Status Sosial Wanita Barat Saat Ini; Seperti inikah yang ingin kita raih? (II)

Pada bagian terdahulu penulis telah memaparkan angka-angka statistik mengenai aborsi dan perkosaan yang dipicu oleh maraknya kebebasan, kesetaraan dan pergaulan bebas di dunia Barat. Pada bagian berikut ini penulis lebih lanjut memaparkan fakta-fakta semakin terpuruknya status sosial wanita dari segi kesehatan, rumah tangga, rokok dan alkohol, meningkatnya beban wanita sebagai orang tua tunggal dan eksploitasi wanita sebagai komoditi dalam kancah pornografi.


Status Sosial Wanita Barat Saat Ini
(bagian kedua)

Oleh: Ismail Adam Patel



PERKAWINAN DAN PERCERAIAN

Di akhir abad ke 21 terlihat adanya peningkatan hidup bersama, yakni pasangan ’hidup bersama’ sebelum menikah. Hampir setengah dari wanita yang lahir pada tahun 1960an berkata bahwa mereka pernah hidup bersama selama beberapa waktu. Tren sosial ini seharusnya melicinkan perbedaan diantara pasangan dan memastikan bahwa mereka serasi sebelum mereka mengikat simpul dan membuat komitmen perkawinan. ‘Percobaan’ ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemungkinan akan sebuah perkawinan yang sukses, namun kenyataannya peningkatan angka (orang yang) hidup bersama telah meningkatkan angka perceraian. Saat ini Inggris memiliki angka perceraian yang paling tinggi di Uni Eropa. Pada tahun 1983 terdapat lebih dari 143.000 perceraian diputuskan oleh pengadilan. Pada tahun 1994, jumlah ini meningkat menjadi 165.000.

Di USA, angka perceraian meningkat dari 708.000 di tahun 1970 menjadi 1.175.000 di tahun 1990. Manakala pada periode yang sama angka perkawinan sebenarnya terlihat statis, meskipun ada peningkatan jumlah penduduk pada ‘usia siap menikah’.

Data survey perceraian tidak menunjukkan penderitaan dari pasangan yang mengalami kegagalan dalam perkawinan, atau anak-anak yang dunianya hancur karena perpisahan orang tua. Jumlah perkawinan di Inggris menurun dari 389.000 di tahun 1983 menjadi 391.000 di tahun 1994. Dari jumlah itu, hampir sepertiganya berakhir dengan perceraian, dan alasan yang paling umum untuk perceraian ini adalah perselingkuhan.

Kesedihan yang tersembunyi dari keluarga yang bercerai tidak disangkal lagi adalah anak-anak dan bahkan pasangan pun tidak luput dari trauma. Perceraian saat ini merupakan faktor yang menduduki urutan pertama yang berhubungan dengan angka bunuh diri di USA. Orang-orang yang bercerai memiliki kemungkinan melakukan tindak bunuh diri tiga kali lebih banyak daripada orang-orang yang menikah.

Semakin manusia bergantung kepada kemampuan intelektualnya dan mengabaikan petunjuk dari maka akan semakin besar penderitaan


ORANG TUA TUNGGAL

Masih tersisa data statistik menyedihkan yang terus meningkat sejak datangnya apa yang disebut ‘kebebasan wanita’. Pada sepuluh tahun terakhir, jumlah kelahiran dari ibu yang tidak menikah meningkat dari hampir 90.000 di tahun 1982 menjadi 215.000 di tahun 1992. Dari semua bayi yang lahir di tahun 1992, 31% terlahir dari ibu yang tidak menikah. Hampir 2.000 anak perempuan dibawah umur 15 tahun melahirkan, dan lebih dari 23.000 ibu baru pada tahun itu berumur di bawah 20 tahun.

Dengan meningkatnya kelahiran yang tidak sah, kelahiran bayi dari perkawinan menurun dari 890.000 di tahun 1961 menjadi 511.000 di tahun 1994. Kenyataan di balik angka-angka statistik ini bahwa wanita menanggung sebagian besar – jika tidak keseluruhannya – tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak ini. Bentuk kezaliman terhadap perempuan ini tidak boleh diabaikan; laki-laki harus diwajibkan mengambil beban itu dan bertanggung jawab terhadap anak-anak yang lahir karena mereka.

Sebuah survey resmi menunjukkan bahwa jumlah keluarga beserta anak-anak dengan orang tua tunggal telah meningkat lebih dari seperlima (lebih dari 20%); di Barat Daya Inggris, angka itu lebih mendekati 30% atau sepertiga. Survey yang sama menunjukkan bahwa kurang dari 60% wanita berumur 18 – 49 tahun menikah. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi; pertumbuhan jumlah wanita sebagai orang tua tunggal yang harus bertahan dengan uang yang sangat sedikit; 42% diantaranya memiliki penghasilan kotor setiap minggu kurang dari 100 pound. Dampak kemiskinan terhadap pencapaian pendidikan, angka kejahatan, kesehatan, nilai-nilai moral, dan harga diri telah didokumentasikan dengan baik dan menunjukkan laporan di Inggris dan kawasan lainnya, mengenai “munculnya kelas bawah” yang masa depannya suram tak terlukiskan.

Beban penghidupan keluarga pada wanita Barat telah meningkat dan pada tahun 1994, USA memiliki 9.9 juta ibu (sebagai orang tua tunggal) harus menghidupi dan membesarkan anak-anaknya dibandingkan hanya 1.6 juta ayah sebagai orang tua tunggal. Keluarga yang ‘normal’ dengan ayah, ibu dan anak-anak telah menjadi ilusi di dunia Barat dan menuai malapetaka. Di USA –pada tahun 1970, 40% rumah tangga dibentuk dari pasangan yang menikah. Di tahun 1995, hanya 25% rumah tangga yang dibentuk dari pasangan yang menikah. Dampak sosial dari orang tua tunggal terhadap anak-anak sangat mengenaskan. 75% dari anak-anak yang berada di rumah sakit ketergantungan obat-obatan adalah dari keluarga dengan orang tua tunggal. 20% anak-anak yang berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal mengalami masalah dalam belajar, emosi, dan prilaku. 63% dari kasus bunuh diri dilakukan oleh orang-orang dari keluarga dengan orang tua tunggal.

Beban yang dipikul wanita yang ditimbulkan dari ‘orang tua tunggal’ adalah merupakan salah satu bentuk penganiayaan yang paling brutal

KESEHATAN

Manakala tiba pada masalah kesehatan, kondisi wanita kurang baik dibandingkan pria, khususnya jika hal itu menyangkut masalah kesehatan mental. Ibu tunggal, khususnya, mengalami kesehatan yang lebih buruk dibandingkan wanita dari keluarga yang lengkap. Data Survey Kesehatan Umum menunjukkan ibu tunggal lebih mungkin menderita sakit yang berkepanjangan, dan kecil kemungkinannya menilai kesehatan mereka dalam kurun waktu dua belas bulan dalam keadaan baik. Dalam survey ini, hanya 43% dari ibu tunggal menggambarkan kesehatan mereka dalam kondisi ‘baik’ dan hampir 39% dilaporkan mengidap penyakit yang berkepanjangan.

Wanita juga menderita kesehatan psikologis yang lebih buruk daripada pria. Mereka mengunjungi dokter keluarga lebih sering untuk masalah kesehatan mental, dan lebih sering diberikan resep untuk mengobati kegelisahan dan depresi. Wanita kurang baik dan tidak bahagia daripada pria karena pekerjaan yang mereka lakukan dan kondisi dimana mereka melakukan pekerjaannya diciptakan oleh sistem kapitalis untuk mendapatkan margin keuntungan.

Jika anda hendak menanyai sampel yang diambil secara acak dari penduduk dan menanyakan kepada mereka. “Siapa yang lebih menderita sesuatu yang berhubungan dengan gangguan mental?” Mayoritas akan menjawab: wanita. Namun demikian, hal ini tidak selamanya menjadi benar. Studi dari tahun 1850 sampai dengan Perang Dunia Kedua menunjukkan bahwa laki-laki lebih rentan terhadap gangguan mental dibandingkan wanita. Mayoritas studi sebelum tahun 1850 atau Perang Dunia Kedua, keseluruhan angka (kasus gangguan mental –pent.) lebih tinggi untuk laki-laki.

Dalam kasus kesehatan mental wanita, penemuan menunjukkan perbedaan tajam sejak tahun 1950 ke atas, dengan munculnya apa yang disebut kesetaraan status. Sebuah laporan dari B.P Dohrenwend dalam American Journal of Sociology menunjukkan bahwa sebelum tahun 1950, untuk 7 laki-laki yang didiagnosa menderita penyakit mental, hanya 2 orang wanita dengan diagnosa serupa, setelah tahun 1950, ratio berubah menjadi 22 orang wanita untuk setiap dua orang laki-laki. Bencana yang tertera dalam statistik penyakit mental ini mengiringi munculnya ‘kebebasan wanita’ di Barat.

Meningkatnya insiden penyakit mental di kalangan wanita Barat sejak Perang Dunia Kedua muncul karena ‘wanita menemukan posisi mereka di dalam masyarakat lebih menyedihkan dan kurang dihargai dibandingkan pria. Alasan dari besarnya rasa frustasi dapat ditemukan dari beban yang tidak adil yang diletakkan pada wanita yang ‘terbebaskan’. Dia diharapkan menampilkan karakter yang maskulin di tempat kerja, dan juga diharapkan tetap mempertahankan ‘sisi feminimnya’, dua beban yang terlalu berat untuk kebanyakan perempuan, yang pada akhirnya akan mengalami kegagalan.

Para peneliti penyakit mental juga menemukan bahwa seseorang yang sendirian (tidak atau belum menikah –pent.) lebih rentan terhadap penyakit mental daripada orang-orang yang menikah, dan prognosis mereka tidak sebaik (yang telah menikah). Di awal-awal pergantian abad, Durkheim mencatat pemutusan ikatan perkawinan terutama sekali berbahaya untuk kesehatan mental, sebagaimana ditunjukkan dengan tingginya angka bunuh diri di kalangan pasangan yang ditinggal mati dan yang bercerai. Sejak saat itu, semua studi membandingkan kesehatan mental pasangan yang ditinggal mati atau yang bercerai dengan mereka yang menikah juga menemukan bahwa angka penyakit mental lebih tinggi pada yang pertama. Dengan meningkatnya angka perceraian, prospek kesehatan wanita khususnya terlihat buruk.


ALKOHOL DAN MEROKOK

Perkembangan Barat dalam hal persamaan kedua jenis kelamin telah diikuti oleh peningkatan sifat-sifat buruk yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari laki-laki, yaitu mengkonsumsi alkohol dan rokok. Menurut laporan yang baru diterbitkan di Sunday Times, jumlah wanita yang minum lebih dari ‘batas yang direkomendasikan’ meningkat. Survey menunjukkan bahwa jumlah laki-laki yang melampaui batas itu turun 26% manakala wanita yang melakukannya naik sebesar 12%.

Merokok biasanya merupakan kebiasaan laki-laki, dalam waktu yang lama wanita dianggap tidak pantas merokok. Namun demikian, jumlah wanita yang merokok saat ini lebih kurang sama dengan jumlah laki-laki yang merokok. Meskipun kampanye anti rokok telah menyebabkan banyak orang dewasa menghentikan kebiasaan ini, perusahaan rokok merespon dengan menjadikan orang-orang muda sebagai target, dengan pemikiran bahwa jika mereka bisa mendapatkan remaja dan anak-anak (sebagai target, mereka akan tetap memperoleh pasar yang siap bagi produk mereka. Laporan menunjukkan bahwa lebih banyak wanita muda yang mulai merokok dibandingkan dengan laki-laki muda, yang menunjukkan bahwa dalam waktu dekat mayoritas perokok adalah wanita.


PHORNOGRAFI

Pertumbuhan pesat industri pornografi sejak tahun 1950an kembali menjadi cermin dari kemajuan ‘persamaan’ di Barat. Pornografi tidak menampilkan wanita sebagai manusia dengan perasaan dan kebutuhan, namun hanya sebagai komoditi yang tersedia yang dapat digunakan atau disingkirkan. Wanita diajak untuk percaya bahwa dengan menjual tubuhnya, mereka telah meraih persamaan, namun sebaliknya mereka telah menjadi bawahan kaum laki-laki yang menggunakan ide persamaan untuk mengeksploitasi wanita untuk keinginan dan keuntungan mereka.

Di tahun 1980an, terlihat langkah lebih jauh dalam memanipulasi wanita. Sheila Jeffreys, seorang feminist menulis: “Ketika kampanye anti pornografi pertama kali berlangsung, adalah mungkin untuk menyerang pornografi sebagai desain produk laki-laki untuk konsumsi laki-laki. Hal ini tidak benar di tahun 1980an. Kepada wanita diberitahukan oleh para ahli teori libertarian bahwa karena ‘wanita sekarang ini (kedudukannya) setara’, maka tidak mengapa wanita menikmati pornografi. Ideologi ini lebih tepat mengalahkan emansipasi wanita daripada mendukungnya. Ide menjual pornografi kepada kaum wanita sejak tahun 1980an telah menjadi cara yang lebih piawai dan efektif dalam mendukung kekuasaan laki-laki.

Pornografi adalah kategori media yang terbesar di seluruh dunia. Ia memasuki rumah kita melalui televisi dan majalah-majalah, demikian juga video, film dan media satelit. Secara global, pornografi menghasilkan $7 juta setiap tahun, lebih dari film-film dan industri musik digabungkan. Di Amerika Serikat, film-film porno meraup $1 juta setiap hari, 30% melebihi film-film jenis yang lain. Di Inggris, 20 juta copy majalah porno terjual setiap tahun, menghasilkan pendapatan per lebih dari £500 juga per tahun. Di Swedia, sebuah ‘toko sex’ yang besar menawarkan lebih dari 500 judul majalah porno, dan sebuah toko (kecil) di sudut jalan dapat menawarkan hingga 50 judul. Diperkirakan 18 juta laki-laki Amerika membeli majalah porno setiap bulan. Pornografi di seluruh dunia telah menjadi semakin kejam dan mengerikan, dan menyebar melalui teknologi baru: pornografi di internet, termasuk ‘hard core’ dan pornografi anak-anak, merupakan masalah yang terus tumbuh di dunia. Dunia Barat juga mengekspor tren yang menyimpang ini, yang mengeksploitasi wanita dalam bentuk fashion yang paling dibenci, kepada apa yang disebut sebagai ‘dunia ketiga’ (yakni negara-negara yang dipandang terbelakang –pent

Inilah keadaan yang dibawa ‘peradaban, kemajuan dan persamaan’ Barat kepada manusia, dimana wanita dijadikan korban kejahatan dan perlakukan yang tidak senonoh yang begitu meningkat, yang orang-orang dengan akal sehat akan membenci dan berusaha untuk menghentikannya.

Ringkasnya, dalam satu jam terakhir hal-hal berikut ini telah terjadi di Inggris, 1 orang wanita diperkosa, 18 orang bercerai, 20 wanita melakukan aborsi, dan 24 orang anak dilahirkan wanita tanpa suami. Kejadian-kejadian ini akan berulang lagi pada jam berikutnya, dan berikutnya. Saat anda melalui rutinitas harian anda tidur dan berjalan, keadaan yang menyedihkan ini akan terus berlangsung, dan jumlah korban akan terus bertambah.

Jawaban apa yang mungkin diajukan? Bagaimana kejahatan biadab terhadap wanita ini dapat dikurangi, jika tidak dapat dihilangkan keseluruhannya? Jalan yang seharusnya merupakan persamaan antara kedua jenis (laki-laki dan perempuan) hanya membuat persoalan menjadi bertambah buruk, dan setiap orang yang waras akan melihat bahwa dunia ini menjauh dari keadaan yang beradab kepada keadaan yang biadab dan jahiliyah. Banyak hal serupa yang berlaku sebelum datangnya Islam. Dalam sebuah masyarakat yang memandang dirinya berada di garis depan peradaban dan perhatian terhadap manusia, bagaimana bisa standar rendah moral yang berlaku sekarang dapat diterima?


Apa jalan keluar dari persoalan ini? Bagi orang-orang yang dianugerahi keikhlasan dan pemahaman, tidak perlu mencari terlalu jauh. Siapa yang lebih baik memberi petunjuk daripada Allah, Pencipta laki-laki dan perempuan? Ketika membandingkan cara-cara Barat dengan nilai-nilai Islam, akan segera terlihat dimana letak kesalahan manusia dan bagaimana Islam dapat mengarahkan manusia kembali ke atas jalan yang lurus.


Sesuatu yang paling sering menjadi penyebab persoalan yang telah dibahas di atas kenyataan bahwa masyarakat Barat mendorong pembauran yang bebas antara laki-laki dan perempuan. Kesopanaan (yang merupakaan pembawaan) alami satu jenis kelamin terhadap lainnya dipandang terbelakang, ketinggalan zaman dan tidak beradab. Segala usaha untuk mempertahankan rasa malu segera dicap ‘menekan’ atau ‘menindas’. Namun mempertimbangkan konsekuensi yang fatal dengan pembauran bebas (ikhtilath) dari data-data statistik di atas, sikap yang pantas untuk diambil telah jelas.

Laporan para Psikolog baru-baru ini sependapat bahwa manakala ada dua orang jenis berbeda (yakni laki-laki dan perempuan) di tempat yang tertutup, ide-ide dan konotasi seksual akan terlintas dalam benak mereka. Sesuatu hal yang biasa dan sering terjadi dimana pertemuan yang demikian timbul pada atmosfir pembauaran bebas sampai pada tingkat dimana hampir semua bencana dialami wanita pada hari ini. Bertindak atas dasar impulsive ini telah mendorong ke arah kecelakaan bagi masyarakat modern. Aborsi, perceraian, orang tua tunggal, bunuh diri, perkosaan, dan semua penyakit sosial lainnya yang mengecilkan hati. Seribu empat ratus tahun yang lalu, Nabi Muhammad (shallallahu alaihi wasallam) telah memperingatkan manusia bahaya ikhtilat dan menasihatkan dengan peringatan yang keras. Dalam perkara ini, Beliau mengabarkan kepada kita bahwa ketika pria dan wanita berkhalwat berdua, maka yang ketiga adalah syaithan, bekerja untuk menanamkan kejahatan diantara keduanya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, 75% dari semua kasus perkosaan dilakukan oleh laki-laki yang mengenal korbannya secara pribadi. Di tempat kerja, 38% laki-laki yang posisi memegang kekuasaan (jabatan) menggunakan kedudukannya untuk mengambil keuntungan dari wanita yang bekerja bersama mereka. Penyebab perceraian yang paling sering adalah perselingkuhan, yang dimudahkan oleh pencampuran (ikhtilat) kedua jenis kelamin tersebut. Alasan dari seorang anak seumur 15 tahun hamil adalah karena sekolah yang semula dipisahkan (antara murid laki-laki dan perempuan –pent.), telah bercampur baur, dan kini dipenuhi kejahatan dimana tekanan kawan sebaya sangat merajalela dan persetubuhan adalah sesuatu yang (biasa) berlaku sekarang ini. Angka aborsi secara sederhana merefleksikan rendahnya penghargaan yang padanya kehidupan manusia dipertaruhkan.

Di dunia Barat, persamaan bagi wanita berarti tampak sama dengan kaum pria, melakukan pekerjaan yang sama, dan menampakkan sikap dan karakteristik yang sama dengan pria. Masyarakat Barat telah membayar untuk pendekatan yang tidak alami ini dengan menderita kehilangan yang besar dari moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan. Persamaan kedua jenis kelamin tidak berarti bahwa laki-laki dan perempuan harus terlihat sama. Di dalam masyarakat dimana uang, kecantikan dan maskulinitas yang diperhitungkan, seorang wanita harus bekerja, berpakaian dan bersikap seperti laki-laki dan pada saat yang sama tetap cantik layaknya seorang model agar dapat berdiri sejajar dengan kaum pria. Ini menuju pada kerusakan nilai-nilai akhlak dan kodrat kewanitaannya.

Islam telah menetapkan peran yang unik dan saling melengkapi bagi keduanya laki-laki dan perempuan, sebuah isu yang akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian berikutnya. Pertama-tama, kampanye yang keliru yang ditujukan kepada masyarakat Barat yang menyampaikan kepada mereka bahwa Islam mengajarkan cara-cara yang tidak manusiawi dan penindasan terhadap kaum wanita menjadi penekanannya. Musuh-musuh Islam dengan penuh dengki memanipulasi kenyataan bahwa wanita Muslimah diperintahkan untuk berpakaian sopan, dan dilarang untuk bercampur dengan lawan jenisnya. Lebih lanjut sebuah cemeti ditarik untuk menampar Islam dengan menyimpangkan fakta mengenai poligami, Mereka menyalahpahami ajaran Islam sebagai bukti dan menggambarkan Islam sebagai ajaran penindasan terhadap wanita. Barat telah begitu sukses dalam mempropagandakan pandangan yang menyimpang ini yang bahkan sebagian Muslim menjadi korbannya. Hal ini tidaklah begitu mengherankan manakala diketahui bahwa kaum Muslimin cenderung lebih akrab dengan literatur Barat daripada warisan Islam sendiri. Di Inggris saja, antara tahun 1969 dan 1978 lebih dari 22.000 buku dan 43.000 jurnal mempublikasikan bahan-bahan yang memfitnah ajaran Islam. Manakala setiap bentuk media dan pendidikan seperti televisi, sekolah, guru-guru, teman-teman, rekan kerja, buku-buku, koran dan majalah semuanya menyampaikan pesan-pesan yang menyimpang bahwa Islam menindas wanita; tidak merngherankan jika orang-orang yang kurang terdidik, inilah kenyataan dalam perkara ini, sangat mudah dipalingkan dari jalan yang benar.

Untuk membalas maraknya informasi yang keliru ini, kebutuhan umum untuk mendidik masyarakat secara luas mengenai ajaran Islam yang benar tentang wanita agar segera dilakukan. Al-Qur’an dan Hadits cukup spesifik dalam menjelaskan perkara ini dan bab beriktunya akan menjelaskan kedudukan wanita bersumber dari keduanya*)


*) Bab tersebut tidak akan kami turunkan artikelnya, namun tulisan serupa dapat anda baca pada artikel “Kedudukan Wanita dalam Islam” karya DR. Jamal A. Badawi yang telah diposting dalam blog ini.


Diterjemahkan secara bebas dari: “Islam is The Choice of Thinking Women” chapter: Social Position of Western Women’ Today, dari: http://www.islambasics.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar