Dayah Tarbiyatul Ula Punie

PUKUL 16.00 WIB. SEKELOMPOK anak sedang bermain sepakbola di halaman mushalla. Di sekitarnya terdapat tiga jambo (sawung) yang terbuat dari kayu tanpa dinding. Beberapa remaja pun terlihat sibuk membersihkan bulu-bulu burung hasil tangkapan. Ditilik dari penampilannya, sangat jelas tampak kalau sekelompok remaja ini adalah orang-orang yang sedang mondok di Dayah Tarbiyatul Ula, Punie.


Seseorang dari kelompok remaja tersebut datang dan menghampiri Dayah. Namanya Tgk Bakhtiar. Ia mempersilakan duduk di jambo dimana angin leluasa menerpa tanpa penghalang.

Dayah Tarbiyatul Ula Punie yang menepati lahan seluas 1,5 hektar tepat berada di kanan-kiri sawung. Dayah ini sendiri terletak di Desa Punie, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, sekitar 9 km dari Kota Banda Aceh. Berada di daerah perbukitan dikelilingi lahan pertanian yang dibatasi saluran irigasi, lingkungan dayah terasa cocok untuk pengembangan kegiatan agribisnis.

"Sudah delapan tahun saya mondok di sini, sejak lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama)," ujar Bakhtiar, membuka pembicaraan. Ia sudah berada di tingkat lima, tingkatan paling tinggi di dayah yang dipimpin oleh Tgk Haji Sofyan Ahmad (Abu Sofyan), tersebut.

Sehari-hari, selain mengajar adik kelas, Bakhtiar juga menyiarkan dakwah agama ke tempat lain. Cita-cita terbesar yang ingin ia raih adalah membangun dayah juga. “Dengan begitu ilmu yang didapat selama tidak hilang dengan percuma," katanya.

Di pasantren ini tersedia 40 kamar yang siap dihuni oleh para santri. Satu kamar berukuran 4 x 4 meter biasanya dihuni oleh 3 - 4 santri, sedangkan kamar 5 x 5 meter cukup memuat 4-5 penghuni. Menurut Bakhtiar, semua yang belajar dan mondok tidak dipungut biaya alias gratis.


***

Abu Sofyan mendirikan Dayah Tarbiyatul Ula pada tahun 1984. Pada mulanya hanya berbentuk pengajian kecil-kecilan yang diadakan setiap Jumat malam. Berkat dukungan masyarakat setempat, pada 1988, ia mulai menerima santri. Murid-murid yang diterima tidak hanya dari masyarakat setempat, tetapi juga dari berbagai daerah lain---termasuk dari Jawa.

Dayah yang digagas Abu Sofyan rupanya tidak hanya mendapat dukungan masyarakat setempat, tetapi juga datang dari guru besar Sofyan bernama Tgk H Syekh Abdul Wahab Seulimum yang karip diketahui sebagai pendiri Dayah Ruhul Fata, pejuang kemerdekaan, dan penganut tarikat Syattariyah dan Qulutiyah.
Sekedar mengingatkan. Tarikat Syattariyah mucul pertama sekali di India pada abad ke-15. Tarikat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, yaitu Abdullah asy-Syattar. Tarikat ini awalnya lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, ia disebut Bistamiyah.

Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya tarikat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarikat ini dianggap sebagai suatu tarikat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.

Hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai Abdullah asy-Syattar, bahwa ia keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan Abdullah asy-Syattar dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditahbiskan secara resmi menjadi anggota tarikat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

Di Indonesia, tarikat ini lalu dikembangkan oleh Sheikh Abdur Rauf Singkel, terkadang ditulis Abdur al-Ra'uf al-Sinkili. Dilahirkan di Singkil, Aceh, pada 1024 H/1615 M, nenek moyang Sheikh Singkel berasal dari Persia yang datang ke kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke-13.

Di beberapa literatur disebutkan, ayah Singkel adalah kakak laki-laki dari Hamzah al-Fansuri, kendati tidak cukup bukti yang meyakinkan bahwa ia adalah keponakan al-Fansuri. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa ayah Singkel, yakni Syeikh ‘Ali adalah seorang kebangsaan Arab yang telah mengawini wanita setempat dari Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan tua di Sumatera Barat. Keluarga itu lantas menetap di sana.

Sejarah perjalanan karier Singkel diawali saat dia menginjakkan kaki pertama kalinya di jazira Arab pada 1052 H/1642 M. Tercatat ada sekitar 19 guru yang pernah mengajarinya dengan berbagai disiplin ilmu Islam di samping sebanyak 27 ulama terkemuka lainnya.

Perjalananan akhir Singkel adalah di Madinah sekaligus menyelesaikan pelajarannya. Di kota tersebut, dia belajar dengan dua ulama penting, Ahmad al-Qusyasyi dan khalifahnya Ibrahim al-Kurani. Dari Ibrahim al-Kurani banyak diperoleh pelajaran secara intelektual. Pelajaran yang tidak hanya menyangkut pemikiran melainkan pada tingkah laku pribadi dan ilmu pengetahuan tentang pemahaman intelektual Islam. Sedangkan dari al-Qusyasyi dia mempelajari ilmu-ilmu dalam (ilm al-bathin) yakni tasawuf dan ilmu terkait lain. Oleh gurunya itu, Singkel lantas ditunjuk sebagai khalifah Syathariyyah dan Qadiriyyah.

Sekitar tahun 1083 H/1662 M ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarikat Syattariah yang diperolehnya di Arab. Murid yang belajar kepadanya semakin bertambah banyak dan bukan hanya berasal wilayah Aceh tapi seluruh nusantara. Tak sedikit di antara murid-muridnya tadi menjadi ulama terkenal seperti Syeikh Burhanuddin dari Ulakan (Pariaman, Sumatera Barat), Abd al-Muhnyi dari Jawa Barat serta Dawud al-Jawi al-Fansuri Ismail Agha Mushthafa Agha ‘Ali al-Rumi asal Turki.

***

Kembali ke Punie di Aceh Besar. Sistem Pendidikan di dayah Tarbiyatul Ula Punie meyakini bahwa ulama tangguh tidak bisa dihasilkan oleh sistem sekolah terpadu dalam waktu singkat. Kalau ini terjadi, dikhawatirkan akan hilang generasi yang benar-benar menguasai semua kitab mu'tabar.
Untuk itulah maka sistem pendidikan di sini dilakukan dalam bentuk tradisional murni. Menurut Abu Sofyan, sistem ini akan terus dipertahankan agar menjadi ciri khas dari Tarbiyatul Ula Punie.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum dayah yang disesuaikan dengan kebanyakan dayah yang ada di Aceh. Yang dipelajari di pondok ini meliputi fikih, usul fikih, hadis, adab atau sastra, tafsir, tauhid, sejarah Islam, tasawuf, akhlak, nahwu, manthiq, sharaf, balaghah atau maani, bayan, dan lain-lain.
Dengan sistem tradisional murni, maka jenjang kependidikan yang dipakai ada lima tingkatan dengan materi pela jaran sebagai berikut:

Kelas Satu (Tajhizi) diajarkan Matan Taqrib, Matan Bina, Matan Jarumiyah, Dhammum, Awamil, dan kitab-kitab Jawi.

Kalas Dua: Bajuri, Mutammimah (Kawakib), Kailani, Tijan Darari, Taklimul Muta'alim.

Kelas Tiga: I'anatul Thalibin, al-Fiyah, Ibnul 'Aqil, Hud Hudi, dan Waraqat.

Kelas Empat: al-Mahalli, al-Khudari, Idhahul Mubhan, Kifayatul Awan, Lathaifu Isyarah, Tafsir al-Jalalain, Tafsir ash-Shawi, Hadits Bulughul Maram, Irsyadul Ibad.

Kelas Lima: at-Tahrir, Ihya 'Ulumuddin, 'Ayah Usul, Baikuni, al-Hikam, Jauharul Maknun, Jam'ul Jawaamik, Bujairimi (Fathul Wahab).

Hubungan sosial yang dibangun dalam dayah, baik antara guru dan santri atau antara guru dengan guru, terorganisir sedemikian rupa sehingga setiap keluhan dari santri dan dewan guru selalu disampaikan kepada pimpinan. Sedangkan dikalangan santri, kendati belum mempunyai nama yang baku, organisasi santri sudah berjalan dengan baik.

Soal perhatian dari pemerintah daerah, Abu Sofyan merasa sudah cukup mengingat sekarang Pemda telah membentuk sub dinas (subdin) dan lembaga-lembaga yang memperhatikan kegiatan dayah ada di Aceh. “Namanya manusia, pasti serba kekurangan. Seandainya air hujan ini uang, pasti tak cukup juga," tambahnya.

Untuk menjalankan kegiatan operasional sehari-hari, selama ini Abu Sofyan mengandalkan dana dari kegiatan penyelenggaraan haji (manasik haji) yang rutin dilaksanakan di pasantren ini. Dalam dua bulan sekali ia memberangkatkan jama'ah umrah ke tanah suci. Hal ini dapat terlaksana berkat bantuan dari Departemen Agama yang telah memberikan izin kepadanya untuk melaksanakan kegiatan kelompok bimbingan ibadah haji. Berkat pengalaman tersebut, Abu Sofyan menjadi salah seorang pengurus Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Haji (FK-KBIH) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Aceh Besar. Selain itu, dana operasional dayah ia dapatkan pula dari maktab Asia Tenggara di Saudi Arabia.

Pascatsunami, banyak lembaga donor menawarkan bantuan juga kepadanya. Ada LSM lokal, ada NGO asing. Tetapi, semua itu ia tolak dengan alasan bantuan-bantuan tersebut diperuntukan untuk korban tsunami sedangkan ia merasa tidak terkena dampak tsunami tersebut.

Maka, untuk pembangunan dayah selama ini Abu Sofyan memastikan bukan dari pengajuan proposal ke LSM maupun NGO. Kebanyakan dari masyarakat perkampungan di sekitar dan dari orang-orang yang datang untuk belajar mengaji atau mendengarkan tausiyah. Infak dan sedekah yang diperoleh dikembangkan untuk pembangunan dayah. Biasanya, untuk tujuan infak itu, Abu Sofyan sendiri tidak menerima dalam bentuk uang tetapi dalam bentuk barang yang dibutuhkan. Misalnya: semen, pasir, besi, batu bata, dan tegel, sehingga mushola yang semula berdiri 10 x 10 meter kini berhasil menjadi 16 x 16 meter. Itu pun, dua lantai, pula.
Dayah Tarbiyatul Ula Punie untuk saat ini mempunyai daya tampung pelajar sebanyak 200 orang. Untuk mondok, terdapat alokasi 50 santri dan delapan staf pengajar. Untuk masuk mondok dan mendaftar menjadi santri di dayah ini tidak ada batas waktu, siapa saja yang mau belajar ilmu agama pasti diajarkan dan tidak dipungut biaya sama sekali.

Abu Sofyan tidak membatasi atau mengekang santri-santrinya dalam menuntut ilmu. “Karena ilmu itu sangat penting di dalam kehidupan," alibinya. Sofyan mempersilakan santri-santrinya mengecap ilmu yang terpadu (SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi) di pagi hari dan pada malam hari belajar ilmu agama.
"Tujuan ilmu itu adalah supaya kita tidak mudah dibohongi dan tidak membohongi orang lain," ungkap Sofyan.

Lazimnya, lulusan-lulusan dayah cenderung membuka cabang atau mengajar di dayah tempat ia pernah nyantri. Nah... ini pun terjadi di Dayah Tarbiyatul Ula Punie. Banyak lulusan dayah ini membuka cabang di daerah lain. Di Provinsi Jambi, misalnya, di sana sudah ada dua dayah yang berdiri permanen. Di Aceh sendiri sudah tak terhitung jumlahnya.

Anda tertarik belajar di sini? Datang saja. Seperti Abu Sofyan dan Tgk Bukhari, penghuni Dayah Tarbiyatul Ula, Punie, pasti menyambut dengan ramah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar