dalam hati, aku masih merasakan kedongkolan yang luar biasa, “Kenapa mereka tidak bisa mengerti aku sih?”
***
Aku tersenyum sendiri mengingat hal tersebut, aku malu. Malu pada diri sendiri yang sudah ngotot kepada ayah dan kakak, yang segala sesuatu harus di turuti. Yach, mungkin suatu saat aku akan mendapatkannya sebagaimana yang dikatakan kakak. Batinku.
"Ukhty Zeefa, ada telpon dari Indonesia." Salah seorang teman mengabariku.
Aku langsung menuruni tangga asrama tempatku tinggal kini. Asrama salah satu universitas di timur tengah, ya, tidak lama setelah aku mengetahui bahwa permintaanku ketika itu tidak bisa dikabulkan oleh ayah, aku memilih untuk kuliah di tempat yang jauh dari rumah, akhirnya beasiswa dari universitas timur tengah yang ketika itu aku dapat langsung aku ambil.
"Assalamu'alaikum," salamku, aku menunggu jawaban dari seberang.
"Zeef, ini kakak. Bagaimana kabarmu? Sudah lama kami tidak mendengar kabar darimu, keluarga merindukanmu Zeef. Ada salam kangen dari ayah."
“Jawab salam dari Zeef dulu dong kakak sayang, Zeef sekarang kan muslimah sejati." Aku mencoba mengingatkan dengan sedikit bercanda.
"Hehe… wa'alaikum sayang Zeefa sang muslimah sejati. Emang kakak bukan muslim?"
"Ada apa kak?” Tanyaku agak malas mendengar jawaban kakak yang tidak serius.
"Kan tadi kakak sudah bilang kalau kakak kangen. Memang Zeef tidak kangen?. Apa Zeef tidak ada keinginan untuk pulang?"
"Ya pasti Zeef kangen lah kak, tapi Zeef belum pengen pulang, masih banyak ilmu yang Zeef belum timba di sini. Kalau ayah dan kakak kangen, kenapa tidak kesini saja menjenguk Zeef?" Aku mencoba menawarkan solusi.
"Ah Zeef, ngapain juga kakak sama ayah ke sana? Yang ada cuma padang pasir sama onta."
Penolakan kakak yang secara gamblang tersebut hampir memancing emosiku, namun aku memilih untuk sekedar menasihatinya sedikit. "Kenapa begitu, kak? Di sini juga bumi Allah, di manapun kakak berpijak, pastinya akan menginjakkan kaki di bumi-Nya. Datanglah kak, bersama ayah!" Bujukku padanya.
"Mana mau ayah, Zeef?!"
"Bujuklah, kak. Zeef yakin ayah mau kalau kakak yang bujuk. Kata-kata kakak lebih bisa diterima oleh ayah."
Tapi kakak tetap menolak dan tidak mau membujuk ayah untuk menjengukku di sini. Akhirnya aku menyerah. Telpon ditutup sebelum kami mencapai kesepakatan apa-apa, hanya kami tahu bahwa kami sama-sama memiliki rasa rindu satu sama lain.
Aku jadi teringat ayah. Dulu, aku adalah anak kebanggaan ayah. Tapi itu dulu ketika aku tidak meminta suatu hal yang membuat ayah sedih, dan sekarang aku meninggalkannya hanya karena permintaanku tak terpenuhi. Sebenarnya, ada sedikit penyesalan dalam hati namun segera ku tepis dengan lembut. Aku akan pulang kalau sudah selesai kuliah dan bisa menata hati untuk bertemu dengan ayah.
"Seharusnya saat ini kamu sudah bersikap dewasa Zeef!" Kata-kata kak Andrew tersebut terngiang jelas di benakku. Kakak benar, memang seharusnya aku sudah bisa bersikap dewasa di umurku sekarang ini.
***
"Zeefa, ada pesanan tiket pulang untukmu liburan ini." Salah seorang sahabatku menyodorkan tiket di depanku.
Aku mengernyitkan jidatku, bingung. "Siapa yang kasih ini?" Tanyaku heran.
"Sudahlah Zeef, siapa yang memberi itu tidak penting, yang pasti tiket itu untukmu dari uang halal. Lebih baik kau menerimanya untuk pulang ke Indonesia liburan ini. cobalah untuk berbakti kepada ayahmu!"
Aku semakin bingung dengan jawaban temanku yang tiba-tiba memberikan tiket pulang ke Indonesia. Apalagi ia ikut menyangkut ‘berbakti kepada ayah’. Apa hubungannya dengan tiket dadakan??
***
Akhirnya aku pulang juga dengan ‘tiket hadiah’ yang sampai saat ini belum aku ketahui juga siapa yang memberikannya. Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta jam sepuluh siang. Setelah menyelesaikan urusan-urusan di dalam bandara, aku langsung keluar dan mencari-cari sosok kakak atau ayah yang menjemputku
Dan akhirnya aku melihat sebuah kertas bertuliskan ‘Azeefatul Aazefah’, itu namaku! Aku langsung merasakan kebahagiaan tiada tara dan menghampiri tulisan tersebut.Dan ternyata itu kakak!
"Ya ampun Zeef, lama banget tahu nungguin kamu," keluhnya ketika aku sampai di dekatnya.
Sambutannya yang begitu dingin itu langsung menghilangkan kesenanganku seketika. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ayah mana?" Tanyaku jutek.
"Ayah tidak bisa ikut jemput. Lebih baik kita cepat pulang sekarang, pasti kamu sudah kangen dengan ayah."
Seperti biasa, kakak langsung berjalan tanpa menawarkan bantuan untuk membawa barang-barangku. Hampir saja air mataku tumpah, tapi aku berusaha menahannya. Mungkin kakak memang kecapaian menunggu kedatanganku. Akhirnya aku mengikuti langkahnya yang terus keluar dari ruangan bandara.
Di mobil, kami hanya terdiam. Sesekali aku memperhatikan kakak yang duduk di sampingku. Pandangannya jatuh keluar mobil, seperti ada yang dipikirkannya. Aku mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan perkembangan pekerjaannya.
"Oh iya kak, bagaimana pekerjaan kakak?"
"Baik," jawabnya singkat.
Aku menyerah dan memilih kembali diam, dari pada mendapat jawaban yang malah memancing emosiku.
Tidak lama setelah kami meninggalkan bandara, akhirnya mobil kami sampai juga di depan gerbang rumah. Aku tersenyum senang karena bisa kembali melihat gedung biru yang besar itu, itu rumahku. Namun aku mendekatkan pandanganku, di balik gerbang, aku melihat banyak orang berkerumun di depan rumahku.
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku, "Di rumah lagi ada pesta ya kak? Kok rame banget?” Aku pikir, mungkin ayah ingin merayakan kedatanganku. Aku mencoba tersenyum membayangkan perasaan bahagia ayah sampai membuat pesta untuk menyambutku.
Namun seketika senyumku hilang, aku melihat banyak bendera kuning. Siapa yang meninggal? Kembali berbagai pertanyaan memenuhi benakku. Tapi aku cepat menghibur diri, mungkin Mbok Inah yang meninggal. Tapi aku tetap dihantui rasa penasaran, kenapa banyak sekali yang menziarahi Mbok Inah? Padahal Mbok Inah bukan orang yang terkenal, kehidupannya hanya banyak dihabiskan di dalam rumah.
Setelah mobil berhenti, aku langsung membuka pintu mobil dan turun. Tiba-tiba Mbok Inah berlari ke arahku dan memelukku sambil menangis.
“Sabar yo nduk, sampean wes ra nduwe bapak!" (Sabar ya nak, kamu sudah tidak punya ayah!-red)
Aku tambah bingung, tidak faham dengan apa yang diucapkan Mbok Inah.
"Ada apa sich mbok, kok pake peluk-peluk segala? Ayah mana mbok? Aku pengen ketemu sama ayah, aku udah kangen banget!" ujarku sambil berusaha melepas pelukannya.
"Ayah sudah meninggal nak!"
"APA?"
Akhirnya aku sadar, ternyata semua ini, orang-orang yang ramai berkumpul di rumahku dengan bendera kuning di mana-mana, adalah karena kematian ayah. Aku hanya terdiam, tidak bisa menangis. Aku menatap kak Andrew, meminta kebenaran atas jawaban Mbok Inah. Kak Andrew mengangguk pelan dan mencoba menggapaiku dalam pelukannya, ia ingin menguatkanku.
Aku menolak. Dengan pandangan kosong, aku masuk rumah dengan dibantu Mbok Inah. Di ruang tamu, aku melihat sebuah jasad berbalut kain putih dibaringkan di atas ranjang pendek. Akhirnya tangisku pecah juga melihat sosok ayah yang sudah memejamkan mata untuk selamanya.
"Menangislah Zeef, kalau itu bisa membatmu lega." Kakak terus di sampingku sambil memeluk pundakku. Aku merasakan betul kekuatan darinya. Tapi aku hanya bisa menangis tanpa mengucap apa-apa. Kerinduan membucah kepada ayah tidak bisa terbayar, ayah sudah meninggalkanku untuk selamanya. Belum lagi rasa penyesalan atas permintaanku dulu yang membuat ayah begitu sedih.
Aku mendekati jenazah ayah, di sampingnya seorang wanita ayu menangis tersedu-sedu. Aku membuka penutup kepalanya, terlihat wajah pucat kurus memejamkan mata untuk selamanya. Ketika mendekati jenazah ayah, aku mencoba berhenti menangis. Akhirnya aku mengambil wudlu dan bergabung bersama orang-orang untuk menshalati jenazah ayah. Setelah itu, jenazah ayah langsung dikebumikan.
Ketika melihat jenazah ayah hendak dikubur, tangisku kembali pecah. Aku merasa belum bisa menerima perpisahan ini. aku masih ingin bersama ayah! Setidaknya izinkan aku meminta maafnya untuk kesalahanku! Jangan pergi ayah! Biarkan aku membahagiakanmu dulu, untuk mengganti kesedihan yang sudah aku tinggalkan untukmu! Ayaaaaaaaah!!!
***
Aku membuka mata, silau! Aku dimana? Pelan-pelan, aku menolehkan wajahku untuk mengetahui di mana aku sekarang. Ternyata di sampingku ada wanita ayu yang aku ingat ketika itu menangis tersedu di sampig jenazah ayah.
"Kamu sudah sadar Zeef?" wanita itu langsung tersenyum melihat aku membuka mataku.
"Anda…siapa?" Tanyaku padanya.
Wanita itu kembali tersenyum, “Aku permintaanmu.”
Aku tambah bingung. Wanita itu menangkap kebingungan dari wajahku. ia menyodorkan amplop biru untukku. “Ini surat dari ayahmu.”
Anakku, si putri biru.
Ketika umur semakin tua, ketika itu ayah teringat bahwa ayah harus segera memenuhi keinginan dan kemauan anak tersayangnya, yang ayah anggap sangat sulit, karena ayah belum bisa melupakan sosok seorang wanita yang ayah cinta hingga kini. Waktu itu hati ayah masih tertutup oleh keelokan wajahnya yang jelita, ia ibumu. Ayah belum bisa untuk mencintai selainnya. Ayah mencoba untuk mencari yang cocok buat dirimu dan kak Andrew. Ayah takut kalian tidak menyukainya. Putri biru, sekarang, cobalah kau pandang wanita di hadapanmu. Ialah permintaanmu yang sangat sulit bagi ayah untuk memenuhinya. Ayah harap kamu bahagia dan bisa berbakti padanya, maafkan ayah yang terlambat memenuhi permintaanmu.
Salam Sayang,
Ayah
Ku pandangi wajah wanita ayu itu dan dengan pelan aku bergumam, "Tapi, aku tidak ingin kehilangan ketika aku mendapatkan."
The end
By: Razeeta Alby
(Sumber : http://himmahfm.com/id/keputerian/cerpen-islami/35-tak-semua-yang-ku-mau-ku-miliki.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar