Hikmah Yang Tersembunyi



"Namaku Santi, dari Rembang, aku kamar A2, kelas 1B." Kataku memperkenalkan diri pada salah satu santri baru juga.
"Aku Tia, dari Solo, kamar A3, kelas 1A."
"Wah, berarti kita bersebelahan kamar dong!" Jawabku.
Itulah perkenalan singkatku dengan Tia sewaktu di mushalla sambil menunggu jamaah (maklum santri baru makanya cari kenalan banyak, hehe).

***
"Haduh ukhty Nadin itu ya, memang seram dan wajahnya menakutkan, apalagi kalau lagi ngobra'i solat, nadzoman, dll," keluhku pada salah satu teman kamarku.
"Hu um, iya ya, sereeeem, matanya itu lo yang bikin takuuuuuut!" sahut temanku.
"Waduh kamarnya di depan kamar kita lagi, pasti setiap kita mengarahkan pandangan keluar kamar akan menemukan sosok ukhty Nadin yang menakutkan," kataku lagi menimpali.
***
"Ayo shalat jamaah di  mushala! Yang telat berdiri lo…"
Setelah mendengar suara ukhty Nadin, aku dan teman-temanku yang tadinya asyik berleye-leye di kamar langsung buru-buru bubar barisan. Ada yang sibuk mengambil mukenah, ada yang langsung keluar untuk antri wudlu.
"Tuh kan ukhty Nadin emang paling sreggep deh kalau ngobra'i. Kalau udah ngobra’i, semua langsung takut.” Aku sengaja sedikit pelan berkomentar pada Tia, teman sekamarku yang juga langsung memakai mukenahnya setelah mendengar suara ukhty Nadin barusan.
"Hu'um, denger suaranya aja langsung ngibrit semua, hehe," Jawabnya.
"Loh, ini kok malah ngobrol ya? Ayo cepat berangkat jama’ah. Jangan salahin kakak kalau dihukum berdiri ya!" ternyata ukhty Nadin sudah ada di belakang aku dan Tia. Kami berusaha mengempet tawa dan cepat-cepat keluar kamar.
***
Suatu hari aku benar-benar merasa sangat sumpek, rasanya aku sudah tidak betah lagi di pondok ini, karena aku memang 'anak mama' yang tidak pernah kekurangan apapun, tidak pernah dikekang oleh peraturan apapun, hidupku selalu bebas, apapun yang aku mau selalu ku miliki. Tapi sekarang di pondok ini hidupku serasa berbalik arah. Penuh peraturan, tidak bebas dan sebagainya. Akhirnya aku mencoba untuk menenangkan diri di jemuran. Aku menemuka tempat asyik di mana aku bisa memandang pemandangan di bawah. Langsung saja aku duduk di situ sambil menghentikan tangisku
"Nen, ada santri baru yang mencoba bunuh diri di atas jemuran sambil nangis, ayo lihat siapa dia!!" Seru salah satu pengurus pada temannya.
Aku tidak sadar, ternyata aku kini menjadi pusat perhatian para pengurus. Di belakangku sudah berkumpul beberapa pengurus yang ketakutan. Mereka belum berani menegurku karena takut aku langsung loncat dari tempatku duduk sekarang.
Tapi lama-lama aku merasakan juga keramaian yang terjadi di sana. Aku menoleh dan ku dapati beberapa kakak pengurus dengan wajah khawatir. Aku sedikit kebingungan.
"Santi tolong jangan gegabah! Santi mau apa sih? Entar ukhty turutin deh, tapi santi turun dulu ya dari situ!" Kata ukhty Etna salah satu pengurus kamarku.
Lama aku diam, mencoba mengerti keadaan yang terjadi. Akhirnya aku mengerti, pasti mereka mengira aku ingin bunuh diri. Aku menemukan ide. Aku tambah keras menangis dan sekalian menumpahkan ketidak betahanku di pondok ini. Mereka tambah bingung dan tidak berani mendekat.
"Santi…”
Aku sedikit memelankan tangisanku. Sepertinya aku kenal betul suara yang barusan memanggilku. Aku mencoba mencari sosok yang memanggilku barusan. Benar saja, dia ukhty Nadin! Aku langsung diam dan benar-benar merasa malu.
"Santi, ayo turun dek! Kalau ada masalah coba dishare bareng-bareng, siapa tahu kita punya solusi yang lebih baik." Kali ini kurasa ukhty Nadin beda dengan biasanya, kini ia lebih lembut atau memang sifat asli ukhty Nadin seperti itu? Aku tidak tahu. Yang jelas, ajakannya barusan langsung menyihirku seketika. Aku turun dari pagar jemuran dan menghampiri ukhty Nadin.
Lama aku berbincang-bincang dengan ukhty Nadin. Walaupun awalnya aku agak canggung dan segan menumpahkan perasaanku, tapi lama-lama karena ketelatenan ukhty Nadin, aku bisa menumpahkan semua uneg-uneg dan perasaan tidak betah yang sudah lumayan lama aku rasakan.
Subhaanallah, setelah banyak berbagi cerita dengan ukhty Nadin, aku benar-benar merasa lega dan perasaanku lebih tenang. Banyak dari nasihat-nasihatnya yang langsung bisa mengingatkanku tanpa menggurui. Aku sadar, ternyata aku sudah salah menilai ukhty Nadin yang selama ini aku kira ia bagai polisi wanita yang suka mengganggu ketenangan hidup orang lain. Padahal kini, ia telah berhasil membuat hatiku lebih tenang. Ternyata ia bisa dengan cepat memahamiku dan mengerti apa yang aku rasakan.
***
Alhamdulillah dengan hadirnya ukhty Nadin dan nasihat-nasihat yang ia berikan padaku waktu itu, bisa mengisi kekosonganku dan akhirnya membawa perubahan hebat untukku.
Aku yang dulunya nakal, pemalas, tukang bolos, selalu pura-pura sakit setiap akan ada kegiatan yang tidak kusuka, kini berubah 180 derajat menjadi aku yang rajin, selalu hadir dalam setiap kegiatan dan tidak pernah berani melanggar peraturan, seenteng apapun peraturan itu.
Aku sangat berterimakasih kepada ukhty Nadin, yang telah mengajari banyak hal dan memberikan nasihat-nasihat yang bisa terus mengingatkanku dalam kelengahanku.
***
Hari itu aku seperti mendengar kabar buruk. Tia memberi kabar itu sambil tersenyum penuh kebahagiaan, begitu juga teman-teman kamarku.
“Tau nggak, ukhty Nadin sebentar lagi mau boyong lo dari pondok. Dia mau melanjutkan kuliah di luar negeri.”
Aku tersentak. Beda dengan teman-teman kamarku yang bersorak. “Yang bener? Di luar negeri di mana?”
Tia hanya acuh mengangkat bahunya. Kemudian ada salah satu teman yang menjawab, “Kalau nggak salah sih mau ke Yaman.”
Aku merasa sangat sedih. Di tengah sorak gembira teman-teman kamarku, karena mereka yang paling tidak suka dan takut dengan ukhty Nadin. Aku lemas mendengar ukhty Nadin akan meninggalkan pondok ini, ke tempat yang sangat jauh pula.
Padahal aku baru bisa mengambil banyak pelajaran darinya, dari kata-katanya yang selalu bisa membangkitkan semangatku yang kendor dan mendorong asaku untuk terus melambung. Tapi sebentar lagi sosok yang menjadi panutanku akan meninggalkan pondok. Aku benar-benar sedih dan menyesal, kenapa baru sekarang aku menyadari kebaikan dalam diri seseorang, dan ketika aku menyadarinya malah ia akan pergi?
Satu pelajaran penting yang sekali lagi bisa aku ambil dari diri ukhty Nadin, bahwa tidak selamanya kebaikan itu tampak jelas dari diri seseorang. Dan akan sangat merugikan bagi diri kita, kalau kita hanya menilai seseorang dari luarnya saja, karena sebenarnya setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Untuk kekurangannya, tidak sepatutnya bagi kita untuk membesarkan-besarkannya. Dan untuk kebaikannya, kita harus terus mencari sampai kita bisa mendapatkannya dan kemudian mengambil pelajaran-pelajaran penting yang dapat kita amalkan dalam kehidupan kita.
Terima kasih ukhty Nadin atas semua pelajaran berharga yang tertoreh dari pertemanan kita. Selamat tinggal ukhty Nadin. Semoga Allah selalu bersamamu dan semoga kau selalu dalam lindunganNYA.

The End

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar