Abdul Mutholib dan Perang Gajah

Di antara kejadian besar yang terjadi menjelang kelahiran Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah perang gajah yang terjadi pada tahun 571 M. Dikisahkan ada seorang gubernur kerajaan Habasyah (Ethiopia) di Yaman bernama Abrahah bin Al Shobaah melihat orang-orang Arab bersiap-siap di musim haji berangkat ke Mekkah. Lalu ia membangun sebuah gereja besar di kota Shan’a yang diberi nama Al Qalies dengan tujuan ingin memindahkan haji bangsa Arab. Ia menulis surat kepada raja Najasyi yang berisi, “Sungguh saya telah membangun untukmu sebuah gereja yang belum ada tandingannya dan saya tidak berhenti sampai saya memalingkan haji bangsa Arab.” Abrahah bersumpah akan menghancurkan Ka’bah dan memberitahu raja Najasyi tentang hal itu, lalu raja Najasyi menghadiahkan seekor gajah besar bernama Mahmuud. Kemudian ia berangkat dengan pasukannya ke Mekkah dan hal ini didengar bangsa Arab.


Setelah mendengar berita keberangkatan Abrahah menghancurkan Ka’bah, maka keluarlah Dzu Nafar salah seorang kepala kabilah Arab bersama kaumnya melawan Abrahah, namun kalah dan ia pun ditawan. Sesampainya Abrahah di daerah Khots’am disambut dengan perlawanan Nufail bin Habieb Al Khots’amy dan bangsa Arab yang ada di sana. Namun mereka pun kalah dan Nufail pun ditawan.

Ketika melewati daerah Thoif, Abrahah ditemui Mas’ud bin Mu’tib bersama beberapa tokoh kabilah Tsaqif dan Mas’ud berkata: “Wahai Abrahah, Kami tunduk kepadamu dan kami mengutus Abu Righal menjadi penunjuk jalanmu.” Lalu Abrahah berangkat kembali menuju Mekkah dengan penunjuk jalan Abu Righol. Sesampainya di Al Mughammas (daerah dekat Makkah di jalan Thoif) Abu Righol mati. Lalu Abrahah mengirim Seorang Habasyi bernama Al Aswad bin Maqshud bersama pasukan berkudanya lalu mengambil ternak orang Mekkah di daerah Al Araak, di antaranya 200 ekor unta milik Abdul Mutholib. Kemudian Abrahah mengutus Hanathoh Al Himyaary kepada ahli Mekkah untuk bertemu dengan pemukanya dan menyatakan bahwa Abrahah hanya ingin menghancurkan Ka’bah kecuali bila mereka melawan maka ia akan menghancurkan mereka. Maka berjumpalah Hanathoh tersebut dengan Abdul Mutholib, dan berkata Abdul Mutholib: “Kami tidak punya kekuatan, kami akan membiarkan Ka’bah dan apa yang akan terjadi, karena ia adalah Rumah Alloh dan rumah kekasih-Nya Ibrohim. Jika Allah melindunginya maka ia adalah rumah-Nya dan bila membiarkannya maka kami tidak punya kekuatan untuk mencegahnya.” Lalu Abdul Mutholib mendatangi Abrahah dengan perantara Anies pawang gajah Abrahah.

Bertemulah Abdul Mutholib dengan Abrahah dan meminta kembali unta-untanya, maka Abrahah berkata melalui penerjemahnya: “Saya tadinya sangat mengagumimu dan sekarang tidak lagi.” Abdul Mutholib Tanya: “mengapa?” Ia menjawab, “Saya datang ke rumah yang menjadi agamamu dan agama kakek moyangmu untuk menghancurkannya, lalu kamu tidak bicarakan hal itu sama sekali, malahan kamu hanya membicarakan 200 ekor untamu saja.”

Maka Abdul Mutholb berkata: “Saya pemilik unta tersebut dan Ka’bah punya pemilik yang akan melindunginya darimu.” Abrahah berkata: “Tidak mungkin mencegahku.” Abdul Mutholib menjawab: “Terserah kamu.”

Lalu Abrahah menyerahkan untanya dan ia pun pulang dan memerintahkan penduduk Mekkah untuk mengungsi di gunung dan lembah-lembah khawatir terkena akibat peperangan tersebut.

Lalu Abrahah pun bersiap-siap masuk Mekkah dan menunggangi gajahnya dengan berdiri. Ketika ia menggerakkan gajahnya, maka gajahnya berhenti hampir tersungkur di tanah dan menderum, lalu ia pukul kepala gajah tersebut untuk maju dan ia enggan maju dan ketika dihadapkan ke arah lain, gajah tersebut berlari. Kemudian diarahkan lagi ke Mekkah dan ia berhenti lagi. Kemudian Alloh kirim burung Ababiel dari arah laut, setiap burung membawa tiga batu, satu di paruhnya dan dua di kakinya dan melemparkannya kepada pasukan gajah tersebut. Tidak ada seorang pun yang terkena kecuali binasa. Maka porak porandalah pasukan Abrahah dan Abrahah lari terbirit-birit ke Yaman dalam keadaan sakit berat sampai di kota Shan’a kemudian binasa. (Diringkas dari Mukhtashor Siroh Al Rosul karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Taimi An Najdi hal. 37-40 dan As Siroh An Nabawiyah. Dirosah Tahliliyah karya DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faaris hal. 107-112). Kisah ini disampaikan dan diabadikan Alloh dalam firman-Nya:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan ka’bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fiil: 1-5)Dari kisah ini dapat diambil beberapa hal penting:

Kedudukan Ka’bah yang tinggi.
Hasad orang Nasrani kepada Ka’bah.
Kesucian Ka’bah bukan pada keindahan bangunan tapi pada keagungan dan pengagungan Ka’bah.
Alloh akan merendahkan orang yang menghina dan merendahkan Ka’bah.
Musyrikin Quraisy beriman kepada Alloh dan kekuasaan-Nya namun mereka berbuat syirik sehingga menjadi kafir.
Iman mereka inilah yang Allah firmankan,
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)
Kekuatan dan kebesaran orang kafir tidak akan mampu melawan kekuasaan dan kebesaran Alloh.
Alloh tidak memperkenankan Abrahah dan yang lainnya menghancurkan Ka’bah dan melenyapkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar