Kisah Nabi Nuh 'alaihi sallam

Nabi Nuh 'alaihi sallam adalah nabi keempat sesudah Nabi Adam 'alaihi sallam, Nabi Syits 'alaihi sallam dan Nabi Idris 'alaihi sallam. Beliau merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam 'alaihi sallam. Ayahnya adalah Lamik (Lamaka) bin Metusyalih Mutawasylah (Matu Salij) bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyi bin Syits bin Adam. Antara Nabi Adam 'alaihi sallam dan Nabi Nuh 'alaihi sallam ada rentang 10 generasi dan selama periode kurang lebih 1642 tahun.

Dari Ibn Abi Hatim diceritakan Abu Umamah radhiyallahu 'anhu mendengar seorang berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, apakah Adam seorang nabi?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya". Orang tersebut bertanya lagi, "Berapa lama antaranya dengan Nuh?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Sepuluh generasi."

Imam Suyuti menceritakan bahwa nama Nuh bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Syria yang artinya "bersyukur" atau "selalu berterima kasih". Al-Hakim mengatakan dinamakan Nuh karena seringnya beliau menangis, nama aslinya adalah Abdul Ghafar (Hamba dari Yang Maha Pengampun). Sedangkan menurut kisah dari Taurat, nama asli Nuh adalah Nahm yang kemudian menjadi nama sebuah kota, kuburan Nuh berada di desa Al-Waqsyah yang dibangun di daerah Nahm.

Nabi Nuh 'alaihi sallam mendapat gelar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebutan Nabi Allah dan Abdussyakur yang artinya "Hamba (Allah) yang banyak bersyukur". Dan beliau termasuk di antara 5 nabi yang mendapat gelar "Ulul 'Azmi" karena kesabarannya yang tinggi.

Nabi Nuh 'alaihi sallam hidup selama 950 tahun. Beliau mempunyai isteri yang bernama Wafilah, sedangkan beberapa sumber mengatakan isteri Nabi Nuh 'alaihi sallam adalah Namaha binti Tzila atau Amzurah binti Barakil dan memiliki empat orang putera, yaitu Kana'an, Yafith, Syam dan Ham.

Nabi Nuh 'alaihi sallam diutus untuk kaum Bani Rasib. Saat itu kaum kaum Bani Rasib adalah penyembah berhala. Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.

Kisah Nabi Nuh 'alaihi sallam dan kaumnya tercantum dalam Qur'an surat Nuh ayat 1-28 dan surat Huud ayat 25-48.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan." (QS. Huud: 25-26).

Namun da'wah Nabi Nuh 'alaihi sallam ditentang oleh kaumnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta." (QS. Huud: 27).

Semakin giat usaha Nabi Nuh 'alaihi sallam dalam mengajak kaumnya menuju kebenaran, maka semakin keras pula penentangan kaumnya terhadap beliau. Bahkan mereka berani menantang Nabi Nuh 'alaihi sallam untuk mendatangkan azab.

Mereka berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (QS. Huud: 32-34).

Setelah kaum Nabi Nuh 'alaihi sallam selalu menolak ajakan untuk meninggalkan menyembah berhala dan hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Nuh 'alaihi sallam untuk membuat kapal sebelum diturunkan azab bagi kaumnya.

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan AKU tentang orang-orang yang dzalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Huud: 37).

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Hudd: 38-39).

Setelah perahu yang dibuat Nabi Nuh 'alaihi sallam telah jadi dan azab mulai diturunkan maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada Nabi Nuh 'alaihi sallam dan pengikutnya untuk naik ke atas perahu.

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. Huud: 40). Yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan.

Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Huud: 41).

Ketika banjir semakin meninggi tak ada lagi orang-orang kafir dari kaum Nabi Nuh 'alaihi sallam yang selamat, termasuk anak Nabi Nuh 'alaihi sallam sendiri.

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (QS. Huud: 42-43). Nama anak Nabi Nuh 'alaihi sallam yang kafir itu "Kana'an", sedang putra-putranya yang beriman ialah: Syam, Ham dan Yafith.

Setelah kaum kafir dibinasakan Allah Subhanahu wa Ta'ala maka air bah kembali surut.

Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang dzalim." (QS. Huud: 44).

Imam Ath-Thabari mengatakan dari Ishaq bahwa bahtera itu berada di air selama satu tahun, melewati Baitullah dan melakukan perputaran (thawaf) sebanyak tujuh kali lalu Allah mengangkatnya agar tidak tenggelam kemudian menuju Yaman dan kembali lagi ke Judi dan berlabuh di sana.

Diriwayatkan ketika kapal Nabi Nuh 'alaihi sallam berlabuh di bukit Judi pada terjadi hari Asyura. Sedangkan lokasi bukit Judi sebenarnya hingga kini masih banyak diperselisihkan orang. Ada yang mengatakan bahwa ia berada di Armenia, ada yang mengatakan di Iraq, ada yang mengatakan di Turki atau juga di daerah Yaman.

Al-Qurthubi dan Al-Baghawi di dalam tafsirnya masing-masing menjelaskan bahwa bukit Judi berada di daerah jazirah dekat Al-Maushul.

Di dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir menjelaskan bahwa bukit Judi adalah bukit besar yang berada di sebelah timur Jazirah Ibn Umar hingga ke sungai Dajlah, berada dipinggiran Al-Maushul, (panjang bukit itu) dari selatan hingga utaranya sepanjang tiga hari perjalanan dan memiliki ketinggian sepanjang setengah hari perjalanan. Ia adalah bukit yang hijau karena ditumbuhi pepohonan dari eek (kayu) yang di sampingnya terdapat sebuah desa yang bernama desa Ats-Tsamanin sebagai tempat tinggal orang-orang yang diselamatkan bersama Nuh yang berada di dalam bahtera itu. Tentang lokasi ini, Ibn Katsir juga menyebutkan bahwa tidak hanya satu orang ahli tafsir yang menyebutkannya.

Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu'min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (QS. Huud: 48).

Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi Nuh 'alaihi sallam diutus pada kaumnya ketika berumur 480 tahun. Masa kenabiannya adalah 120 tahun dan berda'wah selama 5 abad. Dia mengarungi banjir ketika ia berumur 600 tahun, dan kemudian setelah banjir ia hidup selama 350 tahun.

Para ahli sejarah mengatakan bahwa Nabi Nuh 'alaihi sallam meninggal di Makkah. Sedangkan menurut kisah dari Taurat kuburan Nabi Nuh 'alaihi sallam berada di desa Al-Waqsyah di daerah Nahm.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar