Abuya Mudawali Al-Khalidi - Bag III


Tetapi beberapa saat setelah mengajar beliau kembali jatuh sakit. Ketekunan dan kedisiplinan beliau dalam mendidik muridnya telah membuahkan hasil yang luar biasa,sehingga dari beliau lahirlah puluhan ulama ulama yang menjadi benteng Ahlussunnah di Aceh dan sekitarnya Hampir seluruh pesantren di Aceh sekarang ini mempunyai pertalian keilmuan dengan beliau dan dari murid murid beliau lahir pulalah ulama ulama terpandang dalam masyarakat.Dengan adanya perjuangan beliau perkembangan faham wahabi dan ide pembaruan terhadap ajaran islam yang telah menjalar ke sebagian tokoh tokoh di Aceh dapat ditekan Beliau sangat istiqamah dengan faham Ahlussunnah dan Mazhab Syafi'i Diantara murid murid beliau adalah :

Al Marhum Tgk. H.Abdullah Hanafiah Tanoh Mirah,pimpinan Dayah darul Ulum, Tanoh Mirah, Bireun.
Al Marhum Tgk.Abdul Aziz bin Shaleh,pimpinan pesantren MUDI MESRA(Ma`hadal Ulum Diniyah Islamiyah) Samalanga, Bireun.
Al Marhum Tgk. Muhammad Amin Arbiy.Tanjongan,Samalanga,Bireun.
Tgk. H. Muhammad Amin Blang Bladeh (Abu Tumin) Pimpinan Pesantren Al Madinatut Diniyah Babussalam, Blang Bladeh Bireun.
Teungku H. Daud Zamzamy. Aceh Besar.
Al Marhum Tgk. Syekh Syihabuddin Syah (Abu Keumala) Pimpinan Pesantren Safinatussalamah, Medan.
Teungku Adnan Mahmud Pendiri Pesantren Ashabul Yamin Bakongan Aceh Selatan.
Al Marhum Tgk. Syekh Marhaban Krueng Kalee (putra Syekh Hasan Krueng kale) mantan menteri muda era Sukarno.
Al Marhum Tgk. Muhammad Isa, Peudada
Al Marhum Tgk. Ja`far Shiddiq Kuta Cane
Al Marhum Tgk. Abu Bakar Sabil, Meulaboh Aceh Barat
Al Marhum Tgk. Usman Fauzi. Cot Iri, Aceh Besar.
Syekh. Prof. Muhibbuddin Waly (putra beliau sendiri yang paling tua)
Al Marhum Syekh Jailani
Al Marhum Syekh Labai Sati, Padang Panjang
Al Marhum Tgk. Qamaruddin, Teunom. Aceh Barat
Tgk. Syekh Jamaluddin Teupin Punti, Lhok sukon,Aceh utara
Tgk. Syekh Ahmad Blang Nibong Aceh Utara
Tgk. Syekh Abbas Parembeu, Aceh Barat
Tgk. Syekh Muhahammad Daud, Gayo
Tgk. Syekh Ahmad, Lam Lawi, Aceh Pidie
Tgk. Muhammad Daud Zamzami, Aceh Basar.
Tuanku Idrus, Batu Basurek, Bangkinang
Al Marhum Tgk.Syekh Amin Umar, Panton labu
Syekh Nawawi Harahap, Tapanuli
Al Marhum Tgk. Syekh Usman Basyah, Langsa
Tgk. Syekh Karimuddin, Alue Bilie, Aceh Utara
Tgk. Syekh Basyah Kamal Lhoung, Aceh Barat
Dan masih banyak yang lainnya.
Selain meninggalkan murid,beliau juga meninggalkan beberapa tulisan diantaranya :

Al-Fatwa, Sebuah kitab dalam bahasa indonesia dengan tulisan arab, berisi kumpulan fatwa beliau mengenai berbagai macam permasalahan agama.
Tanwirul Anwar, berisi masalah masalah aqidah.
Risalah adab Zikir Ismuz Zat
Permata Intan, sebuah risalah singkat berbentuk soal - jawab mengenai masalah i`tidaq.
Intan Permata, risalah singkat berisi masalah tauhid.
Dalam risalah yang terakhir (Intan Permata) beliau memberi keputusan tentang perdebatan Syekh Ahmad Khatib dengan Syekh Sa`ad Mungka,beliau menyebutkan:
“Ketahuilah hai segala ummat Ahlissunnah waljamah,bahwasanya karangan yang mulia Syekh Ahmad al Khatib yang bernama:Izhar Zighlil-Kazibin,tentang membantah Rabithah dan Thariqat naqsyabandiyah itu adalah silap dan salah paham dari Syekh yang mulia itu,karena beliau itu telah ditolak oleh yang mulia Syekh Sa`ad Mungka Payakumbuh(Sumatra Tengah)dengan kitabnya Irghamu Unufil Muta`annitin.Kemudian kitab ini dijawab pula oleh yang mulia Syekh Ahmad al khatib dengan kitabnya as Saiful Battar.Kitab ini pun ditolak oleh yang mulia Syekh As`ad Mungka dengan kitabnya yang bernama Tanbihul `Awam.Pada akhirnya patahlah kalam Tuan Syekh Ahmad al-Khatib .karena itu maka hamba yang faqir ini,Syekh Muhammad waly al Khalidy sebabnya mengambil Thariqat Naqsyabandiyah adalah setelah muthala`ah pada karangan karangan Syekh Ahmad Khathib dan karangan karangan Syekh Sa`ad Mungka dimana antara karangan kedua-dua orang ulama itu sifatnya soal jawab dan debat-berdebat.perlu diketahui bahwa Tuan Syekh Ahmad Khatib itu murid Sayyid syekh Bakrie bin sayyid Muhammad Syatha.Sedangkan Tuan Syekh As`ad Mungkar murid Mufti Az Zawawy,gurunya Syekh Usman Betawi yang masyhur itu.Maka muncullah kebenaran ditangan Tuan Syekh Sa`ad Mungka apalagi saya telah melihat pula kitab as Saiful Maslul karangan ulama Madinah selaku menolak kitab Izhar Zighlil Kazibin.Oleh sebab itu bagi murid muridku yang melihat karanagn syekh Ahmad Khatib itu janganlah terkejut,karena karangan beliau itu ibarat harimau yang telah dipancung kepalanya.”
Syekh Muda Waly bukan hanya berperan dalam menyebarkan ilmu agama saja.Tapi beliau memiliki andil yang besar dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Republik Indonesia.Dalam mempertahankan proklamasi 17 agustus 1945 para ulama Aceh tampil kedepan dengan mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah dan mendirikan barisan barisan perjuangan.Pada tanggal 18 Zulqa`dah 1364 Teung Syekh Hasan Krueng Kalee mengeluarkan fatwa dengan menyatakan bahwa perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dan berperang menetang musuh musuh Allah adalah suatu kewajiban dan apabila mati dalam peperangan itu akan mendapat pahala syahid .Disamping itu juga diterangkan pula hendaklah ummat islam mengorbankan jiwa dan harta untuk menolong agama Allah dan menolong negara yang sah.fatwa itu dusebarkan luas keseluruh Aceh melalui pemuda pemuda Aceh yang tergabung dalam Barisan Pemuda Indonesia yang kemudian menjadi Pemuda republic Indonesia.
Berdasarkan itu Syekh Muda Waly di Labuhan Haji memperkuat fatwa tersebut melalui pengajian pengajian dan ceramah ceramah umum.bahkan beliau menjabat sebagai pimpinan tertinggi dalam bariasabn Hizbullah,meskipun dalam pelaksanaannya banyak diserahkan kepada keponakannya yang juga merupakan seorang ulama muda yang kemudian menjadi menantu beliau.Di samping itu PERTI yang dipimpin oleh Nya` Diwan telah membawa satu barisan perjuanagan dari Sumatra barat yang disebut Lasymi(Laskar Muslimin Indonesia).Antara kedua laskar ini saling mengisi demi memperjuangkan Ahlussunnah dan mempertahankan kedaulatan Negara dari tangan penjajah.

Peristiwa berdarah di Aceh

Dalam mempertahankan keutuhan negara Indonesia beliau juga memiliki peran ynag sangat penting.Pada tanggal 13 Muharram 1373 /21 september 1953 meletuslah peristwa berdarah di Aceh yaitu peristiwa DI/TII yang dipimpin oleh Tgk.Muhammad Daud Bereueh,mantan gubernur militer Aceh Langkat dan Tanah Karo dan mantan gubernur Aceh dan merupakan salah seorang pemimpin utama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh).Beliau memang tidak bergabung dalam PUSA karena sebagian besar ulama ynag bergabung dalam PUSA telah terpengaruh dengan ide pembaruan dalam Islam dari Minangkabau.

Dalam hal ini para ulama besar di Aceh yang terdiri dari Kaum Tua antara lain Syekh Muda waly,Syekh Hasan Krueng Kalee,Teungku Abdul Salam Meuraksa,Teungku Saleh Mesigit Raya dan ulama lainnya tidak mendukung gerakan ini,karena mereka mengetahui bahwa latar belakang kejadian ini bukanlah hal hal yang dikaitkan dengan agama tetapi hanyalah hal hal yang dikaitkan denagn dunia semata.oleh karena itu para ulama terszebut mengeluarkan fatwa mengutuk pemberontakan tersebut atas nama para ulama ulama tersebut.tetapi karena semua ulama tersebut berada dalam PERTI maka penonjolannya lebih terlihat atas nama PERTI.Teungku Syekh Muda Waly pada tanggal 18 November 1959 dalam suatu rapat umum di Labuhan Haji mengharamkan pemberontakan tersebut,dan beliau menyatakan siap memberi bantuan menurut kesanggupan beliau.para ulama ulama tersebut sangat menyayangkan kenapa faktor faktor pemberontakan tersebut tidak di musyawarahkan terlebih dahulu dengan para ulama- ulama besar di Aceh.Sehingga segala permasalahan dapat diselesaikan tanpa harus melalui peristiwa berdarah.Karena jasa beliau itu, beliau pernah diundang oleh Presiden Sukarno ke istana Bogor pada tahun 1957untuk menghadiri Konferensi Ulama Indonesia untuk memutuskan kedudukan Presiden Sukarno menurut Islam.dalam konferensi tersebut beliau para ulama dari seluruh Indonesia sepakat menyatakan bahwa presiden Sukarno itu presiden yang sah dengan prediket Wali al amri al Dharury bi al syaukah.

Setelah berjuang demi tegaknya agama ini,akhirnya Syekh Muda Waly kembali kehadapan Allah padsa tanggal 11 syawal 1381/20 maret 1961 tepat pukul 15.30 WIB hari selasa.Jenazah beliau di shalatkan oleh ulama dan murid murid beliau serta masyarakat yang terjangkau kehadirannya ke Dayah Labuhan Haji,karena pada zaman itu kendaraan umum masih sangat minim di Aceh selatan. Beliau dimakamkan dalam komplek Dayah Labuhan Haji yang beliau pimpin.Selanjutnya kepemimpinan Pesantren tersebut dilanjutkan oleh putra putra beliau secara bergantian antara lain Syekh Muhibbuddin Waly, Syekh Jamaluddin Waly,Syekh Mawardi Waly,Syekh Nasir Waly,Syekh Ruslan Waly dan putra putra beliau lainnya.Hal ini karena hampir semua putra beliau menjadi ulama ulama terkemuka.Beliau bukan hanya berhasil dalam mendidik murid muridnya tetapi juga berhasil mendidik putra putranya menjadi ulama ulama yang gigih mempertahankan faham Ahlussunnah wal jamaah.Keberhasilan beliau dapat terlihat dengan jelas,dimana sekarang ini hampir semua pesantren tradisional di Aceh mempunyai silsilah keilmuan dengan beliau. Coba kita lihat beberapa pesantren di Aceh saat ini antara lain:

Pesantren LPI MUDI MESRA, Samalanga dipimpin oleh Teungku H.Hasanoel Basry (Abu Mudi) murid dari Syekh Abdul Aziz (murid Syekh Muda Waly, pimpinan MUDI MESRA sebelumnya)
Pesantren Al Madinatud Diniyah Babusslam Blang Bladeh,Bireun dipimpin oleh Syekh H.Muhammad Amin Blang Bladeh (murid Syekh Muda Waly)
Pesantren Malikussaleh Panton Labu Aceh utara, dipimpin oleh Syekh H.Ibrahim Bardan (murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
Pesantren Darul Huda Lhueng Angen, Lhok Nibong, Aceh Utara, dipimpin oleh Syekh Abu Daud (murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
Pesantren Darul Munawwarah ,Kuta Krueng, Bandar Dua.Pidie Jaya. dipimpin oleh TGK. H. Usman Kuta Krueng (murid Syekh Abdul Aziz, Samalanga)
Pesantren Darul Ulum,Tanoh Mirah. Bireun.dipimpin oleh TGK.Muhammad Wali, putra Syekh Abdullah Hanafiah, (murid Syekh Muda waly dan pimpinan pesantren tersebut sebelumnya)
Pesantren Raudhatul Ma`arif Cot Trueng Aceh Utara, dipimpin oleh TGK.H.Muhammad Amin (murid Syekh Abdul Aziz,Samalanga)
Pesantren Darul Huda, Paloh gadeng Aceh utara. dipimpin oleh Syekh Mustafa Ahmad (Abu Mustafa Puteh, murid Syekh Muhammad Amin Blang Bladeh)
Pesantren Ashhabul Yamin, Bakongan, Aceh Selatan, dipimpin oleh Syekh Marhaban Adnan (murid Syekh Abdul Aziz, Samalanga, putra Syekh Adnan Mahmud Bakongan )
Pesantren Ruhul Fata, Seulimum, Aceh Besar, dipimpin oleh TGK. H. Mukhtar Luthfy (murid Syekh Abdul Aziz, Samalanga)
Pesantren Serambi Makkah, Meulaboh, Aceh Barat. dipimpin oleh Syekh Muhammad Nasir Lc (murid Syekh Abdul Aziz, Samalanga putra Abuya Syekh Muda waly)
Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI )Lamno, Aceh Jaya.dipimpin oleh Tgk. H. Asnawi Ramli, sebelumnya dipimpin oleh Tgk.Syekh Ibrahim Lamno (murid Syekh Abdul `Aziz Samalanga)
Yayasan Dayah Ulee Titi, Ulee Titi, Aceh Besar, dipimpin oleh Tgk. Syekh `Athaillah (murid Syekh Ibrahim Lamno)
Kesemua Pesantren tersebut dan beberapa pesantren lainnya mempunyai pertalian keilmuan dengan Syekh Muda Waly. Demikianlah manaqib singkat Syekh Muda Waly yang lebih populer dalam masyarakat Aceh dengan sebutan Abuya Muda Waly,seorang ulama yang sangat berperan dalam mempertahankan Faham Ahlussunnah dan mazhab Syafii di bumi Aceh. Seorang Ulama besar yang bisa dikatakan sebagai Mujaddid untuk Aceh dan sekitarnya. Semoga Allah menempatkan beliau disisinya yang tinggi. Dan semoga Allah melahirkan Syekh Muda Waly lainnya untuk Aceh ini khususnya dan untuk ummat islam lainnya.

Di ambil dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar