Tsunami di Dayah al-Muslim

USAI MEMBACA DAN meletakkan al-Qur’an di rak buku pagi itu, aku ingat hari ini ada janji dengan seorang ustaz. "Hari minggu jam delapan pagi kita bertemu di Dayah al-Muslim ya..!" katanya dalam pesan singkat ponsel malam tadi.

"Dayah al-Muslim?" pikirku. Ah, ada keraguan untuk datang ke sana. Bukan bermaksud untuk tidak menepati janji, tetapi mengapa janji bertemu harus di dayah itu. Apa tidak ada tempat lain, seperti kafe atau warung yang menyediakan jajanan ringan misalnya, kan lebih santai.

Sebenarnya hatiku sangat berat untuk memenuhinya, tetapi pesan singkat itu sudah terlanjur ku-ia-kan. Jika tidak ingin mengecewakan, mau tidak mau aku harus ke Dayah al-Muslim. Mau tidak mau, aku juga harus belajar dan membiasakan diri dengan tempat dan nama Dayah al-Muslim. Pasalnya nama itu membuat aku jadi ngeri untuk mengingatnya. Hal itu mulai kurasakan dan terus menghantuiku sejak tiga tahun silam. Saat gempa dan gelombang tsunami melanda Aceh.

Bagaimana tidak, saat tengah asyik-asyiknya kami bermusyawarah untuk merumuskan konsep dan agenda kegiatan dayah Aceh ke depan dalam sebuah forum antarsantri dari seluruh kabupaten se-Aceh. Belum lagi masalah-masalah klasik lainnya yang sering dihadapi masing-masing santri ketika berhadapan dengan birokrasi, terlebih dalam keadaan konflik bersenjata antara TNI dan GAM yang terus berlangsung saat itu. Ketika agenda acara sudah sampai pada perumusan hasil musyawarah, gempa dan air laut itu tiba-tiba datang dari arah barat menghantam segalanya. Bersama sejumlah santri lainnya, aku terjebak dalam keporak-porandaan kota Banda Aceh, termasuk Dayah al-Muslim tempat di mana acara dilangsungkan.

Air bah bewarna hitam pekat bergulung-gulung dengan tumpukan material menerjang dan menghempaskan semua. Ribuan mayat kemudian terlihat terlentang tak karuan di antara ruas jalan dan trotoar. Jerit tangis dan takbir menyebut asma Allah menggema dari segala arah. Ketakutan dan kengerian menghimpit semua orang, dan aku nyaris mati berdiri dalam suasana yang semakin panik. Tak terkendali.

Kejadian itulah yang membuatku agak alergi dan trauma dengan tempat yang bernama Dayah al-Muslim, meskipun saat ini dayah itu kabarnya sudah dibangun dengan gedung baru dan megah. Sejak itu pula yang tergambar di kepalaku adalah gulungan ombak besar dan gempa yang dahsyat, reruntuhan rumah dan gedung-gedung, barisan mayat yang ditutupi dengan spanduk bekas atau koran bekas serta seribu keperihan lainnya.

Dengan nada agak gemetar dan sepatah-patah, aku ceritakan hal itu kepada Ihsan, teman satu kamar, mengapa aku demikian trauma dengan tempat yang bernama Dayah al-Muslim, tepat tiga tahun silam, pagi jam delapan lebih sedikit. Ihsan menganggukkan kepala tanda memaklumi penyebab traumaku selama ini. Tetapi kemudian Ihsan malah mendesakku untuk memenuhi janji dengan Ustaz Husni di Dayah al-Muslim. Dengan segala pertimbangan, akhirnya aku turuti nasehat Ihsan.
"Sudahlah, itukan kejadian yang sudah lama, dan itu juga adalah bentuk lain dari ujian Allah kepada kita. Terlebih profesi yang kau geluti selama ini kan terkait dengan dayah, sebaiknya kau pergi saja," katanya bijak sesaat sebelum aku melangkah keluar rumah.

Dengan ucapan tawakaltu alallah aku melangkah ke sana, lagian tidak enak dengan Ustaz Husni, sahabat dan seorang guru ngaji di sebuah dayah ternama di Kota Banda Aceh. Nanti dikira aku tidak setia dalam berjanji. Apalagi sore itu ada pertemuan penting dengan sejumlah teman santri muda yang tergabung dalam himpunan santriwan se-Aceh pimpinan Ustaz Husni. Dengan perasaan yang kurang fit dan badan yang tidak begitu segar, semua kenangan menyangkut nama Dayah al-Muslim aku singkirkan. Langkah demi langkah kuayunkan, setiap jejak kaki aku berharap bayangan mengerikan itu tidak menghantui lagi.

Tiba di pintu pagar besi, di samping gedung Dayah al-Muslim tempat yang biasa dimanfaatkan para santri untuk berkumpul. Aku kaku memegangi pintu pagar, bumi tiba-tiba bergoyang dengan kuatnya, pepohonan dan sejumlah bangunan yang berada di sekitarnya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan mengeluarkan suara krek-krek seperti menari. Gempa yang berkekuatan besar itu membuat seisi gedung kusaksikan berhamburan keluar menyelamatkan diri. Berpegangan pada tiang atau pohon kayu, sebagian besarnya malah tiarap ke tanah seperti di tengah berlangsungnya perang. Orang-orang semakin histeris sambil menyebut asma Allah ketika gempa kedua datang lagi dengan goncangan yang semakin dahsyat. Kejadian pagi minggu itu datang dengan sangat tiba-tiba, sejumlah penduduk tidak sempat mengganti pakaian, mandi atau sarapan pagi. Mereka keluar rumah dengan pakaian seadanya dengan keadaan lemah. Subhanallah.

Beberapa saat memang agak tenang, gempa telah usai. Namun berselang lima menit kemudian, gempa itu datang lagi menggoyangkan permukaan bumi. Kali ini kekuatannya melebihi dari kedua gempa sebelumnya. Teras Dayah al-Muslim yang berukir dengan ukiran kaligrafi kusaksikan runtuh menimpa sejumlah sepeda motor yang diparkir di bawahnya. Rumah toko seberang jalan juga rebah, melintang menghalangi jalan raya. Sejumlah bangunan lainnya juga bernasib sama. Seakan tak ada kekuatan kontruksi besi baja yang mampu bertahan dari goncangan. Semua runtuh, merapat ke tanah. Allahu akbar.

Kaku. Kakiku gemetar. Tanganku masih memegangi pagar besi dengan kuat. Aku kemudian tersentak kaget, dan sadar bahwa aku berada di gedung Dayah al-Muslim yang baru. Bukan di gedung Dayah al-Muslim tiga tahun silam saat gempa dan gelombang raksasa itu terhempas ke daratan. Antara sadar dan tidak, dengan pandangan yang masih berkabut aku mencoba memasuki halaman samping Dayah al-Muslim.

Tak berselang lama, halusinasi itu muncul lagi. Bumi kembali bergoyang hebat, gempa. "Tolong, tolong aneuk lon aneuk lon…Allahu akbar!" teriak ibu itu dari sebelah kanan dan kiriku. Semakin lama teriakan itu semakin banyak dan ramai. Aku tidak tahu dari mana saja arahnya, yang jelas semua berteriak minta tolong. Tangis dan dengusan nafas mereka saling berburu. "Ie laot wateh!" teriak mereka sambil terus berlari. Badan mereka berlumuran lumpur hitam, di sebagian punggung, tangan dan muka terlihat mengeluarkan darah merah, seperti tersayat seng rumah, atau benda lain yang hanyut dengan deras lalu membenturnya.

Seperti orang gila, aku tersunguk di dinding gedung Dayah al-Muslim itu, sendiri melindungi diri dari kemungkinan gelombang air susulan. Merapatkan badan dan kedua tangan memegangi kepala. Aku terus menundukkan kepala sambil berjongkok tanpa berani melihat ke sekeliling. Berbagai bentuk pertanyaan terus bermunculan dalam kepalaku. Diam-diam aku berharap sambil berdoa dalam hati, jika di antara mereka ada yang sudi mengangkat dan membawaku pergi ke tempat perawatan.

Eranganku semakin menjadi-jadi, sehingga membuat orang-orang juga semakin banyak mengelilingi. Sejenak aku tersentak, sadar dan bangun dari tempat semula. Aneh, orang-orang seperti tengah menonton lelucon. Di antara mereka ada yang tertawa terbahak-bahak, sebagian yang lain tersenyum geli, sebagiannya lagi mengucap nama Allah. Sekujur tubuhku basah dan gemetar tanpa dapat kusembunyikan. Astagfirullah.

Seketika itu, ada suara yang memanggil namaku. suaranya seperti kukenal. Ya, itu suara Muhksin. Seketika itu pula aku sadar telah berada di Dayah al-Muslim, bukan pada saat kejadian gempa dan gelombang tsunami tiga tahun silam. Lemah, kujawab salam sambil meraih lengan Mukhsin.

"Ustad telah menunggu di musalla!" katanya. Halusinasi dan ingatanku akan bencana besar itu buyar seketika seiring tahmid dan tahlil dari santri-santri lain yang mencoba membantu.

Di hadapan lingkaran santri lainnya yang sudah menunggu bersama Ustaz Husni aku meminta maaf, tanpa pernah menceritakan traumaku di Dayah al-Muslim, termasuk tentang apa yang beberapa menit yang lalu kualami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar