Bilangan Ahli Jum’at

Telah terjadi perbedaan pendapat para ulama mengenai jumlah ahli jum’at yang menjadi persyaratan sahnya shalat jum’at. Menurut pengarang Kitab I’anah al-Thalibin, 1 terdapat empat belas pendapat mengenai jumlah ahli jum’at yang menjadi persyaratan shalat jum’at, yaitu :
1.Empat puluh orang termasuk imam, menurut pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafi’i. Pendapat ini juga merupakan pendapat Umar bin Abdul Aziz, riwayat lain dari Ahmad bin Hanbal dan Ishaq. 2
2.Satu orang, menurut hikayah Ibnu Hazmi
3.Dua orang, sama halnya dengan persyaratan jama’ah. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Nakh’i dan ahlu Zhahir
4.Tiga orang selain imam, menurut Abu Hanifah dan Sufyan al-Tsury
5.Dua orang selain imam, menurut Abu Yusuf, Muhammad dan al-Laits
6.Tujuh orang, menurut Ikramah
7.Sembilan orang, menurut Rabi’ah
8.Dua belas orang, menurut satu riwayat dari Rabi’ah dan menurut Malik
9.Dua belas orang selain iman, menurut Ishaq
10.Dua puluh orang, menurut riwayat Ibnu Habib dari Malik
11.Tiga puluh orang, juga menurut riwayat Ibnu Habib dari Malik
12.Lima puluh orang, menurut satu riwayat dari Ahmad dan Umar bin Abdul Aziz
13.Delapan puluh orang, menurut al-Maziry
14.Jama’ah yang banyak tanpa batasan tertentu

Dalam Umairah disebutkan, Abu Hanifah dan qaul qadim Syafi’i membolehkan shalat jum’at dengan satu imam dan dua makmum.3 Al-Bakri al-Damyathi dalam Taqrir I’anah al-Thalibin menjelaskan bahwa dalam qaul qadim Syafi’i ada qaul yang menyatakan sekurang-kurang ahli Jum’at adalah empat orang. Qaul ini dihikayah oleh pengarang Talkhis dan pengarang Syarah al-Muhazzab serta telah dipilih oleh al-Muzni dan ditarjih oleh Abu Bakar ibn Munzir. Al-Suyuthi juga memilih qaul ini, karena menurut beliau, qaul ini merupakan qaul Syafi’i yang didukung oleh dalil. Disamping itu, termasuk dalam qaul qadim adalah pendapat yang menyatakan ahli Ju’mat adalah dua belas orang.4

Adapun dalil-dalil penetapan ahli Jum’at, sekurang-kurangnya empat puluh orang, antara lain :

1.Hadits riwayat Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari bapaknya Ka’ab bin Malik,

أنه كان إذا سمع النداء يوم الجمعة ترحم على أسعد بن زرارة فقلت له إذا سمعت النداء ترحمت لأسعد قال لأنه أول من جمّع بنا في هزم النَبيتِ من حَرّة بني بَياضةَ في نَقيع يقال له نقيع الخَضِمات قلت له كم كنتم يومئذ قال أربعون

Artinya : Sesungguhnya Ka’ab bin Malik apabila mendengar azan pada hari Jum’at, mendo’akan rahmat untuk As’ad bin Zararah. Karena itu, aku bertanya kepadanya : “Apabila mendengar azan, mengapa engkau mendo’akan rahmat untuk As’ad ? Ka’ab bin Zararah menjawab : “As’ad adalah orang pertama yang mengumpulkan kami shalat Jum’at di sebuah perkebunan di Desa Hurah Bani Bayadhah pada sebuah lembah yang disebut dengan Naqi’ al-Khashimaat. Aku bertanya padanya : “Kalian berapa orang pada saat itu ?” Beliau menjawab : “Empat puluh orang.” (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Berkata Baihaqi : hadits hasan dengan isnad sahih) 5

Berkata Hakim : “Hadits ini shahih atas syarat Muslim.” 6

Jalan pendalilian dengan hadits ini dikatakan, Ijmak ulama keabsahan shalat Jum’at harus dengan memenuhi persyaratan bilangannya. Maka tidak sah shalat Jum’at kecuali dengan bilangan yang ditetapkan syara’(tauqif). Berdasarkan hadits di atas, Jum’at boleh dilakukan dengan bilangan empat puluh orang. Maka tidak boleh mendirikan Jum’at dengan bilangan yang kurang dari itu kecuali ada dalil yang menjelaskannya. Sedangkan hadits Rasulullah SAW menerangkan :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Artinya : Shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat.(H.R. Bukhari dan Baihaqi)7

Pendalilian seperti ini telah disebut oleh Ibnu Mulaqqan dalam Badrul Munir.8

Keterangan bahwa pada jum’at tidak boleh tidak dari bilangan jum’at, juga dikemukakan oleh al-Suyuthi.9 Jalan pendalilian lain disebut oleh al-Khithabi al-Busty, yaitu : Jum’at yang terjadi pada kisah hadits di atas merupakan Jum’at kali pertama dalam sejarah Islam. Oleh karena itu, semua keadaannya menjadi wajib pada Jum’at, karena hal itu merupakan penjelasan (bayan) atas mujmal yang wajib. Sedangkan bayan mujmal yang wajib adalah wajib. 10

2.Hadits dari Jabir, beliau berkata :

مضت السنة أن في كل أربعين فصاعدا جمعة
Artinya : Sudah berlaku sunnah bahwa pada setiap empat puluh orang dan selebihnya boleh dilaksanakan shalat Jum’at.(H.R. al-Darulquthni) 11

Hadits ini juga diriwayat oleh Baihaqi. 12

3.Hadits dari Abu al-Darda’, beliau berkata :
ان رسول الله صلعم قال إذا اجتمع أربعون رجلا فعليهم الجمعة
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Apabila berkumpul empat puluh orang laki-laki, maka wajib atasnya shalat Jum’at.” 13

4. Hadits dari Abu Umamah, beliau berkata :

أن النبي صلعم قال لا جمعة الا باربعين
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda : “Tidak ada Jum’at kecuali dengan empat puluh orang.” 14

5. Hadits Ibnu Mas’ud, beliau berkata :
جمعنا رسول الله صلعم نحن أربعون رجلا
Artinya : Kami shalat Jum’at bersama Rasulullah SAW, kami waktu itu empat puluh orang (H.R. Baihaqi)15

6. Al-Raqi mengatakan :
أتانا كتاب عمر بن عبد العزيز إذا بلغ أهل القرية أربعين رجلا فليجمعوا
Artinya : Datang kepada kami surat dari Umar bin Abd al-Aziz, “Apabila penduduk suatu kampung sampai empat puluh orang laki-laki, maka hendaklah melakukan jum’at.” (H.R. Baihaqi) 16

Berikut ini beberapa hadits mengenai bilangan Jum’at yang digunakan untuk menolak pendapat bahwa bilangan Jum’at haruslah empat puluh orang dengan disertai penjelasan kualitas hadits tersebut, antara lain :
1. Hadits Nabi SAW :
على خمسين جمعة ليس فيما دون ذلك
Artinya : Kewajiban Jum’at atas lima puluh orang, tidak dibawah itu.(H.R. Baihaqi dan Darulquthni) 17

Berkata al-Baihaqi : “Hadits ini tidak sah isnadnya.” 18

2.Hadits riwayat Ummul Abdullah al-Dausiyah, berkata :

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الجمعة واجبة على كل قرية وإن لم يكن فيها إلا أربعة
Artinya : Rasulllah SAW bersabda ; “Jum’at wajib atas setiap kampung, meskipun tidak ada pada perkampungan itu kecuali empat orang.”(H.R. Darulquthni)

Hadits ini diriwayat oleh Mu’awiyah bin Sa’id al-Tajibi dari al-Zahry dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Darulquthni mengatakan : “Tidak sah ini dari al-Zahri.” 19
Dalam mensyarah hadits di atas, Abady Abu al-Thaib mengatakan :
“Hadits ini dikeluarkan oleh Darulquthni dalam tiga jalur, (maksudnya, ini yang pertama dan setelah ini adalah dua dan tiga) semuanya dha’if,” 20

3. Dalam riwayat lain, Ummul Abdullah al-Dausiyah mengatakan :
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الجمعة واجبة على كل قرية فيها إمام وإن لم يكونوا إلا أربعة
Artinya : Berrsabda Rasulullah SAW : “Jum’at wajib atas setiap perkampungan yang ada imam, meskipun tidak ada pada perkampungan itu kecuali empat orang.” (H.R.Darulquthni)

Hadits ini diriwayat oleh Walid bin Muhammad dari al-Zahri dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Darulquthni mengatakan :
“Walid bin Muhammad al-Muqiri matruk (ditinggalkan). Tidak sah ini dari al-Zahri dan setiap orang yang meriwayat darinya adalah matruk (ditinggalkan).”21

4. Dalam riwayat lain lagi, Ummul Abdullah al-Dausiyah mengatakan :
سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول الجمعة واجبة على أهل كل قرية وإن لم يكونوا إلا ثلاثة رابعهم إمامهم
Artinya : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Jum’at wajib atas penduduk setiap perkampungan, meskipun tidak ada mereka kecuali tiga orang, dimana yang keempat dari mereka adalah imam.”(H.R. Darulquthni)

Hadits ini diriwayat al-Hukm bin Abdullah bin Sa’ad dari al-Zahri dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Setelah meriwayat hadits ini, Darulquthni mengatakan :
“Al-Zuhri tidak sah mendengar dari al-Dausiyah.” 22

DAFTAR PUSTAKA
1.Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, SEmarang, Juz. II, Hal. 57. Lihat juga al-Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi , Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 66
2.Al-Khithabi al-Busty, al-Ma’alim al-Sunan, al-Mathba’ah al-Ilmiyah, Juz. I, Hal. 245
3.Umairah, Hasyiah Qalyubi wa ‘Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 274
4.Al-Bakri al-Damyathi, Taqrir I’anah al-Thalibin, dicetak pada hamiys I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. II, Hal. 58-59
5.Ibnu Mulaqqan, Tuhfah al-Muhtaj ila adallah al-Minhaj, Juz. I, Hal. 494. Lihat juga Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 177, No. Hadits : 5396
6.Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 600
7.Baihaqi, Sunan Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 345, No. Hadits : 3672
8.Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 600
9.Al-Suyurhi, al-Hawi lil-Fatawi, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 66
10.Al-Khithabi al-Busty, al-Ma’alim al-Sunan, al-Mathba’ah al-Ilmiyah, Juz. I, Hal. 245
11.Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiah, Mesir, Hal. 106
12.Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 177, No. Hadits : 5397
13.Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 595-596
14.Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
15.Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 598
16.Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 178
17.Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
18.Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
19.Darulquthni, Sunan Darulquthni, Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 7
20.Abady Abu al-Thaib, ‘Aun al-Ma’bud, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 995
21.Darulquthni, Sunan Darulquthni, Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 8
22.Darulquthni, Sunan Darulquthni, Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar