Asap dan bau najis, apakah bernajis ?

Untuk Menjawab masalah di atas, mari kita simak pernyataan Imam ar-Ramli yang ditanyai, apakah wajib membasuh tujuh kali beserta tanah dalam menghilangkan bau kemenyan yang ditaruh tahi, seperti tahi anjing atau tidak wajib sebagaimana tidak wajib yang demikian dalam mensucikan faraj dengan sebab keluar sesuatu najis mughakadhah ?. Beliau menjawab :

“Tidak bernajis sesuatu yang mengenai bau kemenyan itu, meskipun disertai basah-basah, karena asap najis tidak terangkat bersamanya sesuatu dari najis, sebagaimana kalau seseorang berhadats dengan keluar angin (kentut), sedangkan tempat hadats (sekitar anus/daerah buang air besar) basah, maka tidak bernajis dan tidak wajib istinja’ menurut pendapat yang lebih sahih”.1

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa asap dan bau najis adalah tidak najis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Imam ar-Ramli, Fatawa Imam ar-Ramli, dicetak pada hamisy Fatawa al-Kubra al-Fiqhiah, Darul Fikri, Beirut, Juz.I, Hal.68

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar