Fidyah shalat

Shalat merupakan ibadah badaniyah. Oleh karena itu, ibadah shalat tidak dapat diganti dengan amalan lainnya kecuali ada dalil yang membolehkannya. Berdasarkan ini, maka menurut pendapat yang rajih dalam mazhab Syafi’i, shalat tidak dapat diganti dengan fidyah, meskipun dalam kasus orang telah meninggal. Berikut pendapat ulama mengenai hukum fidyah shalat, antara lain :

1.Berkata Zakariya Anshary :
“Pada ibadah badaniyah, tidak boleh pada syara’ menggantikannya kecuali haji, umrah dan puasa setelah orangnya meninggal dunia”.1

2.Berkata Imam Nawawi :
“Kalau seseorang meninggal dunia, atasnya ada hutang shalat atau i’tiqaf yang ditinggalkannya, maka walinya tidak boleh melakukan shalat sebagai penggantinya dan tidak juga fidyah sebagai pengganti shalat”.

Qalyubi dalam mengomentari pernyataan Nawawi di atas, berkata :

“Dalam hal shalat ada satu pendapat (wajh), wali memberikan untuk setiap shalat satu mud makanan. Sebagian masyaikh kita mengatakan bahwa ini termasuk amalan untuk diri sendiri, maka boleh mengtaqlidnya, karena itu adalah muqabil ashah”.2

3.Berkata Zainuddin al-Malibary :
“Kalau seseorang meninggal dunia, atasnya ada hutang shalat yang ditinggalkannya, maka tidak ada qadha dan tidak juga fidyah”.

Selanjutnya beliau mengatakan :

“Ada pendapat yang menjadi pegangan kebanyakan ashhabina, diberikan untuk setiap shalat satu mud makanan”.3

4.Berkata al-Kurdy :
“al-Khuwarizmy pernah mengatakan : “Aku pernah melihat ulama dari sahabat-sahabat kita di Khurashan yang berfatwa dengan memberikan satu mud makanan untuk setiap shalat yang ditinggalkannya.” 4

Kesimpulan
1.Pendapat rajih dalam mazhab Syafi’i tidak boleh membayar fidyah sebagai pengganti shalat orang yang sudah meninggal dunia, karena shalat merupakan ibadah badaniyah. Seseorang yang meninggalkan shalat, baik sengaja atau tidak, maka tidak ada penggantinya kecuali dengan qadha pada waktu hidupnya Pendapat didukung oleh hadits Nabi SAW , antara lain hadits riwayat Bukhari dan Muslim :

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ
Artinya : Barangsiapa yang lupa shalat, maka hendaklah dia shalat apabila sudah mengingatnya kembali, tidak ada kifarat untuknya kecuali itu.(H.R.Bukhari 5 dan Muslim 6)

2.Namun demikian, dalam prakteknya, kebanyakan ulama pengikut mazhab Syafi’i di Aceh memberikan fidyah sebagai pengganti shalat orang yang sudah meninggal dunia dengan mengikuti pendapat yang mengatakan boleh sebagaimana tersebut di atas.

DAFTAR PUSTAKA
1.Zakariya Anshary, Ghayah al-Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 66
2.An-Nawawi dan Qalyubi, Minhaj at-Thalibin dan Hasyiahnya, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. II, Hal. 67
3.Zainuddin al-Malibary, Fath al-Muin, dicetak pada hamisy I’anah at-Thalibin,Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 244
4.Al-Bakri ad-Damyathi, I’anah at-Thalibin,Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 244
5.Bukhari, Shahih al-Bukahri, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 155, No. hadits : 597
6.Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 142, No. hadits : 1598

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar