Anak Markaz al-Ishlah al-Aziziyah

GEDUNG berlantai dua ini tampak mencolok di tengah-tengah pemukiman warga, di kawasan Leung Bata, Banda Aceh. Dinding dan tiangnya dari beton. Halaman dilapisi konblok. Di ujung halaman membentang danau buatan yang hitam airnya. Alang-alang dan semak tumbuh liar di sisi-sisi danau itu dan di seberangnya berdiri bangunan lain yang kokoh dan megah.

"Dulu saya tidak ada botak ini. Nah, sekarang botak. Banyak sekali yang dipikirkan. Tanggung jawab berat," kata Teungku Bulqaini Tanjung.
Ia membuka peci, lalu mengusap-usap kepalanya yang mulai botak. Ia kemudian berpamitan untuk shalat ashar bersama istrinya dan menyilakan saya menemui anak-anak asuhnya.

Salah satu pintu terbuka lebar, sehingga ranjang kayu susun di dalam kamar itu terlihat jelas, putih warna catnya. Seorang anak perempuan berjilbab biru bersandar di tiang, di muka kamar. Ia mencium tangan saya. Namanya, Intan. Semula ia enggan bicara, tapi kemudian tersipu-sipu menjawab pertanyaan. Ia berbagi kamar dengan tiga teman. Usianya 11 tahun. Tak berapa lama tiga anak perempuan datang mendekati kami. Salah seorang menyebut namanya, "Maulidar." Tubuhnya lebih tinggi dibanding yang lain. Ia kemudian tak berkata apa-apa lagi, meski tetap menyimak pembicaraan.

Intan menyebut salah seorang temannya malas membersihkan kamar, sedang yang dituduh langsung cemberut.

Asmaul Husna bercerita bahwa ia baru empat bulan tinggal di sini.

"Ayah tiri sering berkata kasar. Ayah kandung saya dibunuh tentara. Saya dibawa oleh tetangga ke sini. Belum tahu apakah Lebaran akan pulang. Kalau teringat, ya sedih," katanya.

Ia mengatakan bahwa saya boleh menginap di kamar mereka. "Tapi keadaannya begini," katanya.

"Ada satu tempat tidur lagi di balik situ," lanjutnya.

Kini 15 anak, laki-laki maupun perempuan telah mengelilingi saya. Salah seorang di antara mereka memiliki sepasang mata dengan bulu-bulu yang lentik. Ia selalu tersenyum tiap tatapan saya terarah kepadanya. Namanya, Zia Ul Haq. Nama salah seorang perdana menteri Pakistan, Jenderal Zia Ul Haq.

Setelah menggulingkan Zulfikar Ali Bhutto pada 1978, Zia Ul Haq mengangkat dirinya jadi perdana menteri. Ia juga meng-hukum gantung Bhutto dan para pengikutnya. Ia kemudian tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat pada 1988, yang menandai akhir kekuasaannya.

"Zia, apakah ayah dan ibu pernah cerita mengapa Zia diberi nama ini?" tanya saya.

Ia menggeleng sambil tersenyum. Zia baru 3,5 bulan tinggal di sini. Usianya sembilan tahun. Ia belajar di sekolah dasar, kelas empat. Asalnya dari desa Lumputu, Pidie.

"Ke sini diantar Ayah. Kakak juga ada di sini. Senang tinggal di sini, karena ramai teman. Kadang ada yang ganggu juga. Tapi senang," katanya, pelan.
Zia suka membaca buku, terutama dongeng dan risalah Nabi.

"Apa cita-cita Zia?" tanya saya.

Beberapa anak perempuan berbisik di telinganya, tapi masih bisa saya dengar, "Polisi… polisi…."

Tapi Zia kemudian menjawab, "Jadi teuntra (tentara), karena Mamak dibunuh GAM (Gerakan Aceh Merdeka)."

Anak-anak itu ada yang terdiam, ada pula yang senyum-senyum mendengar jawabannya. Sekejap kemudian, mereka mulai riuh-rendah minta dipotret di halaman. Masing-masing ingin berpose sendirian, selain beramai-ramai. Tak ada lagi yang malu-malu. Zia sengaja menjulurkan lidahnya. Intan menekan telunjuknya di pipi. Maulidar yang sejak tadi membisu, langsung bergaya di depan kamera. Setelah itu semua berebut memeriksa gambar hasil bidikan saya. Tapi gerimis mulai turun. Kerumunan ini pun kocar-kacir.

"Potensi konflik di Aceh sangat besar, dendam masih ada. Saya termasuk orang yang belum sujud syukur karena MoU Helsinki. Untuk memutus mata rantai konflik, merawat anak-anak yatim ini penting. Mereka yang masih kecil, masih kelas empat SD (sekolah dasar), masih bisa dibina kepribadiannya, seperti tidak mendendam. Tapi kalau udah dewasa sulit," kata Bulqaini, setelah menunaikan shalatnya.

Ia kini duduk bersila di teras rumah panggungnya yang belum rampung dibangun, yang terletak tepat di muka asrama anak perempuan. Sesekali ia menengok ke halaman. Gerimis terus turun. Ia mengenakan kemeja lengan pendek, berkain sarung. Perawakannya sedang, kulit sawo matang seperti kebanyakan orang Aceh.

Ia mendirikan dayah Markaz al-Ishlah al-Aziziyah pada 2001. Bangunan yang sekarang berfungsi sebagai asrama untuk anak perempuan itu dibangunnya pada tahun 2002, sedang asrama anak laki-laki di seberang danau sana merupakan hibah tsunami dari Departemen Luar Negeri pada 2006. Masing-masing asrama punya 16 kamar. Satu kamar dihuni dua atau empat anak. Ada 80 anak laki-laki dan 50 anak perempuan yang tinggal di sini. Pendidikan mereka ditanggung Bulqaini, dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas.

Bagaimana ia bisa menghilangkan dendam di hati anak-anak asuhnya?

"Saya katakan itu takdir. Kenapa orang tua dibunuh? Lebih baik dibunuh orang. Dosa yang dibunuh ditanggung yang membunuh," katanya.

Selain itu, ia membutuhkan psikolog yang rutin membantunya menangani trauma anak-anak. Tapi ia tak punya uang untuk membayar mereka.

Di halaman, beberapa anak perempuan hilir-mudik membawa piring dan panci.

"Itu Maulidar, ayahnya dibunuh TNI. Ayahnya GAM. Dia pernah dibawa tentara untuk mencari ayahnya, tapi tidak dapat. Meski setelah itu ayahnya meninggal juga ditembak," kata Bulqaini, seraya melayangkan pandangannya ke halaman.

"Maulidar itu kuat sekali. Mengangkat karung beras, cuma sebelah tangan." Ia tertawa.

Dulu Bulqaini ikut GAM, ikut perang, ikut pegang senjata. Tapi sebuah peristiwa mengubah hidupnya.

Suatu hari ia membeli sebuah tabloid mingguan di Banda Aceh, tak berapa lama setelah status Daerah Operasi Militer berakhir. Di halaman muka tabloid itu terpampang wajah Letnan Jenderal Prabowo Subianto, yang menjabat komandan Komando Pasukan Khusus waktu itu.

Dari Banda Aceh, Bulqaini sengaja pergi ke Seulimeum untuk mengunjungi gurunya yang mengurus dayah khusus anak-anak yatim. Iseng-iseng ia menunjukkan tabloid tadi kepada anak-anak itu. Serentak anak-anak berkomentar, "Itu gambar kafir, pembunuh orang tua kami."

Bulqaini tercenung lama. Ia jadi teringat film India yang pernah ditontonnya.

"Amitha Bacan dalam film itu memotivasi saya karena dia bilang, api dendam tak bisa dipadamkan, kecuali oleh si pendendam itu sendiri," katanya.

Amitha Bacan adalah bintang film India terkenal.

"Untuk memadamkan api dendam ada dua jalan, pertama dengan agama dan kedua dengan kesejahteraan. Dari situlah saya tergerak merekrut anak korban konflik, korban TNI (Tentara Nasional Indonesia) maupun GAM."

Menurut data yang dimiliki kantor wilayah Departemen Agama Aceh, ada 879 dayah di seluruh Aceh. Namun, dayah Markaz al-Ishlah al-Aziziyah merupakan satu-satunya dayah khusus untuk anak-anak korban konflik.

Sumbangan tetap untuk kebutuhan anak-anak hanya diperoleh Bulqaini dari Perusahaan Terbatas Perkebunan Langsa, sebesar Rp 5 juta tiap bulan. Jumlah itu tentu tak mencukupi.

"Tapi sedekah orang buat anak-anak selalu ada," lanjutnya, lagi.

Ia juga berkhayal bisa membeli sebidang tanah yang telah jadi danau tersebut agar bisa beternak ikan. Hasilnya untuk membiayai kebutuhan dayah.
Dari rumah panggung ini, saya melihat pintu kamar Intan telah ditutup. Gerimis sudah jadi hujan. Bulqaini bercerita bahwa sekarang anak-anak mulai banyak yang menginjak masa pubertas.

"Bahaya ini anak-anak. Tapi untung ada danau itu yang jadi penghalang juga," katanya, tertawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar