Siwak (sikat gigi) pada saat berpuasa

Siwak (sikat gigi) merupakan pekerjaan yang disunatkan dalam setiap waktu, sesuai dengan hadits Nabi SAW sebagaimana berikut :
1. sabda Nabi SAW :
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب.
Artinya : Bersiwak itu menjadikan mulut bersih dan diridhai Tuhan.(HR. Baihaqi )1

2. sabda Nabi SAW
لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة.
Artinya : Seandainya aku tidak takut memberatkan atas umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap (akan) shalat.” (H.R. at-Turmidzi 2 dan lainnya)

Namun demikian golongan Syafi’iyah mengecualikannya bagi orang berpuasa. Hukum bersiwak pada saat tergelincir matahari bagi orang yang berpuasa, hukumnya adalah makruh. Berkata Imam Nawawi :
“Tidak makruh bersiwak kecuali sesudah tergelincir matahari bagi orang yang berpuasa”.3

Dalil pendapat ini antara lain hadits Nabi SAW :
والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك.
Artinya : Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut tidak enak orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (Bukhari 4 dan Musllim 5 )

An-Nawawi mengatakan :
“Ashab kita (ulama Syafi’iyah) telah menjadikan hadits ini sebagai dalil makruh bersiwak sesudah tergelincir matahari bagi orang yang berpuasa, karena hal itu dapat menghilangkan bau mulut dengan ini sifat dan keutamaannya. Meskipun bersiwak juga utama, tetapi bau mulut orang berpuasa lebih utama”.6

Khuluf (bau mulut) dalam hadits di atas, maksudnya adalah bau mulut orang berpuasa setelah tergelicir matahari. Kesimpulan ini berdasarkan hadits Nabi SAW :
أعطيت أمتي في شهر رمضان خمسا ......قال وأما الثانية فإنهم يمسون وخلوف أفواههم أطيب عند الله من ريح المسك
Artinya : Diberikan kepada umatku lima perkara dalam bulan Ramadhan. Seterusnya beliau bersabda : Adapun yang kedua, mereka berada pada saat setelah tergelincir matahari, sedangkan bau mulut mereka di sisi Allah lebih harum dari bau kasturi (H.R. al-Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya dan Abu Bakar al-Sam’any dalam Amaliah, beliau berkata : “ Ini hadits hasan”. Seperti ini juga telah dikatakan oleh An-Nawawi dalam Syarah Muhazzab berdasarkan cerita dari Ibnu Shalah)7

Namun demikian, Imam an-Nawawi, seorang ulama mujtahid tarjih dalam Mazhab Syafi’i telah memilih pendapat yang berbeda dengan Mazhab Syafi,i, mazhab yang dianutnya sendiri, mengenai hukum sikat gigi pada saat tergelincir matahari bagi orang yang berpuasa. Beliau berpendapat tidak makruh sikat gigi bagi orang orang puasa, baik sebelum atau sesudah tergelincir matahari. 8

DAFTAR PUSTAKA
1.Baihaqi, Sunan Baihaqi, Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. I, Hal. 34, No. Hadits 138
2.At-Turmidzi, Sunan at-Turmidzi, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 18, No. Hadits : 22
3.An-Nawawi, Minhaj at-Thalibin, dicetak pada hamisy Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 51
4.Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Thauq an-Najh, Juz. III, Hal. 26, No. Hadits : 1904
5.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. II, Hal. 806, No. Hadits : 1151
6.Imam an-Nawawi, Syarah Muslim, Dar Ihya at-Turatsi al-Araby, beirut, Juz. VIII, Hal. 30
7.Jalaluddin al-Mahalli, Syarah al-Mahalli, dicetak pada hamisy Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 51
8.Ibnu Qasim al-Ghazy, Fath al-Qarib, dicetak pada hamisy Hasyiah al-Bajury, al-Haramain, Juz. I, Hal. 44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar