Perjalanan Kata Menuju Langit

Doa adalah kata kata yang baik. Dan ketika kita mengucapkanya, sesungguhnya kita telah melepaskannya dari mulut kita, agar ia berjalan menuju langit. Jika kata itu memiliki wacana penyangga yang kuat, ia akan segera melampaui cakrawala, menembus angkasa dan mencapai langit.
Dan wacana penyangga itu adalah amal shaleh. Dengarlah firman Allah SWT, “Kepada-Nyalah kata yang baik itu menaik dan amal shaleh-lah yang akan (terus) mengangkatnya.” (QS. Fathir:10)
Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan kita beramal shaleh
sebelum berdoa. Misalnya bersedekah dan melakukan kebaikan-kebaikan
lainnya.
Sujud Sang Jiwa
Kata dalam doa adalah untaian surat dari sang jiwa kepada Tuhannya.
Maka jika engkau ingin surat itu sampai kepada-Nya, tulislah ia saat
jiwamu benar-benar sedang bersujud pada-Nya.
“Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tak kan pernah ada lagi di bumi ini yang akan menyembah-Mu, selamanya”
Rasulullah saw terus melantunkan doa itu, sampai selendangnya terjatuh, sampai Abu Bakar ra datang meng-hampirinya dan mengatakan, “Cukuplah, Ya Rasulullah, Allah pasti akan menolongmu.”
Tidakkah engkau lihat bagaimana Rasul yang mulia itu merengek-rengek
di depan Tuhannya, Tuhan yang mengutusnya menyampaikan risalah ini
dan berjanji akan menolongnya ??? Bukankah yang ia ucapkan itu telah
melampaui batas permohonan menjadi sebuah tuntutan ??? Siapakah yang
dapat menjamin bahwa tak kan ada lagi yang menyembah Allah jika
pasukan itu binasa ???
Apakah Allah tidak sanggup menciptakan makhluk lain yang akan
menyembah-Nya ?? Tidak !!!! Tidak !!!
Tapi begitulah kejujuran dalam berharap melahirkan kalimat yang kuat,
penuh keyakinan, yang hampir hampir tak dapat di bedakan dari
tuntutan.
Maka dengarlah jawaban bagi jiwa yang bersujud itu. Dan kemudian
Allah swt mengabulkan doanya dengan mengutus Jibril untuk mengatakan
kepadanya:
“Ambillah segenggam tanah, lalu taburkanlah ke wajah mereka.” Lalu
beliaupun melakukannya, dan tak seorangpun dari pasukan musyrik
melainkan tanah itu pasti mengenai matanya, lalu lubang hidungnya dan
mulutnya dari gengggaman tanah itu, maka mereka pun lari tunggang
langgang. “
(HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmadi)
Dan Raga pun Menyertainya
Apa yang dilakukan oleh sang jiwa saat ia bersujud, haruslah terlihat
pula dalam wacana raga kita. Demikianlah Rasulullah SAW menganjurkan
kita agar mengekspresikan sujud sang jiwa itu dalam gerak raga kita.
* Maka ia menganjurkan kita bersuci sebelum berdoa
* Ia juga menganjurkan kita menghadap ke kiblat saat berdoa
* Akhirnya, ia juga menganjurkan mengangkat kedua tangan kita saat berdoa
Sebab jiwa yang bersujud itu haruslah suci, maka raga yang
menyertainya sebaiknya juga suci. Sebab walaupun Allah swt ada di
semua penjuru alam, namun Ia jugalah yang menetapkan Ka’bah sebagai
kiblat kaum muslimin. Sedang mengangkat kedua tangan merupakan
ekspresi paling sempurna dari permohonan dan rasa butuh, dan bahwa;
“Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Mulia, dan merasa malu menolak, ketika seseorang mengangkat tangannya ke langit dan mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa”
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Santun Dalam Berharap
Jika engkau telah melakukan semua itu, maka rangkailah kata-katamu
dalam doa dengan susunan yang baik, sopan dan indah.
Karena engkau sedang meminta, maka mulailah permohonan itu dengan
pujian-pujian yang baik kepada siapa engkau memohon.
Lalu haturkanlah selawat serta salam kepada rasulullah saw, sebab
“Itu akan dibalas sepuluh selawat dari Allah ” (HR. Muslim)
Sebab, ” Rasulullah saw pernah mendengar seorang laki laki berdoa
tanpa memuji Allah dan menghaturkan selawat baginya, maka beliaupun
mengatakan “Orang ini terlalu tergesa-gesa”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Kemudian bertaubatlah dan memohon ampunlah (istigfar) atas dosa-dosa
yang telah engkau lakukan.
Sebab dosa-dosa itu akan menjadi hijab yang menghalangi sampainya doa
ke langit. Dan hanya taubat dan istigfar itu yang akan mengangkat
hijab itu. Nama Allah yang maknanya sesuai dengan makna permohonanmu.
Sebab,
“Rasulullah saw penah mendengar seorang laki laki berdoa dengan
mengucapkan:
“Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon pada-Mu dengan kesaksianku bahwa
Engkau adalah Allah, Tiada Tuhan selalin Engkau, Yang Maha Esa,
Tempat bergantung, Yang tiada beranak dan tidak di peranakkan, Yang
tiada sekutu bagi-Nya.”
Maka Rasulullah saw pun bersabda;
“Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan sebuah nama yang jika
Ia di mintai dengan nama itu, Ia pasti memberi, dan jika Ia dipanggil
dengan nama itu, Ia pasti menjawab.”
(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban).
* Lalu tutuplah doa itu dengan penuh keyakinan akan terkabul, sembari menghaturkan pujian-pujian kepada Allah swt.
“Dan akhir dari doa mereka, adalah bahwa; segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”
(QS. Yunus : 10)
Memilih Waktu, Tempat dan Momentum yang Tepat
Diantara ajaran Rasulullah saw tentang doa adalah perlunya
memperhatikan waktu, tempat dan momentm tertentu, dimana Allah
berkenan menerima dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya dan tidak
menolaknya.
Adapun waktu waktu itu adalah ;
* sepertiga terakhir dari waktu malam
* ketika adzan sedang berkumandang
* antara adzan dan iqomat
* setelah shalat fardhu
* ketika imam naik ke mimbar di waktu Jum’at sampai selesai selesai shalat
* dan saat-saat terakhir setelah Ashar dari hari Jum’at itu.
Adapun tempat-tempat tertentu itu,adalah ;
* ketika melihat Ka’bah
* ketika melihat masjid Rasulullah saw
* ketika melakukan Thawaf di Baitullah
* ketika berada di sisi multazam
* ketika berada di belakang maqam Ibrahim
* ketika berada di sisi sumur Zamzam
* ketika berada di atas bukit Shofa dan Marwah
* ketika bearada di Arafah, Mudzalifah, Mina
* ketika berada di sisi Jamarat (tempat melontar jumrah) yang tiga
* ketika berada di masjid
Adapun momentum yang tepat itu adalah;
* ketika turun hujan
* ketika menghadapi barisan musuh dalam perang
* ketika sujud dalam shalat
* ketika sedang terzalimi
* keti ka sedang berada dalam perjalanan
* ketika sedang berbuka puasa
Hijab Antara Langit dan Bumi
Boleh jadi engkau telah memenuhi semua syarat doa diatas, tapi engkau
melihat bahwa tak ada tanda-tanda doamu terkabul. Maka jika engkau
menyaksikan situasi itu, segeralah menengok kedalam dirimu apakah ada
hijab yang menghalangi doamu sampai ke langit :
Dosa
Itulah salah satu hijab doa. Sebab dosa memang harus dibalas dengan
hukuman, dan hukumannya adalah penolakan. Sebutlah misalnya,
mengkomsumsi makanan atau minuman atau pakain yang haram. Itulah yang
disebut oleh Rasulullah saw dalam sabdanya;
yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut masai, wajahnya berdebu,
ia menengadahkan kedua tangannya ke langit, sembari berseru;
“Ya Tuhan .. Ya Tuhan ..”
Tapi makanannya haram,
minumannya haram,
pakaiannya haram,
dan di beri makan yang haram,
bagaimana mungkin doanya akan terkabul?”
(HR. Muslim dan Abu Huraerah)
Berdoa untuk sebuah dosa.
Ini juga merupakan hijab yang menghalangi doa sampai ke langit.
Terlalu tergesa gesa mengharap jawaban
Ini juga merupakan faktor yangmenyebabkan doa tertolak. Misalnya
ketika engkau mengatakan; “Aku telah berdoa, tapi tidak di kabulkan.
Jadi aku berhenti saja berdoa.Percuma”
Memutuskan tali silaturrahim
Inilah faktor lain yang juga menghalangi doa sampai ke langit.
Tiga yang terakhir ini kita temukan dalam sabda Rasulullah saw ;
“Doa seorang hamba selalu akan terkabul,
selama ia tidak berdoa untuk sebuah dosa,
memutuskan tali silaturrahim,
dan tidak tergesa gesa.”
(HR Muslim dan Abu Hurairah)
Kebaikan Yang Tertunda
Tapi jika engkau telah melakukan semua syarat itu, dan merasa tidak
melakukan dosa-dosa yang akan menghalangi doamu sampai ke langit,
bahkan juga senantiasa bertaubat dan memohon ampunan-Nya, namun doa
yang engkau sampaikan kepada Allah swt belum juga memperlihatkan
hasil, itulah saatnya engkau harus melakuan nasihat Ibnul Jauhari
berikut ini:
“Teruslah berdoa, dan jangan pernah bosan melakukannya. Sebab mungkin
penundaan jawaban lebih baik bagimu. Atau bahkan penerimaan itu sama
sekali bukan maslahat bagimu. Tapi engkau pasti di beri pahal. Dan
doamu dikabulkan dengan cara yang lebih bermanfaat bagimu. Dan boleh
jadi diantara manfaat itu bahwa permintaanmu tidak dikabulkan, tapi
diganti dengan sesuatu yang lain.”
“Dan jika Iblis datang padamu lalu berkata; “Berapa banyak sudah
engkau berdoa, namun tak juga ada yang terkabul” Maka katakanlah
padanya ;
“Aku justru beribadah dengan doa itu. Dan aku percaya bahwa jawaban
doaku itu jelas ada. Tapi mungkin ia di tunda untuk maslahat yang
lain, dan jawaban itu tidak juga kunjung datang, yang pasti aku telah
beribadah dan mendapat pahala”
“Maka janganlah pernah memohon sesuatu tanpa menyertainya dengan
permintaan bahwa jawaban itu baik bagimu. Sebab boleh jadi ada bagian
dari dunia yang engkau minta, yang jawabannya justru akan
menghancurkanmu. Dan jika untuk urusan dunia engkau di perintahkan
bermusyawarah dan meminta pendapat sahabatmu dalam berbagai masalah
yang engkau tidak sangggup menyelesaikannya, dan melihat bahwa apa
yang terjadi padamu itu tidak bermanfaat, maka mengapa engkau tidak
menanyakan Tuhanmu tentang apakah yang engkau minta itu bermanfaat
bagimu atau tidak ? bukankah Tuhanmu yang Maha mengetahui semua
maslahat? Demikianlah istikharah itu merupakan bagian dari cara
bermusyawarah yang cerdas”
Seni Menggunakan Pedang
Demikianlah engkau melihat bahwa seni berdoa itu mirip dengan seni
menggunakan pedang. Pedang yang tajam itu jelas penting. Tapi yang
jauh lebih penting adalah orang yang memegang pedang itu. Maka pedang
yang tajam, yang tergenggam kuat dalam tangan dingin seorang
pemberani, yang digunakan pada waktu dan sasaran yang tepat; itulah
yang akan mematikan musuh.
Tapi jika ada salah satu dari unsur itu yang tidak efektif, maka
selamanya dia itu tak kan menghasilkan pengaruh apa-apa. Sekarang
apakah engkau menguasai seni menggunakan pedang yang bernama doa ???

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar