Fasal Tentang Wudhu

Thaharah (bersuci) merupakan sebagian dari iman. Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa bersuci. Bersuci dari hadats kecil bisa dengan berwudhu. Sedangkan dari hadats besar dengan mandi. Dan apabila tidak ditemukan air secara hakiki (tidak ada air) atau secara hukmi (karena tidak bisa menggunakan air), maka cukup dengan tayammum.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bersuci itu sebagian dari keimanan." (HR. Muslim), maksudnya puncak pahalanya dilipatgandakan sampai setengah pahala iman. Ada yang mengatakan, maknanya iman menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu, begitu juga wudhu. Karena itu wudhu tidak sah tanpa iman. Karena harus dengan iman inilah, wudhu disebut sebagai sebagian darinya. Dan masih ada beberapa pendapat lain mengenai hadits ini.

Definisi Wudhu

Secara morfologi (bahasa), wudhu diambil dari kata yang maknanya adalah kebersihan dan baik. (Syarhul Mumti' [1/148]).

Sedangkan secara etimologi (syari'at): "Wudhu adalah menggunakan air yang thohur (suci dan mensucikan) pada anggota tubuh yang empat (yaitu wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki) dengan cara yang khusus menurut syari'at." (Al-Fiqh al-Islami [1/208]).

Tujuan disyari'atkannya wudhu ini adalah untuk membersihkan segala kotoran najis dan hadats. Menurut Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim dalam kitabnya Fiqh at-Thaharah, najis dan hadats itu adalah kotoran manusia (tinja), air kencing, madzi, wadzi, darah haid, kotoran hewan yang tidak dimakan dagingnya, air liur anjing, daging babi, bangkai, sisa air yang diminum binatang buas, dan hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti al-Azadi al-Mustaqni bab Thaharah (bersuci) menjelaskan, bersuci (thaharah) itu adalah membersihkan atau menghilangkan hadats yang menempel di tubuh, seperti kencing atau kotoran manusia. Di samping itu, thaharah juga bermakna menghilangkan khabats (najis), seperti terkena suatu benda yang diharamkan karena kondisinya yang kotor atau menjijikkan. Dalam hal ini, kata Syaikh Utsaimin, tidak termasuk racun.

Dalil Disyari'atkannya Wudhu

Dalil dari Al-Qur'an

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (artinya): "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Maidah: 6).

Dalil dari As-Sunnah

Diriwayatkan dari Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidak diterima shalat (seorang hamba) tanpa bersuci dan tidak pula diterima shadaqah yang dari hasil ghulul (menilep/mencuri ghanimah)'." (HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku diperintahkan berwudhu apabila akan mengerjakan shalat." (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan An-Nasai. Lihat Shahih al-Jami' [2333]).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila hadats, sehingga ia berwudhu." (HR. Bukhari dan Muslim [225]).

Diriwayatkan dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kunci shalat adalah bersuci, tahrim (pembuka)nya adalah takbir, dan tahlil (penutup)nya adalah salam." (HR. Abu Dawud [60], At-Tirmidzi [3], dan Ibn Majah).

Dalil dari Ijma'

Kaum Muslimin telah sepakat dalam menetapkan disyari'atkannya wudhu sejak masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampai masa sekarang ini. Juga didapatkan ijma' para ulama, mereka telah sepakat bahwa tidak sah shalat tanpa bersuci. Yaitu jika ia mampu mengerjakannya. (Lihat Al-Ausath, Ibnul Mundzir [1/107]).

Keutamaan Wudhu

Banyak sekali hadits yang menerangkan dan menjelaskan keutamaan wudhu, di antaranya:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Maukah aku tunjukkan kepada kalian beberapa perkara yang dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian?" Mereka berkata, "Mau ya Rasulullah." Beliau bersabda, "(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang sulit, memperbanyak langkah ke masjid (untuk shalat berjama'ah) dan menunggu shalat sesudah selesai mengerjakan shalat, yang demikian itu adalah perjuangan." (HR. Muslim [1/1151]).

"Barangsiapa yang wudhu, kemudian menyempurnakannya, niscaya akan keluar dosa-dosa dari tubuhnya, bahkan akan keluar pula dosa-dosa dari bawah kuku-kuku jarinya." (HR. Muslim [3/133]).

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila seorang hamba Muslim atau Mu'min berwudhu, lalu mencuci wajahnya, maka keluar dari wajahnya setiap kesalahan yang dipandang dua matanya bersama air (atau bersama tetesan air terakhir). Apabila ia mencuci dua tangannya, niscaya keluar dari tangannya setiap kesalahan yang dilakukan dua tangannya bersama air (atau bersama tetesan air terakhir). Apabila ia mencuci kakinya, niscaya keluar setiap kesalahan yang dijalankan oleh kakinya bersama air (tetesan air terakhir). Sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa". (HR. Muslim [32]).

Nu'aim al-Mujmir radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya naik bersama Abu Hurairah ke atas masjid. Ia berwudhu lalu berkata, 'Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi bersabda, 'Sesungguhnya pada hari kiamat nanti ummatku akan dipanggil dalam keadaan putih cemerlang dari bekas wudhu. Barangsiapa yang mampu untuk memperlebar putihnya, maka kerjakanlah hal itu.'" (Perkataan 'man istathaa'a'.... 'barangsiapa yang mampu ...' bukan dari kelengkapan hadits. Tetapi, ini adalah sisipan sebagaimana tahqiq sejumlah Ahli Ilmu di antaranya Al-Hafizh Ibn Hajar. Tentang hal itu dapat dilihat dalam Ash-Shahihah [1030]).

Tata Cara Wudhu

Tentang tata cara wudhu, telah ditunjukkan oleh hadits Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau pernah berwudhu, maka beliau membasuh mukanya. Lalu mengambil seciduk air lalu berkumur-kumur dan ber-istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dengannya. Lalu mengambil seciduk air -beliau mengabungkannya dengan tangannya yang satu (kiri)- lalu mencuci wajahnya. Lalu mengambil seciduk air dan menggunakannya untuk mencuci tangan kanannya. Lalu mengambil seciduk air dan menggunakannya untuk mencuci tangan kirinya. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian mengambil seciduk air dan memercikkan air (sedikit demi sedikit) ke kaki kanannya sehingga membasahinya. Kemudian mengambil seciduk lagi dan membasahi kaki kirinya. Kemudian beliau radhiyallahu 'anhum berkata, "Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu." (HR. Bukhari).

Dan juga hadits Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, "Sesungguhnya Humran maula Utsman (mengabarkan) bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu meminta air untuk berwudhu, lalu beliau membanjurkan air dari tempatnya lalu mencuci kedua (telapak tangan)nya tiga kali, lalu memasukkan (telapak tangan) kanannya ke dalam air wudhu dan berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam hidung dan menghembuskannya keluar. Lalu beliau mencuci mukanya tiga kali, lalu mencuci dua tangannya termasuk sikunya tiga kali. Lalu beliau menyapu kepalanya, lalu mencuci kedua kakinya tiga kali. Kemudian beliau berkata: 'Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil air wudhu seperti saya mengambil air wudhu ini, seraya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhu saya ini, kemudian ia mengerjakan shalat dua roka'at yang ia tidak berkata-kata (yang jelek) kepada dirinya, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhari [1/42] dan Muslim [1/118]).

Diriwayat lain: "Kemudian ia membasuh kepalanya dengan dua tangannya dari depan ke belakang. Dimulai dari bagian depan kepalanya sampai menjalankan kedua tangannya itu ke arah tengkuknya, lalu mengembalikannya lagi ke tempat semula (bagian depan kepalanya)...". (HR. Bukhari [1/47] dan Muslim [1/118]).

Dari Amr bin Yahya al-Maziniyyi dari bapaknya berkata, "Aku telah menyaksikan 'Amr bin Abil Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid tentang wudhunya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Abdullah bin Zaid meminta tempayan kecil yang berisikan air lalu dia berwudhu sebagaimana wudhunya Nabi. Maka beliau pun memiringkan tempayan tersebut dan mengalirkan air kepada kedua tangannya lalu mencuci kedua tangannya itu tiga kali. Kemudian beliau memasukkan (satu) tangannya ke dalam tempayan lalu berkumur-kumur dan ber-istinsyaq (memasukkan air ke dalam lubang hidung dengan menghirupnya) dan ber-istintsar (menghembuskan air yang ada dalam lubang hidung) tiga kali dengan tiga kali cidukan tangan. Kemudian beliau memasukkan (satu) tangannya dalam tempayan lalu mencuci wajahnya tiga kali, kemudian memasukkan kedua tangannya lalu mencuci kedua tangannya tersebut dua kali hingga kedua sikunya. Kemudian beliau memasukkan kedua tangannya dan mengusap kepalanya dengan kedua tangannya itu (yaitu) membawa kedua tangannya itu ke depan dan ke belakang satu kali. Kemudian mencuci kedua kakinya." (HR. Bukhari [186] dan Muslim [235]). Dalam riwayat yang lain: "Beliau memulai dengan (mengusap) bagian depan kepalanya hingga ke bagian tengkuk lalu mengembalikan kedua tangannya tersebut hingga kembali ke tempat dimana beliau mulai (mengusap)."

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan tentang tata cara berwudhu yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu:

1) Berniat wudhu dalam hati, tanpa diucapkan dengan lisan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat. Dan amal seseorang tergantung pada apa yang diniatkan....". (HR. Bukhari (Fathul Bari) [1/9] dan Muslim [6/48]).

Al-Mawardi mendifinisikan niat dengan qasdu syai'in muqtarinan bifi'lihi, yaitu menyengaja sesuatu berbarengan dengan pelaksanaannya. Oleh karena itu berniat dalam wudhu harus dibarengkan dengan pelaksanaannya yaitu ketika membasuh muka. Karena membasuh muka merupakan hal pertama yang dilakukan dalam berwudhu. Seperti halnya niat shalat yang harus berbarengan dengan pengucapan takbiratul ihram (Allahu Akbar).
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan di awal wudhu: Nawaitu rof'al hadatsi ... (Saya berniat menghilangkan hadats ...). Beliau pun tidak menganjurkannya. Tidak ada seorang sahabat yang melakukannya sama sekali. Tidak pula diriwayatkan mengenai anjuran amalan ini dari satu hadits pun baik dengan sanad yang shahih atau pun dha'if sekalipun.

Namun menurut madzhab Hanafiyah, hukum niat ketika akan berthaharah (termasuk juga ketika akan wudhu) adalah sunnah, sehingga seseorang yang berwudhu tanpa niat bertaqarrub pun sudah sah wudhunya.

Do'a niat wudhu:


2) Mengucapkan "bismillah"

Sebelum berwudhu tidak ada yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan kecuali ucapan tasmiyah (bismillah) dan ucapan setelah wudhu: "Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rosuluh." (HR. Muslim), ditambah ucapan: "Allahummaj'alnii minat tawwaabiin waj'alnii minal mutathohhiriin." (HR. Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebutkan nama Allah atasnya". (HR. Abu Dawud [101] dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami' Shaghir [7444], berkata Syaikh Al-Albani, "Hadits ini memiliki syawahid yang banyak", lihat Irwaul Ghalil [81]).

Hadits di atas secara dzahir menunjukkan bahwa membaca "bismillah" adalah syarat sah wudhu. Namun yang benar bahwa yang dinafikan dalam hadits di atas adalah kesempurnaan wudhu.

Terjadi khilaf di antara para ulama. Imam Ahmad dan pengikutnya berpendapat akan wajibnya mengucapkan "bismilah" ketika akan berwudhu. Mereka berdalil dengan hadits ini, sedangkan jumhur ulama (Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Abu Hanifah, serta satu riwayat dari Imam Ahmad) bahwa membaca "bismillah" ketika akan berwudhu hukumnya hanyalah mustahab, tidak wajib. (Taudihul Ahkam [1/193]).

Dalil yang mereka gunakan yaitu:
- Perkataan Imam Ahmad sendiri: "Tidak ada satu hadits pun yang tsabit dalam bab ini."
- Dan kebanyakan sahabat yang mensifatkan wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebutkan "bismillah". (Syarhul Mumti' [1/130]).

Syaikh Al-Albani berkata, "Tidak ada dalil yang mengharuskan keluar dari dzahir hadits ini (yaitu wajibnya mengucapkan bismillah) ke pendapat bahwa perintah pada hadits ini hanyalah untuk mustahab. Telah tsabit (akan) wajibnya, dan ini adalah pendapat Ad-Dzahiriyah, Ishaq, satu dari dua riwayat Imam Ahmad, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Siddiq Hasan Khan, Syaukani, dan inilah (pendapat) yang benar, insya Allah." (Tamamul Minnah hal 89).

Dan ada juga hadits yang lain yaitu dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Sebagian sahabat Nabi mencari air, maka Rasulullah bersabda, 'Apakah ada air pada salah seorang dari kalian?'. Maka Nabi meletakkan tangannya ke dalam air (tersebut) dan bersabda, 'Berwudhulah (dengan membaca) bismillah'. Maka aku melihat air keluar dari sela-sela jari-jari tangan beliau hingga para sahabat seluruhnya berwudhu hingga yang paling akhir dari mereka." Berkata Tsabit, "Aku bertanya kepada Anas, berapa jumlah mereka yang engkau lihat?" Beliau berkata, "Sekitar tujuh puluh orang." (HR. Bukhari [69] dan Muslim [2279]).

Hadits ini menunjukkan akan wajibnya membaca "bismillah" karena Rasulullah menggunakan fiil amr (kata kerja perintah).

3) Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.

Berkata Syaikh Ali Bassam, "Disunnahkan mencuci dua tangan tiga kali hingga ke pergelangan tangan sebelum memasukkan kedua tangan tersebut ke dalam air tempat wudhu, dan ini merupakan sunnah menurut ijma'. Dan dalil bahwa mencuci kedua tangan hanyalah sunnah bahwasanya tidaklah datang penyebutan mencuci kedua tangan di dalam ayat-ayat (Al-Qur'an). Dan sekedar perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saja tidaklah menunjukkan akan wajib, hanyalah menunjukkan kemustahabannya. Dan ini adalah qaidah usuliyah". (Taudihul Ahkam [1/161]).

4) Berkumur-kumur yang dalam bahasa Arabnya Madhmadhah, adalah memasukkan air ke dalam mulut lalu menggerak-gerakkannya di dalam. Sedangkan istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam lubang hidung dan menghirupnya hingga ke pangkal hidung. Sementara istinsyar, adalah mengeluarkan air dari dalam hidung setelah ber-istinsyar. Pekerjaan ini dilakukan secara bersamaan/digabung dengan satu telapak tangan saja, sebanyak tiga kali.

Perintah berkumur-kumur disebutkan dalam sejumlah hadits, di antaranya dalam hadits Luqaith bin Shabrah: "Apabila kamu berwudhu, maka berkumur-kumurlah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibn Majah. Dinukil dari Shahih Fiqh Sunnah [1/151]. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Tentang istinsyaq dan istintsar telah diriwayatkan secara shahih dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Siapa yang berwudhu hendaknya ia ber-istintsar." (HR. Bukhari, Muslim, dan selain keduanya).

"Dan apabila salah seorang kamu berwudhu, maka hendaknya ia memasukkan air ke dalam hidungnya lalu ia keluarkan kembali." (HR. Bukhari, Muslim, dan selain keduanya).

"Apabila seorang kamu berwudhu hendaknya dia ber-istinsyaq." (HR. Muslim).

"Sempurnakan wudhu dan sela-sela di antara jari-jemari serta bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke hidung (istinsyaq) kecuali saat engkau sedang berpuasa." (HR. Ashabus Sunan dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam istinsyaq kecuali dalam keadaan berpuasa dengan sabdanya, "Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung kecuali kalau kamu dalam keadaan berpuasa." (HR. Abu Dawud dari Luqaith bin Shabrah).

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullahu berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhususkan istinsyaq dengan perintah, bukan karena hidung lebih penting untuk dibersihkan daripada mulut. Bagaimana mungkin, padahal mulut lebih mulia karena digunakan untuk berdzikir dan membaca Al-Qur'an, serta mulut lebih sering berubah baunya? Namun -wallahu a'lam- karena syari'at telah memerintahkan untuk membersihkan mulut dengan siwak dan menegaskan perihalnya. Mencuci mulut sesudah dan sebelum makan disyariatkan menurut sebuah pendapat. Telah diketahui perhatian syari'at untuk membersihkan mulut, berbeda dengan hidung. Jadi, membersihkan hidung di sini untuk menjelaskan hukumnya, karena dikhawatirkan perkara ini akan diabaikan." (Syarh al-'Umdah [1/179-180]).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung setiap kali berwudhu. Tidak pernah didapatkan nukilan, beliau meninggalkannya walau pada saat beliau membasuh bagian yang penting-penting saja. Jika perbuatan tersebut untuk melaksanakan suatu perintah, maka hukumnya sama dengan hukum perintah tersebut, yaitu menunjukkan wajibnya. (Lihat Syarah al-Umdah, Ibn Taimiyah [1/178] dan Al-Tamhid, Ibn Abdil Barr [4/36]).

Namun ada pula pendapat yang menyatakan hukumnya adalah mandub/sunnah, hal berdasarkan hadits Rifa'ah bin Rafi' radhiyallahu 'anhu tentang kisah orang yang buruk shalatnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, "Sesungguhnya tidak akan sempurna shalat salah seorang kalian hingga ia berwudhu dengan sempurna sebagaimana diperintahkan Allah, yaitu ia membasuh wajahnya, kedua tangannya hingga siku, mengusap kepalanya dan mencuci kedua kakinya hingga mata kaki..." (HR. Ashabus Sunan dan selain mereka).

Pada hadits tersebut, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebutkan tentang berkumur-kumur dan istinsyaq mengenai apa yang diperintahkan Allah. Hal ini selaras dengan QS. Al-Maidah: 6 di atas.

Penyebutan wajah di sini bukan perkara mujmal (global) yang membutuhkan perinciannya dari sunnah. Ini juga merupakan pendapat yang tidak bisa dibathilkan. Wallahu a'lam.

Hanya saja menjaga kumur-kumur dan istinsyaq serta intintsar dalam wudhu adalah jelas dilaksanakan dan diperintahkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai bagian pelaksanaan bersuci untuk shalat. Bahkan bagian dari pelaksanaan perintah Allah dalam membasuh wajah saat berwudhu. Dan sebaik-baik keputusan dalam ibadah adalah ittiba' kepada sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

5) Membasuh muka tiga kali.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu..." (QS. Al-Maidah: 6).

Wajah adalah apa yang dengannya timbul muwajahah/muqabalah (saling berhadapan). Dan batasannya adalah dari tempat biasanya tumbuh rambut kepala hingga ke ujung bawah dagu, dan dari telinga ke telinga. (Taudihul Ahkam [1/170]).

Syaikh Abdurahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, mengeluarkan dari ayat di atas beberapa faidah hukum yang banyak. Pada urutan ke tujuh, beliau mengatakan: Perintah membasuh wajah. Yaitu yang didapatkan dari bagian muka, dimulai secara memanjang (meninggi) dari tempat tumbuhnya rambut normal hingga tulang rahang dan dagu, melebarnya dari telinga satu sampai telinga yang lain. Masuk di dalamnya, berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya) yang dijelaskan oleh sunnah. Juga masuk dalam bagiannya, rambut-rambut yang tumbuh padanya. Tapi jika tipis harus menyampaikan air ke kulit, dan jika lebat maka cukup yang nampak saja.

Berkumur-kumur dan ber-istinsyar adalah bagian dari membasuh wajah yang diperintahkan dalam ayat di atas. Sedangkan membasuh wajah adalah wajib, maka berkumur-kumur dan ber-istinsyaq juga wajib menurut pendapat yang lebih shahih. (Shahih Fiqh Sunnah [1/150]).

Mengenai membasuh muka, semua ulama yang meriwayatkan sifat wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menetapkan tentang membasuh muka dan bahkan semua ulama telah bersepakat tentang hal ini. (Lihat: Shahih Fiqh Sunnah -edisi Indonesia-, Abu Malik Kamal [1/149]).

Adapun bagi yang punya mempunyai jenggot, hadits dari Utsman radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyela-nyela jenggotnya ketika berwudhu." (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih).

Dan juga hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: "Bahwasanya Nabi jika berwudhu beliau mengambil segenggam air (dengan tangannya) lalu beliau memasukkannya di bawah mulutnya kemudian beliau menyela-nyela jenggot dengannya. Dan beliau bersabda, 'Demikianlah Rabbku memerintah aku'." (Irwaul Ghalil [92]).

Ketika menyela-nyela jenggot ada dua hukum, yaitu:
- Jika jenggot tersebut tipis sehingga kelihatan kulit wajah (dagu), maka hukumnya wajib menyela-nyela jenggot hingga mencuci kulit wajah yang nampak tersebut dan juga mencuci pangkal jenggot.
- Jika jenggot tersebut tebal sehingga tidak nampak kulit wajah (dagu), maka hukum menyela-nyela janggut bagian dalam (pangkal jenggot) dan mencuci kulit wajah adalah sunnah. Karena termasuk hukum bagian dalam yang tersembunyi. Adapun bagian luar jenggot maka wajib dicuci karena dia merupakan perpanjangan wajah. (Tadihul Ahkam [1/177] dan Syarhul Mumti' [1/140]).

6) Membasuh dua tangan tiga kali, mulai dari ujung jari ke siku, dimulai dari tangan kanan lalu tangan kiri.

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, "Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika berwudhu, beliau memutar air ke kedua sikunya." (HR. Darqutni dengan sanad yang dha'if).

Ketika Abu Hurairah berwudhu maka dia mencuci tangannya hingga naik ke lengan atas dan dia mencuci kakinya hingga naik ke betisnya, lalu dia berkata, "Demikianlah aku melihat Rasulullah berwudhu". (HR. Muslim dengan sanad yang shahih, Irwaul Ghalil [94]).

Dalam masalah memanjangkan daerah wudhu hingga ke lengan atas dan betis demikian juga ke leher ketika mencuci wajah ada khilaf di kalangan para ulama. Jumhur ulama (Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah) berpendapat bahwa hal ini disunnahkan. Imam Nawawi berkata, "Telah bersepakat para sahabat kami atas mencuci apa yang di atas kedua siku dan kedua mata kaki". Namun mereka berbeda pendapat tentang batasan panjangnya tersebut. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah dalam riwayat yang lain:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajah-wajah, tangan-tangan dan kaki-kaki mereka karena bekas wudhu, maka barangsiapa yang mampu untuk memanjangkan gurrohnya dan tahjilnya maka lakukanlah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan Imam Malik berpendapat tidak disunnahkannya hal ini (memanjangkan wudhu melewati tempat yang diwajibkan). Dan ini merupakan pendapat Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan juga dipilih oleh ulama sekarang seperti Syaikh Adurrohman as-Sa'di, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani. Dalil mereka (Taudihul Ahkam [1/182]) :
- Seluruh sahabat yang mensifatkan wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebutkan kecuali hanya sampai kedua siku dan kedua mata kaki.
- Dalam ayat (Al-Maidah: 6) tempat anggota wudhu hanya dibatasi pada siku dan dua mata kaki.
Adapun perkataan: "Barangsiapa yang mampu untuk memanjangkan, dst..", ini bukanlah perkataan Rasulullah tetapi merupakan mudroj (tambahan perkataan) dari Abu Hurairah. Dalam musnad Imam Ahmad, Nu'aim Al-Mujmiri, perawi hadits ini berkata, "Aku tidak tahu perkataan ("Barangsiapa yang mampu untuk memanjangkan gurrohnya hendaklah dia melakukannya") merupakan perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau perkataan Abu Hurairah". Berkata Ibnul Qoyyim, "Tambahan ini adalah mudroj dari perkataan Abu Hurairah bukan dari perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, hal ini telah dijelaskan oleh banyak Hafizh". Bahkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim [250] dari Abi Hazim, beliau berkata, "Aku dibelakang Abu Hurairah dan dia sedang berwudhu untuk shalat, dan dia mencuci tangannya hingga ke ketiaknya. Maka aku berkata kepadanya, "Wahai Abu Hurairah, wudhu apa ini?", maka beliau berkata, "Wahai Bani Farrukh, apakah engkau di sini?, Kalau aku tahu engkau di sini maka aku tidak akan berwudhu seperti ini. Aku telah mendengar kekasihku (yaitu Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam) bersabda, 'Panjangnya perhiasan seorang Mu'min tergantung panjangnya wudhu". Hadits ini jelas menunjukkan bahwa wudhu yang dilakukan oleh Abu Hurairah hanyalah ijtihad beliau saja.
- Kalau kita terima hadits ini, maka kita harus mencuci wajah hingga ke rambut. Dan ini tidak lagi disebut gurroh. Karena yang namanya gurroh hanyalah di wajah saja. (Lihat
penjelasan Ibnul Qoyyim dalam Irwaul Ghalil [1/133]). Demikian juga kita harus
mencuci tangan kita hingga ke lengan atas. Orang yang membolehkan hal ini
berdalil dengan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "(Panjangnya) perhiasan seorang Mu'min tergantung (panjang) wudhunya. (HR. Muslim).
Namun ini tidaklah benar karena namanya perhiasan hanyalah dipakai
di lengan bawah bukan di lengan atas.

7) Membasahi kedua tangan lalu membasuh kepala dan kedua telinga.

Caranya sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin Zaid. Dan cukup diusap tidak boleh dicuci. Barangsiapa yang mencucinya maka dia telah menyelisihi perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah mewajibkan kita untuk mengusap bukan mencuci karena mencuci kepala bisa memberatkan kaum Muslimin, terutama ketika musim dingin. Selain itu jika kepala sering dalam keadaan basah maka bisa menimbulkan penyakit. Dan perbedaan antara mengusap dan mencuci yaitu mencuci membutuhkan aliran air sedangkan mengusap tidak. (Syarhul Mumti' [1/150]).

Dan disunnahkan mengusap kepala hanya sekali, namun boleh terkadang juga tiga kali, sebagaimana hadits dari Utsman radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengusap kepalanya tiga kali. (Shahih Sunan Abu Dawud [95], lihat Tamamul Minnah hal 91).

Para ulama berselisih tentang wajibnya mengusap seluruh kepala. Abu Hanifah dan Asy-Syafi'i berpendapat akan bolehnya mengusap sebagian kepala, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah hanya mengusap ubun-ubun beliau ketika berwudhu. Sedangkan Imam Malik dan Imam Ahmad akan wajibnya mengusap seluruh kepala karena demikianlah yang ada dalam hadits-hadits yang shahih dan hasan. Syaikhul Islam berkata, "Tidak dinukil dari seorang sahabatpun bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencukupkan membasuh sebagian kepala". Berkata Ibnul Qoyyim, "Tidak ada sama sekali satu haditspun yang shahih bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencukupkan membasuh sebagian kepala". (Taudihul Ahkam [1/169]). Dan inilah pendapat yang rajih karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap ubun-ubunnya ketika dia memakai sorban, sebagaimana dalam hadits dari Mugirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu' lalu beliau mengusap ubun-ubunnya dan atas sorbannya dan kedua khufnya. (HR. Muslim).

Dari hadits di atas bisa ada 2 kemungkinan :
- Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah hanya mengusap sorbannya dan pernah hanya mengusap kepalanya dimulai dari ubun-ubunnya. (Taudihul Ahkam [1/187]).
- Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap ubun-ubunnya lalu melanjutkan mengusap sorbannya.
(Dan semua kemungkinan ini dibolehkan oleh Siddiq Hasan Khan dalam Ar-Raudhatun Nadiah).

Dan dalam mengusap kepala disertai dengan mengusap kedua telinga. Hal ini sesuai dengan hadits dari Abdillah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu tentang sifat wudhu, ia berkata, "Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap kepalanya dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua telinganya dan mengusap bagian luar kedua telinganya dengan kedua ibu jarinya." (HR. Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits ini hasan dan dishahihkan oleh Ibn Khuzaimah). (Taudihul Ahkam [1/166]).

Dan juga hadits Ibn Abbas radhiyallahu 'anhum: "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap kepalanya dan kedua telinganya baik bagian luar maupun yang bagian dalam." (HR. Tirmidzi dengan sanad yang shahih, Irwaul Ghalil [90]).

Dan ketika mengusapnya tidak perlu air yang baru. Berkata Ibnul Qoyyim, "Tidak ada riwayat yang tsabit dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bahwasanya beliau mengambil air yang baru untuk mengusap kedua telinganya". Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil air yang baru bukan dari air bekas mengusap kepalanya adalah dha'if. Yang shahih yaitu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa (untuk mencuci) kedua tangannya. (Taudlihul Ahkam [1/180]).

8) Membasuh kedua kaki sampai mata kaki tiga kali, mulai dari ujung jari kaki hingga dua mata kaki, dimulai dari kaki kanan lalu kaki kiri.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketinggalan dari kami dalam suatu safar (perjalanan) yang kami bersafar bersama beliau, lalu (setelah menyusul kami) -beliau mendapati kami (dan ketika itu) telah datang waktu shalat yaitu shalat Ashar- kami sedang berwudhu, maka kami mengusap kaki-kaki kami. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berteriak kepada kami dengan suaranya yang keras, "Celakalah tumit-tumit (yang tidak terkena air wudhu) dengan api."
(HR. Bukhari dan Muslim dengan sanad shahih).

Ketika mencuci kaki disunnahkan untuk menyela jari-jari kaki dan juga jari-jari tangan (Taudihul Ahkam [1/175]), sebagaimana hadits dari Luqaith bin Shabrah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sempurnahkanlah wudhu dan sela-selalah jari-jari dan bersungguh-sungguhlah ketika ber-istinsyaq kecuali engkau sedang berpuasa." (HR. Ibn Khuzaimah dengan sanad yang shahih).

Adapun menyela jari-jari kaki dengan jari tangan yang kelingking, maka ini hanyalah istihsan dari para ulama dan tidak bisa dikatakan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Berkata Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma'ad: "Dalam (kitab) sunan dari Mustaurid bin Syadad radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu dan dia menggosok jari-jari kakinya dengan jari tangan kelingkingnya."
Kalau riwayat ini benar, maka sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hanya melakukannya sekali-kali. Oleh karena itu sifat seperti tidak diriwayatkan oleh para sahabat yang memperhatikan wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seperti Utsman, Abdullah bin Zaid dan selain keduanya. Lagipula dalam riwayat tersebut ada Abdullah bin Lahiah." (Syarhul Mumti' [1/143]).

9) Setelah wudhu, disunnahkan membaca do'a, "Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluhu." (Saya bersaksi bahwasannya tiada ada illah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya). (HR. Muslim [234]). Atau membaca, "Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik" (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu).

Dari Nu'aim bin Abdullah al-Mujmir, ia berkata: Di dalam riwayat At-Tirmidzi yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami' ash-Shahir [6043] terdapat tambahan: "Allahummaj'alni minat tawwabina waj'alni minal mutathahhirina" (Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang membersihkan diri).

Dalam melaksanakan wudhu disunnahkan memulai dengan bagian kanan dalam mencuci semua anggota wudhu yang berjumlah sepasang, kecuali telinga karena keduanya diusap secara bersamaan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kalau kalian memakai pakaian dan kalau kalian berwudhu, maka mulailah dengan bagian kanan kalian." (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih).

Dalam tata cara wudhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas, terdapat perkara yang wajib dilaksanakan. Inilah yang dimaksud dengan fardhunya wudhu. Fardhu adalah semua hal yang harus dilaksanakan dan akan mengakibatkan gugur (tidak sah) jika ditinggalkan salah satunya.

Fardhunya wudhu yaitu:
1. Niat.
2. Membasuh muka.
3. Membasuh kedua tangan sampai dengan kedua siku.
4. Mengusap sebagian kepala.
5. Membasuh kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki.
6. Urut sesuai apa yang telah tersebut di atas dari pertama sampai kelima. Semuanya harus dilaksanakan dan bila ada yang tercecer, maka wudhunya tidak sah. Adapun mencuci telapak tangan, mengusap telinga, berkumur, dan mengulangi tiga kali dalam setiap tindakannya merupakan sunnah wudhu.

Dan tentang tata cara tayammum juga telah diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. Ada seseorang datang kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, lalu berkata, "Aku telah junub, dan -sampai sekarang- tidak mendapatkan air." Maka Amr bin Yasir berkata kepada Umar bin Khaththab, "Tidakkah engkau ingat! Saat kita, saya dan kamu bersama-sama dalam safar? Adapun engkau tidak shalat, sedangkan aku berguling-guling di atas tanah lalu shalat. Kemudian aku melaporkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, 'Adalah cukup bagimu seperti ini.' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menepukkan kedua telapak tanganya ke tanah, lalu meniup keduanya, lalu mengusapkan keduanya pada muka dan kedua telapak tangannya."

Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu

Dalam kitab Matan Al-Ghayatu wat-Taqrib karangan Abi Suja diterangkan bahwa perkara yang dapat membatalkan wudhu ada 6, yaitu:

1. Sesuatu yang keluar dari kedua jalan (kemaluan depan maupun belakang).
2. Tidur tidak dalam keadaan duduk.
3. Hilangnya akal sebab mabuk atau sakit.
4. Bersentuhan (kulit) pria dan wanita yang bukan mahram tanpa penghalang.
5. Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan.
6. Menyentuh lubang dubur manusia.

1) Apa-apa yang keluar dari dua jalan yaitu qubul dan dubur, meliputi air kencing, tinja, madzi, wadi dan kentut, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara.

"Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila hadats, sehingga ia berwudhu". (HR. Bukhari dan Muslim [225]).

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bercerita bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah tidak menerima shalat kamu sekalian apabila (kamu) dalam keadaan hadats hingga kamu berwudhu" kemudian seorang Hadramaut bertanya kepada Abu Hurairah, "Apakah hadats itu?" Abu Hurairah menjawab, "Kentut (yang tidak bersuara) dan kentut yang bersuara."

2) Tidur nyenyak.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan diceritakan oleh sahabat Ali radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pengendali dubur (tempat keluarnya kotoran dari jalan belakang) adalah kedua mata, oleh karena itu barangsiapa tidur hendaklah ia berwudhu." (HR. Abu Dawud [477]).

3) Hilang akal, baik karena gila, pingsan, mabuk atau karena pengaruh obat. Hal ini membatalkan wudhu, karena keadaan ini membuat seseorang tidak sadar dan tidak mengetahui keadaan wudhunya, apakah telah batal atau belum. Hal ini merupakan kesepakatan jumhur (kebanyakan) Ulama'.

4) Bersentuhan (kulit) pria dan wanita yang bukan mahram tanpa penghalang.

5) Menyentuh kemaluan secara langsung, tanpa ada batas atau penghalang sedikitpun.

Hal ini didasarkan atas dalil sebagai berikut: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan tanpa penghalang atau batas, maka ia wajib berwudhu'". (HR. Hakim [1/13]).

Dalam sebuah hadits yang dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dari Bisrah binti Shafwan radhiyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang memegang dzakarnya janganlah melakukan shalat hingga ia berwudhu."

Imam An-Nisa'i meriwayatkan bahwa: "Dan hendaklah berwudhu oleh karena memegang dzakar kemaluan."

Juga dalam hadits riwayat dari Imam Ibn Majah dari Ummi Habibah radhiyallahu 'anha: "Barangsiapa yang memegang farj-nya maka hendaklah berwudhu."

Hadits tersebut di atas mengandung makna bahwa menyentuh kemaluan
adalah membatalkan wudhu. Baik itu kemaluannya sendiri, maupun kemaluan orang lain.

6) Menyentuh lubang dubur. Hal ini adalah berdasarkan pendapat Imam Syafi'i.

Seseorang yang mengeluarkan darah dari luka tidak membatalkan wudhunya, hal ini berdasarkan hadits berikut:

Thawus, Muhammad bin Ali, Atha' dan orang-orang Hijaz berkata, "Berdarah tidak mengharuskan pengulangan wudhu." (Atsar Thawus di-maushul-kan oleh Ibn Abi Syaibah dengan isnad shahih darinya. Atsar Muhammad bin Ali yakni Abu Ja'far al-Baqir di-maushul-kan oleh Samwaih dalam Al-Fawaid. Yang dimaksud dengan Atha' ialah Atha' bin Abu Rabah. Riwayat ini di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad shahih. Atsar Ahli Hijaz diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dari Abu Hurairah dan Sa'id bin Jubair; diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dari Ibn Umar dan Sa'id bin al-Musayyab, dan diriwayatkan oleh Ismail al-Qadhi dari tujuh fuqaha Madinah, dan ini adalah perkataan Imam Malik dan Imam Syafi'i).

Ibn Umar pernah memijit luka bisulnya sampai keluarlah darahnya, tetapi ia tidak berwudhu lagi. (Di-maushul-kan oleh Ibn Abi Syaibah dan Al-Baihaqi (1/141) dari jalannya dengan sanad shahih dari Ibn Umar dengan lafal, "Ia kemudian mengerjakan shalat dan tidak berwudhu lagi.").

Ibn Aufa pernah meludahkan darah lalu diteruskannya saja shalatnya itu. (Di-maushul-kan oleh Sufyan ats-Tsauri di dalam Jami'-nya dengan sanad shahih dari Ibn Abi Aufa dan dia ini adalah Abdullah bin Abi Aufa, seorang sahabat putra seorang sahabat radhiyallahu 'anhuma).

Ibn Umar dan Al-Hasan berkata, "Apabila seseorang mengeluarkan darahnya (yakni berbekam/bercanduk), yang harus dilakukan baginya hanyalah mencuci bagian yang dicanduk." (Di-maushul-kan oleh Ibn Abi Syaibah dari keduanya dan di-maushul-kan oleh Asy-Syafi'i dan Al-Baihaqi [1/140] dari Ibn Umar sendiri dengan sanad shahih).

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi:
* Kitab Ats-Tsamar Al-Mustathab fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab karya Asy-Syaikh Al-Albani
* Muhadzdzab Zaadul Ma'ad karya Ibnul Qayyim, disusun ulang oleh Sa'ad bin Abdurrahman al-Hushain, hal. 26-27. Riyadh-KSA, 2 Safar 1432 H, 06/01/2011
* Kitab Maa Laa Yasa' al-Muslima Jahluhu karya DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar