Menyentuh Al-Qur’an tanpa wudhu’

Berikut keterangan dari para ulama mengenai hukum menyentuh al-Qur’an tanpa wudhu’, antara lain :

1.Berkata Imam Nawawi :
“Haram hukumnya bagi orang yang berhadats mengerjakan shalat, thawaf, memegang mashaf dan menyentuh lembaran kertasnya. Begitu juga kulitnya berdasarkan pendapat yang sahih”.1

2.Berkata Zainuddin al-Malibary :
“Haram hukumnya bagi orang yang berhadats mengerjakan shalat, thawaf, sujud tilawah, membawa mashaf dan membawa apa saja yang ditulis untuk belajar al-Qur’an, walaupun hanya sebagian ayat, seperti yang tertulis di atas papan pelajaran”.2

Dalil fatwa di atas, antara lain :
1.Firman Allah :
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (79) تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (80)
Artinya : Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (mashaf). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, yang diturunkan dari Rabbil 'alamiin.(Q.S. al-Waqi’ah : 77-80)

Menurut keterangan Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husainy al-Damsyiqi al-Syafi’i bahwa dhamir “hu” pada perkataan “لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ “ kembali kepada kitab al-Qur’an dan الْمُطَهَّرُونَ bermakna orang yang suci. Sehingga makna ayat tersebut adalah : “Tidak menyentuh kitab al-Qur’an itu kecuali oleh orang yang suci”. Mengembalikan dhamir “hu” kepada kitab Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah lafazh yang dekat penyebutannya. Tidak mungkin memaknai الْمُطَهَّرُونَ dengan makna malaikat, karena ayat ini adalah kalam istitsna yang mengandung nafi dan itsbat. Kalam nafi dan itsbat, hanya pada sesuatu yang mempunyai kemungkinan diitsbat dan juga kemungkinan dinafikannya. Ini hanya ada pada manusia, tidak pada malaikat, karena malaikat diciptakan Allah dalam keadaan selalu suci. 3

2. Penafsiran sebagaimana tersebut di atas didukung oleh hadits yang menceritakan bahwa Nabi SAW pernah mengirim surat ke negeri Yaman dan dalam surat tersebut tertera perkataan Nabi SAW : “ لا يمس القرآن إلا طاهر” (al-Qur’an tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang suci).4

Kesimpulan
1.Menyentuh Al-Qur’an dengan tidak dalam keadaan suci, hukumnya adalah haram
2.Demikian juga membawanya, karena qiyas kepada menyentuh al-Qur’an

DAFTAR PUSTAKA
1. An-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, dicetak pada hamis Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 34-35
2.Zainuddin al-Malibary, Fathul Mu’in, dicetak pada hamisy I’anah at-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz, I, Hal. 65
3.Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husainyal-Damsyiqi al-Syafi’i, Kifayatul Akhyar, Darul Khair, Damsyiq, Juz. I, Hal. 81
4. Hadits ini telah diriwayat oleh Imam Malik dalam Kitab al-Muwatha’, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Mesir, Juz. I, Hal. 199

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar