Kisah Nabi Adam 'alaihi sallam

Penciptaan Nabi Adam 'alaihi sallam

Dalam aqidah Islam, khususnya Ahlussunnah wal Jama'ah disepakati bahwa manusia pertama yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Nabi Adam 'alaihi sallam. Sebelum menciptakan Nabi Adam 'alaihi sallam, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan Malaikat, Jin dan alam semesta. Mengenai diciptakannya Jin, Allah berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 27: Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al-Hijr: 27).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Para Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian." (HR. Muslim [2996] dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha).

Mengenai penciptaan Nabi Adam 'alaihi sallam sebagai khalifah di muka bumi diungkapkan dalam Al-Qur'an: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya AKU hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya AKU mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30).

Mengomentari ayat di atas Ibn Katsir dalam kitab tafsir-nya mengatakan: "Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam diciptakan adalah Al-Jan yang suka berbuat kerusuhan."

Ayat lainnya sehubungan dengan penciptaan Nabi Adam 'alaihi sallam antara lain:

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya AKU akan menciptakan manusia dari tanah." Maka apabila telah KU-sempurnakan kejadiannya dan KU-tiupkan kepadanya roh (ciptaan)-KU; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (QS. Shaad: 71-72).

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr: 26).

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu... (QS. Al-A'raf: 11).

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari menyebutkan: "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam pada hari Jum'at, diturunkan ke bumi pada hari Jum'at, bertaubat kepada Allah atas dosanya karena memakan buah pohon Khuldi pada hari Jum'at, dan meninggal juga pada hari Jum'at." (HR. Al-Bukhari).

Wujud Nabi Adam 'alaihi sallam

Manusia seperti halnya bentuk Nabi Adam 'alaihi sallam adalah mahluk Allah Subhanahu wa Ta'ala yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tiin: 4).

Menurut hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Nabi Adam 'alaihi sallam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dalam sanad yang berbeda.

Allah Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Kepada Nabi Adam 'alaihi sallam

Setelah diciptakan dan disempurnakan bentuknya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajarkan ilmu pengetahuan yaitu nama-nama benda seluruhnya kepada Nabi Adam 'alaihi sallam, dimana hal tersebut belum pernah diajarkan kepada para Malaikat.

Dan DIA mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-KU nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah: 31-32).

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Adam 'alaihi sallam untuk memberitahukan kepada para Malaikat nama-nama benda yang telah diajarkan kepadanya.

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah KU katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya AKU mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 33).

Kedurhakaan Iblis dan Terusir dari Surga

...Kemudian Kami katakan kepada para Malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (QS. Al-A'raf: 11).

Pengertian "sujud" pada ayat di atas adalah menghormati dan memuliakan Nabi Adam 'alaihi sallam, jadi bukan sujud dalam arti memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah berfirman: "Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah KU-ciptakan dengan kedua tangan-KU. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shaad: 75-76).

Karena kesombongan Iblis yang merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam 'alaihi sallam dan kedurhakaannya terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tidak mau sujud kepada Nabi Adam 'alaihi sallam, menjadikannya terusir dari surga dan menjadi mahluk yang hina.

Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan." Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at)." Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar AKU akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya." (QS. Al-A'raf: 13-18).

Ibn Katsir rahimahullahu berkata: "Iblis mengkhianati asal penciptaannya, karena dia sesungguhnya diciptakan dari nyala api, sedangkan asal penciptaan Malaikat adalah dari cahaya. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan di sini bahwa Iblis berasal dari kalangan jin, dalam arti dia diciptakan dari api. Al-Hasan Al-Bashri berkata: 'Iblis tidak termasuk Malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin, sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia'." (Tafsir Al-Qur`anul 'Azhim).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullahu mengatakan: "Iblis adalah abul jin (bapak para jin)." (Taisir Al-Karim Ar-Rahman).

Sedangkan syaitan, mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan syaitan, beliau menjawab: "Jin itu meliputi syaitan, namun ada juga yang shalih. Syaitan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh." (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin).

Pernikahan Nabi Adam 'alaihi sallam dan Hawa

Diriwayatkan dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu dan dari banyak sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka mengatakan, "Iblis dikeluarkan dari surga kemudian Adam 'alaihi sallam ditempatkan di surga. Dia berjalan sendirian di surga tanpa ada seorang isteri yang menjadikannya tentram. Suatu ketika ia tertidur dan saat terbangun dia mendapati di sisi kepalanya ada seorang wanita yang sedang duduk. Wanita ini diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari tulang rusuknya, maka Adam pun bertanya kepadanya, 'Siapa kamu?' dia menjawab, 'Wanita'. Adam bertanya lagi, 'Untuk apa kamu diciptakan.' Dia menjawab, 'Agar engkau menjadi tentram denganku.' Para Malaikat mengatakan kepada Adam 'alaihi sallam -untuk melihat kemampuan pengetahuannya-, 'Siapa namanya wahai Adam?' Adam menjawab, 'Hawa.' Mereka bertanya, 'Mengapa Hawa?' Dia menjawab, 'Karena dia diciptakan dari sesuatu yang hidup'." (Bidayah wa Nihayah juz I hal 92-93).

Setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Hawa dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri, maka diserunyalah Hawa dengan katanya: "Siapa engkau? Dan untuk siapa engkau?" Maka menjawablah Hawa: "Aku dijadikan Allah untuk keperluan engkau." Maka kata Adam: "Marilah datang kepadaku." Jawab Hawa: "Tidak engkaulah yang datang ke sini!" Lalu berdirilah Adam datang menghampiri Hawa. Sejak mulai itulah berlaku adat laki-laki mendatangi wanita. Maka tatkala sudah mendekat Adam kepada Hawa, dan berkehendak Adam memanjangkan tangannya kepada Hawa didengarnyalah suatu seruan: "Hai Adam. Tahan dulu! Sesungguhnya pergaulanmu dengan Hawa itu belum halal, kecuali dengan maskawin dan nikah syah dan Allah memperintahkan semua penduduk surga menghiasi dan menghidangkan berbagai makanan lengkap dengan talamnya. Kemudian Allah memerintahkan para Malaikat untuk berkumpul di bawah pohon kayu Thumba dan setelah berkumpul semuanya maka bertasbihlah Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan memuji dirinya sendiri dan dinikahkanlah Adam 'alaihi sallam. Maka Allah berfirman: "Alhamdu itulah puji-KU, kebesaran itulah kain-KU, kesombongan itulah selendang-KU, dan makhluk semua adalah hamba-hamba-KU. Saksikanlah wahai para Malaikat dan penduduk langit-Ku, AKU telah kawinkan Hawa dengan Adam makhluk buatan-KU yang baru. (Assab'iyyat fi Mawaidzil Bariyyat karangan Abi Nashr Muhammad bin Abdurrahman Al-Hamadzany pada Hamisy-nya Al-Majalisussaniyyah hal 111-112).

Nabi Adam 'alaihi sallam dan Hawa Tinggal di Surga

Setelah Iblis terusir dari surga dan Nabi Adam 'alaihi sallam menikah dengan Hawa, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Adam 'alaihi sallam untuk tinggal di surga.

Mengenai kondisi surga telah digambarkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. (QS. Thaha: 119).

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim. (QS. Al-Baqarah: 35).

Maksud dari "pohon yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mendekatinya" pada ayat di atas tidak dapat dipastikan, sebab Al-Qur'an dan Hadits tidak menerangkannya dengan jelas. Namun ada yang menamakannya pohon Khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120: "Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon dan kerajaan yang tidak akan binasa?'". Pohon itu dinamakan "Syajaratulkhuldi" (Pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati.

Jumhur (kebanyakan) ulama mengatakan Nabi Adam 'alaihi sallam menempati surga yang berada di langit, yaitu surga yang kelak akan ditempati kaum Muslimin setelah Hari Perhitungan. Mengenai penjelasan tentang surga yang ditempati Nabi Adam 'alaihi sallam lihat Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah 169-dst, karya Ibn Katsir rahimahullahu, dan juga Al-Qurtubhi dalam Tafsir-nya 1/302-dst.

Tipu Daya Iblis kepada Nabi Adam 'alaihi sallam

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)." Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua", maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah AKU telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan AKU katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua." (QS. Al-A'raf: 20-22).

Dalam ayat lain diterangkan: Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS. Thaha: 121).

Yang dimaksud dengan "durhaka" di sini ialah melanggar larangan Allah karena lupa, dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam surat Thaha ayat 115, "Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat". Dan yang dimaksud dengan "sesat" ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Nabi Adam 'alaihi sallam meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, karena tingginya martabat Nabi Adam 'alaihi sallam dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang bagaimanapun kecilnya.

Ada beberapa riwayat yang menceritakan bagaimana Iblis yang telah terusir dari surga bisa masuk kembali ke dalam surga untuk menjerumuskan Nabi Adam 'alaihi sallam.

Diriwayatkan dari As-Suddiy dari Abi Malik dari Abi Shalih dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu -dan dari Murroh al-Hamdani dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu- dan dari banyak sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Tatkala Allah 'Azza wa Jalla berkata kepada Adam, 'Tinggallah kamu dan isterimu di surga. Makanlah darinya yang banyak lagi baik sekehendak kamu berdua dan janganlah mendekati pohon ini sehingga kamu berdua menjadi orang yang dzalim.' Iblis berupaya untuk masuk menemui mereka berdua di surga namun terus dihalangi oleh para penjaganya. Lalu muncul seekor ular yang memiliki empat buah kaki seperti layaknya onta dan tampak sebagai hewan yang paling bagus. Iblis membujuk ular itu agar mau memasukannya ke dalam mulutnya sehingga ia membawanya bertemu dengan Adam. Ular itu pun memasukan Iblis ke dalam mulutnya kemudian melewati para penjaga surga dan berhasil masuk ke dalamnya sementara mereka tidak mengetahuinya tatkala Allah menghendaki suatu perkaranya. Iblis itu berbicara melalui mulut ular itu sementara Adam tidak memperdulikannya, maka Iblis pun keluar menemui Adam dan mengatakan, 'Wahai Adam maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah pohon yang abadi dan kekuasaan yang tidak sirna.' Dia mengatakan lagi, 'Maukah aku tunjukkan kamu sebuah pohon apabila engkau memakan darinya maka engkau akan jadi raja seperti Allah Subhanahu wa Ta'ala atau kalian berdua akan kekal dan tidak akan mati selamanya. Iblis pun bersumpah atas nama Allah -dengan mengatakan-, 'Sesungguhnya aku hanya menasehati kalian berdua.' Sesungguhnya Iblis menginginkan dengan itu agar aurat mereka berdua tampak dengan terlepasnya pakaiannya. Iblis telah mengetahui bahwa mereka berdua memiliki aurat setelah membaca kitab Malaikat. Adam tidak mengetahui perihal ini. Adam enggan untuk memakan dari pohon itu, akan tetapi Hawa mendekati pohon itu dan memakannya kemudian dia berkata, 'Wahai Adam makanlah, sesungguhnya aku telah memakannya dan tidak terjadi apa-apa padaku.' Dan tatkala Adam memakannya maka tampaklah aurat mereka berdua dan mulailah mereka berdua menutupinya dengan daun-daun surga." (Tarikhur Rusul wal Muluk juz I hal 28).

Abdurrazaq dan Ibn Jarir meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Sesungguhnya musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala, Iblis menawarkan dirinya kepada setiap binatang melata, agar dapat membawanya masuk ke surga dan berbicara kepada Adam dan isterinya. Namun semua hewan menolak tawarannya itu. Lalu dia berkata kepada ular, 'Aku akan melindungi dirimu dari gangguan Adam dan engkau ada dalam jaminanku jika engkau memasukanku ke dalam surga.' Maka ular itu membawa Iblis di antara dua taringnya lalu masuk ke dalam surga. Tadinya ular ini berjalan dengan empat kakinya lalu Allah menjadikannya berjalan di atas perutnya."

Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Maka bunuhlah ular di manapun kalian mendapatkannya. Pendamlah makhluk yang pernah mendapat jaminan dari musuh Allah itu." (Luqthul Marjan fi Ahkamil Jaan, Imam Suyuthi, edisi terjemahan hal 178).

Kemudian Nabi Adam 'alaihi sallam dan Hawa menyesali perbuatannya dan memohon ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'raf: 23).

Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketika Adam berbuat dosa, ia berdo'a, 'Wahai Rabbku, saya memohon pada-MU dengan washilah (perantaraan) hak Muhammad agar Engkau mengampuniku.' Allah berfirman, (Wahai Adam bagaimanakah engkau mengenal Muhammad padahal AKU belum menciptakannya?), Adam menjawab, 'Wahai Rabbku sebab ketika Engkau menciptakanku dengan kedua tangan-MU dan meniupkan ruh (ciptaan)-MU ke dalam jasadku, akupun menengadahkan kepalaku dan melihat di tiang-tiang 'Arsy-MU tertulis (Laailaaha illallah, Muhammadan Rasulullah), maka saya pun tahu bahwa Engkau tidaklah menyandangkan satu nama bersama nama-MU kecuali makhluk yang paling Engkau cintai,' Maka Allah berfirman, (Engkau benar wahai Adam, sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling AKU cintai, maka berdo'alah kepada-KU dengan berwasilah (melalui perantaraan) haknya niscaya AKU mengampunimu, dan kalau bukan karena Muhammad AKU tidak akan menciptakanmu)." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya dan dari jalurnya diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Ad-Dalaail kemudian melalui jalur keduanya diriwayatkan Ibn Asakir dalam Tarikh Dimasyq).

Nabi Adam 'alaihi sallam dan Hawa Dikeluarkan dari Surga dan Diturunkan ke Bumi

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (QS. Al-Baqarah: 36). Yang dimaksud dengan syaitan pada ayat tersebut ialah Iblis seperti yang disebut dalam ayat 34 surat Al-Baqarah.

Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan." (QS. Al-A'raf: 25).

Diriwayatkan Ibn Sa'ad dan Ibn Asakir dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu, dia mengatakan, "Nabi Adam 'alaihi sallam diturunkan di India, sementara Hawa di Jeddah. Kemudian Nabi Adam pergi mencari Hawa sehingga dia mendatangi Jam'an (yaitu Muzdalifah atau Al-Masy'ar). Kemudian disusul (izdalafat) oleh Hawa. Oleh karena itu, tempat tersebut disebut Muzdalifah."

Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dan Nua'im di dalam kitab Al-Hilyah, serta Ibn Asakir dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia bercerita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Adam turun di India."

Juga disebutkan di dalam riwayat Ath-Thabrani dari Ibn Umar radhiyallahu 'anhu disebutkan: "Ketika Allah menurunkan Adam, DIA menurunkannya di tanah India. Kemudian dia mendatangi Makkah, untuk kemudian pergi menuju Syam (Syriaa) dan meninggal di sana." (HR. Ath-Thabrani).

Menurut riwayat Ath-Thabrani, Ibn Al-Atsir, dan Al-Ya'qubi, bahwa Nabi Adam 'alaihi wa sallam setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan ampunan kepadanya, dibawa oleh Malaikat Jibril ke Jabal Arafat. Di sana Jibril mengajarinya manasik haji. Beliau meninggal dan dimakamkan di tepi Jabal Abu Qubais.

Keturunan Nabi Adam 'alaihi sallam

Berkenaan dengan jumlah anak-anak Nabi Adam 'alaihi sallam tidak terdapat keterangan yang bersifat definitif dan pasti. Lantaran pada nash-nash sejarah terdapat banyak perbedaan dalam menjelasan nama-nama dan jumlah mereka. Hal ini disebabkan bentang jarak waktu yang panjang dengan masa pencatatan sejarah dan dokumen-dokumen sejarah atau dikarenakan tidak pentingnya nama-nama mereka dan seterusnya.

Qadhi Nashiruddin Baidhawi dalam kitab Nizham at-Tawarikh, terkait dengan jumlah anak-anak Nabi Adam 'alaihi sallam dan Hawa, berkata, "Hawa tatkala mengandung ia melahirkan sepasang anak laki-laki (putera) dan anak perempuan (puteri). Dan setiap putera berpasangan dengan puteri (putera dari suatu kehamilan menikah dengan puteri dari kehamilan yang lain)." Baidhawi melanjutkan, "Ia (Hawa) melahirkan 120 anak dan Qabil merupakan putera dari kehamilan keempat. Setelah tewasnya Habil, selang lima tahun, Adam memiliki putera dengan satu kehamilan, tanpa puteri dan menamainya dengan nama "Syeits." Adam berkata Syeits merupakan pengganti Habil dan putera yang memiliki berkah serta kelak akan menjadi seorang nabi. Sesuai dengan pandangan ini; Adam dan Hawa memiliki 239 anak."

Thabari dalam kitab Tarikh-nya menjelaskan tiga pandangan berikut ini:
1. Adam dan Hawa memiliki 120 anak, baik putera dan puteri.
2. Adam dan Hawa memiliki 40 putera dan puteri.
3. Adam dan Hawa memiliki 25 putera dan 4 puteri.
(Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Tarikh Thabari, Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk, jilid 1, hal 145).


Kisah Habil dan Qabil

Menurut aturan hukum perkawinan yang berlaku kala itu, saudara kembar tidak diperbolehkan saling menikah. Pernikahan hanya diperbolehkan dengan pasangan kembar lainnya. Qabil yang bersaudara kembar dengan Iqlima boleh mengawini Labuda, dan Habil yang bersaudara kembar dengan Labuda harus kawin dengan Iqlima.

Namun karena di mata Qabil, wajah Labuda tidak secantik Iqlima, ia menolak aturan yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Qabil pun bertekad tetap ingin mengawini Iqlima dan mengabaikan larangan Nabi Adam 'alaihi sallam. Akhirnya Nabi Adam meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang kemudian memerintahkan berkorban kepada Qabil dan Habil. Maka keduanya mengadakan kurban, barangsiapa yang kurbannya diterima Allah, maka dialah yang boleh mengawini Iqlima.

Dengan disaksikan seluruh anggota keluarga Nabi Adam 'alaihi sallam, Qabil dan Habil mempersembahkan kurban di atas bukit. Qabil mempersembahkan hasil pertaniannya. Ia sengaja memilih hasil gandum dari jenis yang jelek. Sedang Habil mempersembahkan seekor kambing terbaik dan yang paling ia sayangi. Tak lama kemudian nampak api besar menyambar kambing persembahan Habil sebagai isyarat bahwa kurbannya diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala, sedangkan gandum persembahan Qabil tetap utuh, yang berarti kurbannya tidak diterima. Peristiwa ini diabadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 27-30.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa". "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim." Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah: 27-30).

Setelah Qabil membunuh Habil, Qabil merasa kebingungan, bagaimana cara merawat mayat saudaranya itu. Pada saat kebingungan itulah, Allah Subhanahu wa Ta'ala memperlihatkan kepada Qabil, dua ekor burung gagak berkelahi dan seekor di antaranya mati terbunuh, maka burung yang hidup itu menggali tanah, lalu bangkai kawannya itu dikuburkan ke dalam lubang yang kemudian ditimbuninya.

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS. Al-Maidah: 31).

Dengan demikian Habil adalah manusia pertama yang meninggal dunia di muka bumi ini.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada satu pun jiwa yang terbunuh secara dzalim melainkan atas Ibnu Adam yang pertama bagian dari darahnya. Karena dialah yang mula-mula melakukan sunnah (tuntunan/contoh) pembunuhan." (HR. Al-Bukhari [2/79] dan Muslim [3/1303]).

Sebenarnya penamaan Habil dan Qabil bagi kedua putera Nabi Adam 'alaihi sallam ini, berasal dari nukilan para ulama dari Ahli Kitab, dan tidak ada satu pun nash Al-Qur'an menerangkannya, demikian pula sunnah yang tsabit (shahih). Sehingga kita tidak bisa memastikannya begitu saja. (Lihat 'Umdatut Tafsir Syaikh Ahmad Syakir [4/123]).

Perdebatan Antara Nabi Adam dan Nabi Musa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Adam dan Musa pernah berbantahan. Musa berkata, 'Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Tetapi engkau telah mengecewakan kami karena menyebabkan kami keluar dari surga.' Adam menjawab, 'Engkau wahai Musa, engkau telah dipilih dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan kehendak-Nya engkau dapat bercakap-cakap dengan-Nya. Apakah engkau mencelaku karena urusan yang telah ditakdirkan Allah atasku sejak 40 tahun sebelum aku diciptakan-Nya?' Demikianlah Adam membantah Musa." (HR. Bukhari [3407] dan Muslim [2652]).

Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar